• News

  • Sisi Lain

Warga di Bogor Dikabarkan Alami Demam Misterius, Teror Syaiton? (Part 2)

Salah satu sudut perumahan tempat tinggal Rico, di Bojonggede, Kabupaten Bogor
Netralnews/Taat Ujianto
Salah satu sudut perumahan tempat tinggal Rico, di Bojonggede, Kabupaten Bogor

BOGOR, NETRALNEWS.COM – Rico (42) mendadak merasakan perutnya mual dan kakinya gemetar. Lelaki berdarah Jawa dengan nama asli Hari Koriansyah itu memegang android sambil membaca pesan WA dari orang yang tak asing lagi, yakni Pak Kumis.

Dalam pesan berbahasa Jawa tersebut, seseorang menanyakan dirinya sedang ada di mana. Rico menanggapinya. Ia memang sedang ada di rumah. Rupanya, pesan itu berasal dari warga RT 04, (Bojonggede, Kabupaten Bogor) yang bernama Pak Kumis (samaran). Ia menyampaikan komplain yang sama dengan apa yang disampaikan Pak RT.

Ia keberatan dengan cerita yang diunggah di akun medsosnya. Menurut Pak Kumis, akibat tulisan itu, ada roh jahat mengganggu warga RT 04. Rico merasa tergagap. Ia tak ada niat sedikitpun bahwa tulisannya berdampak pada hal-hal yang berbau supranatural.

Tulisan itu sebenarnya sudah dihapus. Namun Pak Kumis menyebutkan bahwa dampaknya masih berbuntut panjang. Roh halus penunggu kawasan RT 04 tidak terima dan mengancam akan mencelakakan warga.

Terbayang bagaimana Pak Kumis pernah mengisahkan kejadian di tahun 2018. Konon, setahun yang lalu, terjadi wabah penyakit demam yang mencurigakan. Banyak warga mendadak terjangkiti. Selain panas tinggi, beberapa di antaranya mengalami kesurupan.

“Pertama istri Pak Erwin yang memang lengganan kesurupan. Disusul warga di depan rumahnya. Juga ada sekitar 3 warga lain mengalami hal yang sama. Itu bukti serangan atau teror roh syaiton,” terang Pak Kumis kepada Rico di suatu malam saat mereka meronda.

Menurut penuturan Pak Kumis, wabah itu ada hubungannya dengan aktivitas warga RT 04 yang secara kurang etis, menutup jalan tembus menuju perkampungan. Menurut orang itu, jalan tembus (sering disebut jalan tikus) bisa menjadi akses masuk pencuri.

Namun, di mata warga kampung, jalan itu dipercaya sebagai jalan angker yang menghubungkan antara kuburan kuno dengan lokasi danau atau setu yang juga angker. Di setu juga menjadi lokasi yang dihuni berbagai makhluk halus.

Masih menurut Pak Kumis, akibat kejadian itu, keluarga yang menutup jalan tersebut mendapat aneka rupa permasalahan dan gangguan gaib.

“Berulangkali anggota keluarga yang menutup jalan itu mengaku diganggu penampakan-penampakan menyeramkan dari mulai penampakan perempuan menyeramkan hingga didatangi seekor buaya buntung yang dipercaya merupakan sosok penunggu setu. Keluarga itu akhirnya pindah dan menjual rumahnya,” tutur Pak Kumis kepada Rico.

Tak hanya mengganggu keluarga yang menutup jalan tersebut. Roh syaiton yang disebut-sebut Pak Kumis bisa berubah-ubah wujud itu juga menyebarkan wabah penyakit panah tinggi.

“Syaiton itu keturunan iblis. Bentuknya bisa berubah-ubah dan memiliki banyak kawan. Mereka inilah yang kemudian membuat warga mengalami sakit mendadak dan bersifat massal,” lanjut Pak Kumis.

Dalam rangkaian kejadian tersebut, Pak Kumis meyakini bahwa Pak Ustaz yang didatangkan secara khusus juga menyatakan hal yang sama. Warga RT 04 mendapat serangan wabah (teror) dari syaiton penunggu desa lama yang terkubur menjadi perumahan.

“Pak Ustaz ini biasa menangani istri Pak Erwin yang sering mengalami kesurupan. Menurut Pak Ustaz, Istri Pak Erwin sebenarnya bisa disebut sebagai seorang indigo, hanya tidak mendapat pendampingan yang benar. Dan Pak Ustaz pula yang berusaha mengatasi wabah penyakit itu,” lanjut Pak Kumis.

Karena wabah demam tinggi semakin membahayakan anak-anak, Ustaz yang disebut Pak Kumis kemudian mengajak warga RT 04 mengadakan pangajian. Pak RT juga setuju. Pengajian pun diadakan beberapa hari selama wabah terjadi.

Baca juga: Teror Beruntun di Bekas Desa yang Terkubur (Part 1)

Namun, selain pengajian, Pak Ustaz juga mendorong diadakan fogging massal selama dua minggu secara berkala. Menurutnya, antara serangan syaiton, pengajian, dan jenis wabah penyakit demam tinggi, ada hubungan dan kaitannya.

“Boleh saja kedokteran menyebutnya wabah penyakit demam berdarah atau DBD. Namun, sesuai ceramah Pak Ustaz, serangan syaiton itu bisa beraneka rupa dan manusia biasanya menamainya dengan istilah-istilah yang dianggap ilmiah. Namun hakikatnya sama, itu teror syaiton,” kata Pak Kumis.

Rico berusaha memahami dan mengunyah semua penjelasan Pak Kumis karena kala itu, ia merupakan warga baru di RT 04. Ia tak menolak dan membantah. Ia berusaha menjadi pendengar yang baik.

“Melakukan fogging atau penguapan agar nyamuk dan serangga bernahaya mati, adalah bagian dari upaya manusia melawan teror. Doa dan usaha jangan dipisahkan. Itu satu keterkaitan. Sayangnya, ilmu kedokteran ataui ilmu ilmiah tak bisa menjelaskan lebih detail bagaimana hubungan mencegah wabah demam yang menyerang warga dengan supranatual,” tutur Pak Kumis.

“Syaiton dalam wujud roh halus apapun, sebenarnya juga resisten terhadap obat-obatan produk manusia. Zat kimia tertentu, misalnya asap fogging, itu bisa membuat mereka takut dan pergi. Namun, sewaktu-waktu bisa menyerang lagi,” sambung Pak Kumis.

Dalam penjelasannya, Pak Kumis juga menceritakan tentang pengalamannya dahulu di era tahun 1980 saat marak revolusi hijau. Banyak dilakukan penyemprotan hama wereng coklat dengan menggunakan helikopter.

Selain wereng coklat yang mati, Pak Kumis mengaku merasakan suatu perubahan drastis setelah penyemprotan pestisida tersebut.

“Banyak lokasi angker di kampung saya, di mana sering ada penampakan aneka rupa roh halus, mendadak seperti menghilang. Itu saya rasakan sendiri. Itu bukti bahwa zat kimia produk manusia juga resisten terhadap roh halus atau syaiton,” tutur Pak Kumis.

“Tapi jangan salah”,  sambung Pak Kumis, “Syaiton bisa mengamuk dengan model pembasmian hama wereng, hanya kadang manusia saja tak sadar. Bencana sesudahnya ada hubungannya. Sayang ilmu ilmiah tak bisa menjelaskan hal itu.”

Kembali soal wabah demam tinggi yang melanda RT 04, konon setelah diadakan pengajian, fogging, dan penanganan kedokteran, wabah tersebut bisa tertangani. Hanya saja, menurut Pak Kumis dan sejumlah warga lainnya, semua patut waspada. Teror lain bisa muncul lagi.

Kali ini, menurut Pak Kumis, dikhawatirkan akan muncul teror baru. Penyebabnya, Rico mengunggah tulisan yang dipandang Pak RT dan Pak Kumis telah mengusik syaiton penunggu desa lama yang terkubur.  (Bersambung).

Editor : Taat Ujianto