• News

  • Sisi Lain

Sosok Gaib Gedor Pintu dan Foto Perkawinan Lilis Berhamburan

Ilustrasi santet
Netralnews/Istimewa
Ilustrasi santet

BOGOR, NETRALNEWS.COM - Konflik karena perebutan warisan kadangkala berujung pada hal-hal di luar dugaan. Walau harta tersebut bukan berasal dari keringat sendiri, namun karena gelap mata, seseorang bisa saja melakukan perbuatan-perbuatan nekat.

Ini adalah kisah nyata yang dituturkan Lilis (nama samaran) kepada Netralnews.com beberapa waktu lalu, ketika ia harus berurusan dengan rentetan kejadian aneh yang diduga merupakan santet kiriman dari seseorang.

Penulis sengaja kisahkan ulang untuk menjadi pengingat bahwa seandainya dugaan Lilis benar, maka inilah salah satu cara yang digunakan Lilis untuk menangkal kiriman jahat tersebut.

Penting pula diingat bahwa warisan adalah harta pusaka dari leluhur, tidak semestinya diperebutkan dengan cara-cara yang tak beradab.

Awal konflik

Hawa dingin menyergap. Di luar rumah, gerimis menggagahi dini hari. Di balik jendela sebuah rumah, sepasang mata Lilis, seorang ibu beranak satu, tengah berusaha untuk tetap fokus membaca lembaran buku yang teronggok di meja kerjanya.

Ia beranjak dari kursi dan mengambil jaket lalu segera mengenakannya. Tuntutan target pekerjaan kantornya belum ia selesaikan. Ia melirik ke kamar. Di sana, suami dan anak tercinta sedang tertidur pulas.

Ia duduk kembali di kursi kerjanya dalam kesenyapan. Namun, sunyi seorang diri dalam kondisi masih tetap terjaga untuk bekerja, tak mampu mengusir gemuruh isi hatinya. Kata-kata Tuti (nama samaran), adik iparnya masih terngiang dan menggoda telinganya.

“Jangan mentang-mentang merasa anak tertua, lalu mau membodohi adik-adiknya! Lagaknya memberikan perhatian orang tua, tapi diam-diam mau menjual dan mengangkangi warisan orang tua!” kata-kata tak sopan dari Tuti, terasa sulit ia bungkam.

Lilis menarik nafas dalam-dalam, berusaha mengembalikan konsentrasi kerjanya, yang tiba-tiba dirampas oleh kenangan perjumpaan kelam dua tahun lalu dengan keluarga besarnya. Ia ingin selesaikan tugas kantor secepatnya, dan segera menyusul tidur dengan suami dan anaknya.

Namun isi kepala dan hati tidak mau kompromi. Desakan untuk melongok kisah pedih lainnya masih berlanjut.

“Jangan belagu dan mengajari jenis makanan untuk kesuburan dan merangsang kehamilan, kamu urus saja anakmu sendiri! Ngapain ngurusi saya!” kata-kata Tuti terasa menampar wajah Lilis.

Lilis merasa tak pernah ada benci dan dengki dengan adik iparnya itu. Ia sayang kepadanya, sama seperti menyayangi Riyan (nama samaran), suami Tuti yang sekaligus lelaki, adik kandung Lilis satu-satunya. Namun mengapa, seolah keberadaan Lilis dianggap sebagai penghalang kebahagiaan adik iparnya?

Lagi pula, Lilis masih sangat menghargai leluhur dan adat orang Jawa. Tidak etis seorang adik ipar mengurusi harta warisan keluarga suaminya. Namun, entah dari adat mana perempuan ini lahir?

Walau sama-sama bersuku Jawa, perempuan ini berani menampar Lilis dengan kata-katanya  di hadapan keluarga besarnya.

Seolah Lilis merekayasa untuk menguasai harta warisan mendiang bapak-ibunya, hanya untuk dirinya pribadi. Seolah Lilis tak akan membagi warisan untuk adiknya.

Kalau Lilis tidak menahan diri, pertemuan keluarga besarnya dua tahun lalu, pasti akan berahir ricuh karena tuduhan tak beralasan itu.

Lilis mengalah dan tak mau menanggapi celoteh tak menentu dari Tuti, adik iparnya. Ia menganggap, Tuti memiliki gangguan kepribadian. Lagi pula, ia tak ingin Riyan, adik kandungnya terlukai. Lilis ingin Riyan hidup bahagia bersama Tuti, perempuan pilihannya itu.

Merantau

Lilis memutuskan pergi menjauhi mereka yang tinggal di DI Yogyakarta. Ia kemudian mengambil salah satu rumah tempat ia berada saat ini, yaitu di sebuah perumahan yang berada di Desa Waringin Jaya, Kecamatan Bojonggede, Kabupaten Bogor, Jawa Barat.

Dengan cara ini, ia berharap bisa dijauhkan dari persoalan yang menurutnya tidak penting.

Lilis sudah terbiasa berdikari sejak ditinggal mati bapak ibunya. Dengan bekal pendidikannya, ia bisa mendapatkan kerja dimana saja berada. Ia juga merasa beruntung memiliki suami dan seorang anak yang sangat ia cintai. Namun Lilis sedih dengan kondisi keluarga adiknya.

Dan ternyata, usaha menjauhi adik iparnya sia-sia. Hubungan internal Riyan dan Tuti retak. Riyan merasa tak sanggup lagi memenuhi tuntutan Tuti yang gila dengan status sosial layaknya orang kaya.

Beragam permintaan, mulai dari perhiasan mewah, pakaian, hingga minta dibelikan mobil, ternyata membuat Riyan pusing tujuh keliling.

Puncaknya, Riyan memilih pergi meninggalkan Tuti yang masih belum dikaruniai anak itu itu seorang diri di rumahnya. Untuk menenangkan diri, Riyan memilih tinggal di sebuah rumah kost, di daerah Surakarta, Jawa Tengah.

Dan tiba-tiba, Lilis yang tidak tahu apa-apa tentang internal keluarga adik iparnya itu, ditelpon Tuti dengan berondongan caci maki dan tuduhan bahwa ia menyembunyikan Riyan di rumahnya.

Lilis tak tahan. “Right or wrong he is my brother,” demikian kata hati Lilis. Namun ia berusaha tetap menyikapi masalah itu dengan kepala dingin.

Lilis kemudian berusaha menjelaskan keberadaan Riyan. Ia juga menjelaskan bahwa adiknya tidak bersembunyi di rumahnya.

Tuti tidak percaya. Bahkan mengancam, katanya, “Bohong, dasar pecundang! Ingat ya, saya nggak akan terima! Kakak pasti ikut campur meracuni dan ngompori suami saya! Ingat dan catat! Kapan saja, saya bisa kirim santet ke Kakak!”

Mendapat "kiriman"

Tepat saat Lilis mengingat suara tak sopan dari adik iparnya itu, tiba-tiba pintu rumahnya seperti digedor dari luar. Lilis terkejut. Ia beranikan membuka jendela dan kepalanya melongok keluar melihat depan rumahnya.

Tak ada seorang pun di depan pintu rumahnya. Hujan gerimis belum berhenti. Sesekali ada kilat di langit tanpa disertai gemuruh geludug. Namun tiba-tiba, Lilis terperanjat.

Dari arah luar, muncul sosok seperti bayangan putih menyelinap masuk ke dalam rumahnya melalui jendela, diiringi hembusan angin kencang. Sosok itu melayang, melesat, lalu menabrak bingkai foto perkawinan Lilis sehingga jatuh, pecah, dan kaca berhamburan.

Belum selesai kagetnya, Lilis melihat sosok putih itu berbalik ke arahnya. Spontan Lilis melompat dari kursinya hingga terjatuh. Dan sosok bayangan itu meluncur kencang keluar melewati jendela, lalu meledak, saat berada tepat di luar jendela, di depan meja kerja Lilis.

Dentuman suara itu sangat kencang. Buktinya, suami Lilis tiba-tiba terbangun karena mendengar kegaduhan. Dan bersamaan dengan itu, hujan turun dengan derasnya.

Melihat Lilis gemetaran dan masih terlentang belum bangun di samping meja kerjanya, suaminya mendekap Lilis dan segera membangunkanya. Lilis memeluk erat suaminya yang bingung dengan apa yang tengah terjadi.

Di luar kilat menyambar. Percikan air hujan sebagian masuk membasahi meja kerja Lilis. Suami Lilis melepas dekapannya dan segera menutup jendela itu. Baru setelah itu Lilis bisa menguasai dirinya.

Ia melangkah menuju bingkai foto saat ia dan suaminya menjadi sepasang pengantin. Di tengah mereka ada Tuti, adik iparnya. Bingkai dan kaca foto itu  rusak. Pecahan kacanya merobek bagian wajah adik iparnya.

Suami Lilis semakin bingung dengan pemandangan yang ada di depan kedua bola matanya. Sementara itu, Lilis membersihkan pecahan kaca yang berserakan.

Setelah pecahan kaca bersih dan dianggap sudah tidak membahayakan, Lilis duduk tercenung di sofa sambil bersandar di dada suaminya.

Ia kisahkan semua yang terjadi kepada suaminya tercinta. Suaminya memeluk Lilis dan berkata, “Ayo kita bawa dalam Salat dan Dzikir.”

Bersamaan dengan itu, gema Azan Subuh terdengar menyelinap di antara gemuruh air hujan. Lilis dan suaminya memang tak pernah melupakan Salat lima waktu.

Kisah ini ditulis berdasarkan penuturan Lilis (39) kepada Netralnews.com beberapa waktu silam. Ada beberapa bagian sedikit diubah dengan sepengetahuan dan seizin Lilis.

Di akhir penuturannya ia berkata, “Dzikir memohon berkah perlindungan, telah menjadi benteng pertahanan keluarga saya. Bisa jadi, dan bila benar kami telah dikirimi guna-guna jahat, hanya karena Dzikir itulah, keluarga kami bisa selamat dari sosok gaib yang membentur foto dan meledak itu”.

Imbuhnya, “Bila Tuti, adik ipar saya benar mengirim guna-guna itu, saya telah memaafkannya. Namun maaf dari saya, tak akan ada gunanya, bila ia juga tidak melakukan tobat. Saya telah yakinkan pula ke Riyan, adik kandung saya, agar bersama-sama memperbaiki semua kekacauan ini. Semoga bisa. Amin”.

Editor : Taat Ujianto