• News

  • Sisi Lain

Dikabarkan Ada Penampakan Noni dan Gamelan Bunyi Sendiri, Ini Kata Dirut Balai Pustaka

Ilustrasi misteri gamelan di gedung Balai Pustaka
Netralnews/Tommy
Ilustrasi misteri gamelan di gedung Balai Pustaka

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Bicara tentang Balai Pustaka (BP), mau tidak mau, kita akan bicara tentang Sastra Indonesia. Balai Pustaka adalah "citra" sastra keindonesiaan. Kiprah dan kontribusinya sangat besar dalam proses menjadi Indonesia.

Lembaga yang kini berlokasi di Jalan Bunga No. 8, Jakarta Timur ini, berdiri sejak tahun 1908. Dalam perjalanannya, pernah memiliki angkatan Balai Pustaka, angkatan Pujangga Baru, angkatan 1945, hingga angkatan 1960-an. Lalu bagaimana kondisi Balai Pustaka di era milenium?

Balai Pustaka bangkit kembali

“Balai Pustaka hampir ditutup. Keberadaanya sebagai salah satu Badan Usaha Milik Negara (BUMN) sempat tidak diharapkan lagi,” kata Direktur Utama BP, Achmad Fachrodji di hadapan sejumlah penulis dan editor buku di ruang rapat BP, beberapa waktu lalu.

Pada 2011, segenap manajemen BP nyaris putus asa setelah sekian lama mengalami kerugian berturut-turut. Ketika BP sempat akan berlayar melalui tender buku pelajaran Kurikulum 2013, tiba-tiba kurikulum dibatalkan oleh Menteri Pendidikan kala itu, Anies Baswedan.

Hutang BP pun semakin membengkak. Kala itu, Menteri BUMN Dahlan Iskan juga sempat menyetujui wacana penutupan BP. Ia memberi waktu tiga bulan bagi BP untuk diakuisisi oleh PT Telkom. BP benar-benar di ujung tanduk.


Lembaga yang terkenal sebagai penyokong lahirnya sastra Indonesia, baik di era Hindia-Belanda maupun kemerdekaan ini, benar-benar mengalami masa-masa sulit. Namun, para karyawannya tidak mau menyerah. Gebrakan-gebrakan baru terus dilakukan.

“Dan tahun 2018, BP mampu bangkit dari keterpurukan. BP tidak jadi ditutup. BP tidak jadi diakuisisi PT Telkom. BP berhasil hidup terus,” kata Achmad Fachrodji menambahkan.

Melalui sektor penerbitan dan kerja sama yang erat dengan BUMN lainnya, seperti PT Pelni, ASDP, dan Pos Indonesia, BP berhasil meraih pemasukan. BP kembali dipercaya menangani perbukuan oleh BUMN lain. Dengan dana yang berhasil digalang, BP mampu melakukan investasi baru.

Gedung pun dapat direnovasi, perpustakaan baru dibangun, buku sastra dibuatkan versi digital, membangun Kafe Sastra, memproduksi poster tentang tokoh-tokoh sastra, dan lain-lain. Kini, hampir setiap hari Balai Pustaka selalu dikunjungi siswa-siswi melalui program literasi kaum milenial.

Keangkeran Balai Pustaka

Di tengah pemaparan tentang kondisi Balai Pustaka akhir-akhir ini, tiba-tiba Achmad Fachrodji membelokkan perbincangan ke persoalan yang benar-benar tak diduga. Perbincangan itu membahas tentang adanya romor yang beredar di masyarakat.

Konon, menurut cerita warga yang pernah melihat dan mendengarnya, di gedung Balai Pusataka sering ada penampakan dari mulai patung berjalan sendiri, penampakan noni Belanda, hingga gamelan berbunyi sendiri.

“Tahukah teman-teman bahwa Gedung Balai Pustaka itu sering dikabarkan angker oleh banyak orang? Kini, Balai Pustaka juga semakin dikenal dengan kemisteriannya,” katanya sambil menyungging senyuman.

Tentu saja, pernyataan Achmad Fachrodji membuat peserta diskusi terkesima. Ia kembali meyakinkan bahwa ia tidak bercanda.

“Saya itu diberitahu oleh sopir saya berulangkali bahwa patung di depan BP itu, kalau malam katanya jalan sendiri. Bahkan, di lantai tiga, gamelan kalau malam juga bunyi sendiri,” ungkapnya.


“Suatu ketika, sopir saya mengaku punya indera ketujuh,” katanya sambil tersenyum. Lanjutnya, “Dia bilang, bisa melihat bahwa di Gedung BP ada penunggunya. Namun, semua makhluk halus di BP tergolong jenis yang tidak jahat,” kata Achmad.

Mengenai keberadaan kisah misteri tersebut, Achmad Fachrodji tampaknya tidak pernah merasa khawatir  jika beredar ke masyarakat luas. Sepanjang perjalanan sejarah Nusantara, mitologi, dan fenomena berbau mistis, bisa dikatakan sudah mendarah daging dan menjadi satu dalam ke-Indonesia-an.

Ia bahkan pernah mendengar bahwa di Gedung Balai Pustaka juga ada sosok Noni Belanda dan sosok-sosok manusia dengan rambut bergelung seperti era Majapahit. Kisah tersebut tidak membuat ia takut.

"Saya sering tidur di sini (kantor) tetapi tak pernah mendengar gamelan berbunyi sendiri ataupun didatangi penampakan Noni Belanda.Mungkin karena saya tidak memiliki indera ketujuh dan belum  memiliki kemampuan indera yang halus," tambahnya sambil senyum simpul.

Ada benarnya penuturan Achmad Fachrodji. Keberadaan kisah misteri yang beredar di masyarakat, tidak perlu ditakuti.

Bila kita menyelami sejumlah kisah sastra, mitologi dan kisah mistis juga selalu hadir laksana bumbu kehidupan. Di sisi lain, kisah mistis ternyata sering pula berada di balik kesuksesan seseorang, kemegahan suatu gedung, hingga kesuksesan suatu lembaga.

Siapa tahu, fenomena patung di depan BP yang berjalan sendiri dan musik gamelan yang berbunyi sendiri merupakan pertanda baik bagi BP. Apabila sebelumnya laksana jalan di tempat atau berjalan kurang maksimal laksana “patung”, kini “patung” itu siap berjalan dan berlari sambil diiringi musik gamelan.

Mengenai wawancara tentang misteri gamelan yang konon bisa bunyi sendiri, berikut video wawancara Netralnews dengan Bapak Achmad Fachrodji.

Editor : Taat Ujianto