• News

  • Sisi Lain

Penampakan Perempuan dengan Mulut Berdarah di Gedung Milik Tan Ceng Bok

Gerbang belakang gedung Infico
Netralnews/Dok.ISSI
Gerbang belakang gedung Infico

JAKARTA, NNC - “Suara jeritan dan raungan di tengah malam sudah menjadi langganan saya,” tutur Tedja (48) kepada NNC beberapa waktu lalu, di kediamannya yang tak jauh dari lokasi angker itu. Lokasi gedung bekas Studio Film Infico itu persisnya terletak di Jalan Rawa Kemiri Nomor 42, Kebayoran Lama, Jakarta Selatan.

“Pernah suatu ketika, saat saya baru menetap di sini, saya pulang kerja larut malam. Saya menjumpai sosok wanita yang minta tolong, katanya saudaranya badannya melepuh. Anehnya, saya nurut saja dibawa masuk ke gedung itu. Saya melihat banyak lelaki dan perempuan mengerang kesakitan,” sambung Tedja yang sehari-hari bekerja sebagai perawat di sebuah rumah sakit swasta.

Tedja sempat berpikir bagaimana bisa orang sebanyak itu mengalami kesakitan bersamaan. Tedja melihat puluhan lelaki badannya melepuh dan bengkak. Bahkan ada juga perempuan yang mata dan mulutnya berdarah. Siapa sebenarnya mereka? Apa yang sebenarnya terjadi?

Sebagai seorang perawat, naluri Tedja segera bekerja. Ia tidak sibuk mencari jawaban pertanyaan-pertanyaan di kepala. Ia justru berpikir bahwa obat yang ada di dalam tasnya tak akan mencukupi. Ia harus mengambil stok obat-obatan dari rumahnya. Maka kepada perempuan itu, Tedja minta izin mengambil obat tersebut.

“Ruangan gedung itu remang-remang. Jalan menuju ke situ juga banyak rumput alang-alang. Namun karena niat saya mau menolong, saya tidak berpikir macam-macam. Segera saya ambil obat dari rumah dan kembali ke gedung itu. Dan betapa terperanjatnya saya,” kenang Tedja.

Saat kembali ke gedung itu, Tedja tidak berhasil menjumpai siapapun. Gedung kosong, gelap, dan baru sadar terasa menyeramkan. Tedja merasa gemetar dan ketakutan.

“Sejadi-jadinya saya membaca doa dalam hati agar tidak jatuh pingsan, sambil cepat-cepat kembali menuju ke rumah,” katanya.

Karena penasaran, pada hari berikutnya, Tedja mencari informasi tentang gedung itu. Ternyata, penampakan yang ia alami bukanlah yang pertama kali.

“Banyak tetangga saya juga mengalami fenomena serupa. Mereka sering mendengar jeritan dan raungan di malam hari, layaknya orang disiksa. Suara-suara itu bersumber dari tempat itu,” ujar Tedja.

Tak puas hanya mendapat keterangan itu, Tedja mencari informasi lain seputar sejarah gedung itu.

“Saya berpikir bahwa saya harus benar-benar mengetahui seluk beluk gedung itu, karena saya akan tinggal di wilayah sini dan tak mau kalau ada apa-apa, atau terus diganggu,” kata Tedja.

Setelah tanya sana-sini dan membaca buku, akhirnya Tedja memperoleh data yang cukup akurat.

“Ternyata, gedung itu adalah salah satu bukti sejarah kekejaman setelah peristiwa Gerakan 30 September atau G30S. Banyak orang yang dituduh PKI, ditahan di gedung itu,” ungkapnya.

Seperti dituturkan Tedja, gedung itu pada 1960 merupakan Studio Film Infico, milik Tan Ceng Bok atau biasa dipanggil Pak Item. Tan Ceng Bok adalah seorang bintang film, produser, sekaligus sutradara di era 1960-an. Sebelum meletus G30S, studio tersebut sering digunakan sebagai tempat pemutaran perdana film-film baru.

“Saat menjadi studio film, anak-anak sering diperkenankan menonton pemutaran film secara gratis. Bahkan, kadangkala para penonton malah diberikan nasi bungkus dari pengelola studio,” ungkap Tedja mengulang keterangan dari salah satu keturunan pemilik gedung itu, yang pernah ia jumpai.


Setelah meletus G30S, gedung itu diambil alih tentara. Kemudian, dipakai sebagai tempat penahanan orang-orang yang dianggap anggota Partai Komunis Indonesia (PKI) dan dikuasai tentara hingga 1990. Selanjutnya disewakan lagi untuk industri miniatur pesawat dan usaha batik milik Iwan Tirta hingga kini.

Ternyata, sebelum G30S, ada salah satu tokoh PKI yang tinggal di lokasi itu, namanya Sumadji. Setelah G30S, ia meninggalkan rumahnya. Tidak jelas apakah ada hubungannya, antara Sumadji dan Studio Infico. Yang pasti, Gedung Infico akhirnya diambil alih dan didiuduki tentara.

Konon, studio film tersebut ditempati oleh tentara gabungan yang dikomandani oleh Mayor (Raiders) Isbandi dan Mayor (CPM) Subagyo. “Orang PKI yang ditahan di tempat itu jumlahnya mencapai ratusan, tetapi datang dan pergi,” kata Tedja.

Ada pola yang biasa dijalankan oleh tentara. Membawa tahanan masuk atau dibawa keluar, biasanya dilakukan pada dini hari sekitar pukul 2.00 WIB. Konon, Wakil Perdana Menteri Soebandrio sebelum ia dihukum mati oleh Mahmilub, di suatu dini hari juga pernah dibawa ke tempat itu.

“Selama Studio Infico dijadikan sebagai tempat penahanan, selalu terdengar raungan dan jeritan para tahanan yang disiksa. Sebagian tahanan ada yang kemudian dipindahkan ke tahanan lain. Sebagian lain mati akibat penyiksaan, dan sebagian lain konon hilang hingga kini,” ungkap Tedja.

Rupanya Tedja juga seorang pembaca yang baik. Ia telah membaca buku hasil penelitian majalah Tempo, judulnya “Pengakuan Algojo 1965” terbitan tahun 2013. Di dalam buku itu disebutkan bahwa salah satu algojo yang bertugas menyiksa atau membunuh tahanan bernama Cecep.

“Cecep adalah komandan ‘Operasi Kalong’ di daerah Kebayoran Lama yang bertugas menginterogasi tahanan. Ia dikenal bengis dan tak segan menyiksa hingga membunuh para tahanan, termasuk para tahanan di Gedung Studio Infico itu,” ujar Tedja menceritakan isi buku yang telah ia baca.

Memang benar, dalam pembersihan anggota PKI di Jakarta, tentara Angkatan Darat mengadakan operasi intelejen dengan nama 'Operasi Kalong'. Artinya, seperti kelelawar, tentara bergerak di malam hari untuk mengambil hingga ‘menghilangkan’ mereka yang menjadi target.

Suatu ketika, ada warga yang datang ke Gedung Infico karena diminta tentara mengantar beras. ”Ia menyaksikan banyak ceceran darah mengering di lantai gedung. Dari jauh ia juga melihat banyak orang meringkuk seperti kesakitan dan kelaparan,” kata Tedja.

Rupanya keterangan warga tersebut semakin memperkuat pengalaman misterius yang dialami Tedja. Saat ia melihat penampakan di malam itu, pemandangan serupa juga ia lihat, walaupun yang ia alami berupa pengalaman supranatural. Untuk bukti kekejaman berupa bekas bercak darah, masih bisa dijumpai hingga kini.

“Jejak darah dan coretan dinding hingga kini masih ada yang tersisa. Soal coretan dinding, bisa jadi itu goresan para tahan yang saat itu berusaha menghibur diri dari penyiksaan yang mereka alami berhari-hari,” ungkap Tedja.

Mengenai cerita mistis yang diceritakan Tedja, ternyata juga dialami oleh hampir semua karyawan dan pemilik industri miniatur pesawat serta batik yang kini menempati gedung itu. Hampir semua dari mereka menuturkan tentang penampakan sosok-sosok misterius yang mengerang dan kesakitan.

 

Catatan: artikel ini pernah ditayangkan Netralnews.com dengan judul "Misteri Raungan dan Bercak Darah di Gedung Infico"

Editor : Taat Ujianto