• News

  • Sisi Lain

Nyata Ada, Istana Siluman dan Keluarga Ular Jadi Satu di Indonesia Timur

Ilustrasi ular putih raksasa di gua istana ular di Kabupaten Manggarai Barat, NTT
Netralnews/Istimewa
Ilustrasi ular putih raksasa di gua istana ular di Kabupaten Manggarai Barat, NTT

MABAR, NETRALNEWS.COM – Sejak awal, bumi bukan hanya tempat tinggal makhluk bernama manusia. Ada jenis makhluk lain yang tak terhingga dan kehidupan antara yang satu dengan yang lain saling terkait.

Makhluk yang satu mengalami gangguan maka akan berdampak terhadap makhluk hidup lainnya. Misalnya, ketika ular diburu oleh manusia karena diambil kulitnya sehingga mengalami kepunahan, maka akan rentan melahirkan  wabah hama tikus.

Ular memang bisa mengancam hidup manusia. Beberapa waktu lalu, seekor ular weling menggigit dan menewaskan seorang satpam di Tangerang. Beberapa waktu lalu, ada juga kejadian seorang wanita di Kabupaten Muna, Sulawesi Tenggara, dimangsa ular piton hidup-hidup.

Namun, bukan berarti ular harus dimusnahkan. Keberadaan ular juga bermanfaat bagi keseimbangan alam. Selain bisa menjadi hewan peliharaan dan bisa mengancam nyawa manusia, ular bisa juga diperlukan untuk keseimbangan ekosistem.

Salah satu kearifan berbalut kepercayaan spiritual lokal tentang pentingnya keberadaan ular bagi manusia ada di desa Galang, Kecamatan Welak, Kabupaten Manggarai Barat (Mabar), Nusa Tenggara Timur.

Di daerah ini, terdapat satu gua yang dipercaya menjadi semacam “istana ular”. Warga sekitar mengetahuinya tetapi tetap menjaga keberadaan gua tersebut secara biaksana.

Gua yang disebut-sebut sebagai istana ular tersebut sempat menjadi viral ketika beberapa waktu lalu ada seorang turis asing yang didampingi warga lokal memergoki keberadaan seekor ular putih raksasa sepanjang 23 meter.

Ular tersebut menghuni gua yang kemudian dinamai sebagai Gua Istana Ular di desa Galang. Lingkar badan ular ular putih raksasa itu disebut-sebut seukuran manusia dewasa. Salah satu saksi mata yang meihatnya adalah seorang warga bernama Doroteus Manto.

Kala itu, Doroteus sedang menemani delapan turis asal Jerman memasuki gua istana ular. Saat ditemukan, ular itulangsung diukur panjangnya oleh para turis dengan dibantu Doroteus.

Ular dalam kondisi hidup dengan mata terbelalak namun tidak menyerang. Setelah diukur, diketahui panjang ular raksasa tersebut adalah sekitar 23 meter. Ular tersebut berdiam di kedalaman gua sekitar 200 hingga 500 meter.

Perlu diketahui pula, memasuki gua tidaklah sembarangan masuk. Diperlukan sejumlah perlengkapan yang harus dibawa. Salah satunya adalah tabung oksigen yang harus dikenakan agar tetap bisa bernapas dengan lancar walaupun memasuki kedalaman 500 meter di dalam gua.

Penelusuran Doroteus bersama delapan turis ternyata juga berhasil menemukan bahwa di dalam gua itu, tidak hanya terdapat ular putih raksasa. Ada berbagai jenis ular menghuni gua tersebut. Bisa dikatakan, gua itu adalah tempat tinggal keluarga berbagai jenis ular.

Seperti penuturan Doroteus kepada sejumlah awak media, di kedalaman 200 sampai 500 meter, ada banyak ular yang berwarna merah, kuning, hitam, dan hanya satu ekor yang putih. Saking banyaknya, Doroteus bahkan sempat menginjak beberapa di antaranya.

Anehnya, saat Doroteus menginjaknya, ular itu tidak menyerang dan menggigit Doroteus. Tentu hal ini juga ada sebabnya.

Keberadaan ular di dalam gua itu, sebenarnya sudah diketahui oleh warga sekitar sejak dahulu. Pada saat tertentu, terutama pada musim penghukan, ular akan keluar dari gua untuk mencari makan berupa ayam, anjing, katak, babi hutan, dan lain-lain. Hari lainnya, kembali masuk ke dalam gua.

Sementara saat banyak orang berada di sekitar gua, ular-ular jarang mau keluar. Mungkin karena takut terhadap keberadaan manusia yang sering mengancam kehidupan mereka.

Warga juga memiliki kepercayaan bahwa sosok ular putih raksasa yang ditemukan Doroteus bersama sejumlah turis itu, diyakini merupakan pemimpin atau sang raja istana ular.

Dan satu lagi yang perlu diketahui publik, untuk bisa memasuki gua tersebut, ada ritual khusus yang dipimpin sesepuh setempat sehingga saat masuk, ular tidak akan menyerang manusia. 

Ritual itu menjadi syarat agar kekuatan gaib di balik penampakan ular putih raksasa tidak terusik. Dalam ritual, sesepuh setempat biasannya akan memberikan sesaji kurban berupa seekor ayam. Warga meyakini, selain sebagai istana ular, gua tersebut juga memiliki kekuatan gaib.

Editor : Taat Ujianto