• News

  • Sisi Lain

Peneliti Sejarah Digerayangi Arwah Korban Operasi Trisula di Blitar Selatan

Ilustrasi lokasi kuburan massal di Blitar Selatan
foto: sindonews.com
Ilustrasi lokasi kuburan massal di Blitar Selatan

BLITAR, NNC - “Aku malam itu dikerubungi banyak suara di kamar rumah tempatku menginap di Desa Bakung, Blitar Selatan. Sampai aku minta tolong agar mereka diam, karena aku mau istirahat,” kenang Andre Liem (40), salah satu peneliti sejarah di Institut Sejarah Sosial Indonesia (ISSI).

Sepanjang tahun 2011, ia bersama beberapa orang lainnya telah melakukan kajian sejarah lisan atau biasa disebut dengan Oral History Project (OHP). Program tersebut adalah upaya menyingkap fakta sejarah di balik peristiwa pascakejadian Gerakan 30 September (G30S).

Ia mendapat bagian penelitian di Desa Ngrejo dan Bakung, di wilayah Blitar Selatan, Kabupaten Blitar, Jawa Timur. Kala itu, ia berhasil mewawancarai tak kurang dari sepuluh narasumber.

Semua narasumber merupakan saksi mata rangkaian Operasi Trisula yang digelar pada 1968 oleh aparat TNI dari Kodam Brawijaya, di bawah pimpinan Mayjen TNI Jasin. Dalam operasi itu telah terjadi berbagai tindak penangkapan, penahanan, dan pembunuhan terhadap mereka yang dianggap anggota Partai Komunis Indonesia (PKI).

Di balik penelitian yang melelahkan, Andre ternyata memiliki pengalaman tersendiri yang bisa disebut sebagai supranatural. Dalam kalangan sejarawan, pengalaman mistis jarang sekali diungkap, karena memang bukan menjadi bagian dari penelitian mereka. Pengalaman seperti itu lebih sering disimpan rapat-rapat.

Kepada Netralnews.com, Andre berkenan menceritakan pengalamannya. Ini merupakan suatu hal yang istimewa. “Peristiwa saya didatangi suara aneh, terjadi sekitar pukul 2.00 (WIB) dini hari, setelah seharian penuh saya mewawancarai beberapa narasumber,” kata Andre.

“Pukul 21.00, saya selesai mewawancarai empat orang yang lolos dari pembantaian. Badan saya terasa capek, namun tidak bisa tidur. Ada banyak suara aneh terdengar di telinga saya. Seolah ada yang mempertanyakan siapa saya, ada yang teriak, menangis, dan sebagainya,” sambung Andre.

Andre sempat berusaha keluar kamar mencari sumber suara itu. Namun di sekitar rumah tempat ia menginap, kondisinya senyap, tak ada orang. Semua warga desa sedang nyenyak menikmati mimpinya masing-masing. Ada rasa penasaran dan sedikit takut dalam hati Andre.

Sampai akhirnya, karena badan terasa begitu lelah dan ia sangat membutuhkan istirahat, ia menghardik, “Tolonglah diam! Saya lelah dan butuh istirahat! Dan anehnya, suara-suara itu benar-benar kemudian menghilang.” Andre pun bisa terlelap setelah berjam-jam diganggu suara itu.

Saat terbangun, Andre mandi dan bergegas melanjutkan penelitiannya. Tiba-tiba muncul pemikiran dan keinginan untuk mendatangi sebuah lokasi kuburan massal di pinggir kali di Desa Bakung. Ia merasa ada hubungannya antara suara-suara aneh di malam itu dengan lokasi kuburan massal itu.

Dengan diantar Maryono dan Paijo, dua orang narasumber, Andre bisa mengunjungi tempat tersebut. Di tempat itu, Andre berdoa dan berusaha berkomunikasi seolah-olah minta izin agar dapat memperoleh keterangan sebaik-baiknya (baca: kebenaran) terkait data sejarah.

Menurut penuturan Maryono dan Paijo, mantan seniman ludruk anggota Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra), di lokasi itu ada 32 orang dibantai dan dikuburkan secara massal. Paijo dan Maryono menjadi saksi mata ketika teman-teman mereka bermandikan darah karena berondongan timah panas.

Mereka juga sebelumnya ditahan tentara sekitar Februari 1968. Bisa dikatakan, mereka beruntung karena tidak ikut dibantai. Namun, ia dipaksa membantu pihak aparat untuk mengidentifikasi orang-orang Blitar Selatan yang dituduh terlibat PKI. Di bawah todongan pistol, Paijo dan Maryono ikut mengubur jasad teman-teman mereka.

Usai mengunjungi kuburan massal tersebut, Andre sempat mewawancarai sejumlah narasumber lainnya. Malam harinya, kembali terjadi peristiwa aneh. Setelah sempat terlelap beberapa saat, ia tiba-tiba dibangunkan oleh suara dengungan di sekitar tubuhnya.

Saat membuka matanya, ia terbelalak. “Tubuhku dikerumuni ribuan semut hitam di atas kasur kapuk, tempat saya istirahat. Anehnya, tak seekor semut pun menyentuh tubuhku. Semut-semut itu hanya mengitari badan saja dan membentuk tubuhku dari kaki hingga kepala,” kata Andre.

“Karena kaget, saya loncat dan berteriak sehingga membangunkan pemilik rumah,” sambung Andre. Lelaki setengah baya pemilik rumah tempat Andre menginap juga terheran-heran dengan kejadian itu. Ia kemudian mengambil sapu lidi dan membersihkan semut-semut itu.

“Kata pemilik rumah, seumur-umur ia belum pernah melihat atau mengalami kejadian seperti itu,” kata Andre menirukan ucapan pemilik rumah itu. Dalam kenangan Andre, rangkaian kejadian itu mempunyai arti tersendiri.

Terlepas dari konteks penelitian sejarah, pengalaman aneh itu diyakini merupakan bahasa alam baginya. Mungkin orang lain menyebutnya akibat depresi mendengarkan cerita tragis para korban pembersihan anggota PKI dalam Operasi Trisula atau hal itu terjadi dianggap sebagai efek kelelahan.

Bagi Andre, ada pesan mistis tersirat di balik pengalamannya. Itu adalah salah satu wujud bahasa para arwah korban Operasi Trisula yang selama ini suaranya tak pernah didengar. Wajar bila ada anggapan, arwah mereka masih penasaran dan menantikan pengungkapan kebenaran.

Berdasarkan penelitiannya, Andre tahu bahwa ada ribuan orang Blitar Selatan yang pernah ditahan selama Operasi Trisula, sebagian dibantai tanpa proses pengadilan. Sebagian lainnya, hilang tak diketahui di mana rimbannya hingga kini.

Dalam catatan laporan Kodam VIII Brawijaya berjudul “Operasi Trisula” halaman 127, memang jumlah korban yang ditembak mati sebanyak 257 orang. Bisa jadi jumlahnya lebih dari itu. Mereka adalah tokoh-tokoh yang dianggap anggota PKI di Blitar Selatan yang biasa disebut juga sebagai kelompok Komite Proyek Basis (Kompro) Blitar Selatan.

Anggota Kompro mayoritas terdiri dari pemuda dan tokoh PKI dari berbagai daerah yang masih sempat selamat dari operasi pembersihan PKI sebelum-sebelumnya. Mereka berusaha mewujudkan teori Mao Tse-Tung, yaitu “desa kepung kota” sebagai upaya terakhir dari situasi yang serba terjepit.

Gerakan Kompro memilih wilayah Blitar Selatan karena lokasi itu dianggap terisolir, terkenal angker, banyak gua, dan berupa pegunungan. Namun, ternyata usaha mereka pupus. Operasi Trisula telah menggagalkannya. Hanya saja, banyak hal yang tidak pernah diungkapkan di balik operasi itu.

Catatan hasil penelitian Andre akhirnya dapat kita baca melalui tulisan berjudul “Perjuangan Bersenjata PKI di Blitar Selatan dan Operasi Trisula” yang dimuat dalam buku “Tahun yang Tak Pernah Berakhir” terbitan ISSI tahun 2004.

 

Catatan: Artikel ini pernah tayang sebelumnya di Netralnews.com dengan judul "Setelah Kunjungi Kuburan Massal, Andre Dikerumuni Semut" (07/9/2018).

Editor : Taat Ujianto