• News

  • Sisi Lain

Mendadak Hujan Badai dan Puting Beliung di Papandayan, Jawa Barat

Panorama di Gunung Papandayan
foto: beritadunia.net
Panorama di Gunung Papandayan

GARUT, NETRALNEWS.COM – Musim penghujan sebentar lagi tiba. Dalam cerita lisan masyarakat Indonesia, ada satu daerah yang memiliki keyakinan unik bahwa hujan badai dan puting beliung bisa datang secara tiba-tiba.

Kepercayaan ini banyak dianut warga di daerah Kabupaten Garut, Provinsi Jawa Barat, terutama mereka yang tinggal di sektar objek wisata Candi Cangkuang dan Gunung Papandayan.

Sebenarnya, keduanya merupakan jenis objek wisata yang  berbeda. Yang pertama menyajikan unsur sejarah dan yang kedua cenderung berunsur wisata alam. Namun keduannya sama-sama memiliki hubungan. Selain berada di satu kabupaten, keduanya juga memiliki kisah misteri.

Misteri di Candi Cangkuang

Selain itu, di  sekitar Gunung Papandayan juga terdapat situs bersejarah yaitu Candi Cangkuang yang berada di sebuah pulau kecil di tengah Danau Cangkuang.

Istilah Cangkuang sebenarnya berasal dari kata “buah cangkuang” yaitu sejenis tanaman pandan dengan nama latin Pandanus furactus. Dan anehnya, mayoritas tanaman yang tumbuh subur adalah pohon jenis ini dan menghampar di sekitar candi Cangkuang yang luasnya sekitar 4,5 hektare.

Sedangkan mengenai Candi Cangkuang, keberadaannya baru “ditemukan kembali” pada pada tahun 1966. Sempat dipugar beberapa kali agar candi menjadi indah dan kini berhasil berdiri kembali dengan megah.

Candi Cangkuang adalah peninggalan peradaban Hindu ketika masih berjaya di Tatar Sunda. Di dalam candi terdapat arca Dewa Shiwa berukuran kecil, sedang bersila di atas lembu Nandi. Lokasinya berada di Kampung Pulo, Desa Cangkuang, Kecamatan Leles, Kabupaten Garut.

Di sebut Kampung Pulo karena candi berada di sebuah pulau kecil di tengah Danau Cangkuang. Tempat ini juga terkenal menjadi objek wisata yang memadukan unsur keindahan alam, sejarah, dan misteri.

Di Danau Cangkuang, para pengunjung  bisa berkeliling danau dengan menggunakan rakit bambu (getek), melihat-lihat tanaman teratai yang cantik, dan bisa dilanjutkan menuju pulau kecil di tengah danau, yang menjadi lokasi keberadaan Candi Cangkuang.

Dari pulau kecil di tengah danau tersebut, pengunjung dapat menyaksikan pemandangan pegunugan yang seolah memeluk danau dan Candi Cangkuang.

Uniknya, keberadaan Candi Cangkuang ternyata berdampingan juga dengan sebuah makam kuno yaitu makam Arief Muhammad. Beliau adalah seseorang yang dipercaya leluhur Desa Cangkuang.

Menurut tradisi lisan masyarakat Desa Cangkuang, dahulu kala, Arif Muhammad dipercaya merupakan seorang panglima perang keturunan Mataram yang diutus untuk mengusir para penjajah yang berada di tanah Sunda.

Namun, tugas itu berakhir gagal. Ia kemudian memutuskan tidak kembali ke Mataram karena tahu pasti akan dihukum oleh Sultan Agung, Raja Mataram. Ia kemudian berkeluarga dan menetap di wilayah Cangkuang. 

Hingga kini, ada banyak warga Cangkuang yang masih memiliki hubungan darah atau keturunan dari Arif Muhammad. Dan sesuai tradisi, di antara keturunannya akan dijadikan sebagai sesepuh desa.

Sesepuh Desa Cangkuang  yang diangkat warga itu kemudian akan menjaga adat dan budaya peninggalan leluhur. Salah satu contohnya adalah adat yang mempertahankan tentang jumlah bangunan di Kampung Pulo yang harus berjumlah tujuh.

Kini, di Kampung Pulo, terdapat  enam rumah dan satu mushola. Mengapa demikian? "Jumlah tujuh bangunan itu melambangkan bahwa jumlah anak dari Embah Dalem Arif Muhammad, yaitu enam perempuan dan satu laki-laki,” tutur seorang warga Kampung Pulo kepada NNC.

Dan, hingga saat ini, sudah lebih dari 10 keturunan. Namun, hanya keturunan anak perempuan saja yang boleh tinggal di rumah yang ada di Kampung Pulo.

Tradisi lain yang tetap dilestarikan di daerah ini adalah larangan membunyikan gong. Mengapa? Bunyi gong telah mengingatkan kejadian tragisyang dahulu pernah terjadi.

Ketika itu, Arif Muhammad sedang mengkhitankan anak laki-lakinya. Pesta dilengkapi dengan kegiatan arak-arakan dengan diiringi bunyi-bunyian dari gong yang dipukul. Namun tiba-tiba, anaknya terjatuh dan meninggal.

Baru-baru ini terjadi juga peristiwa misteri. Dalam suatu perayaan ritual di Candi Cangkuang yang diselenggarakan pada Minggu, 23 Desember tahun 2007, pukul 16.30, terekam sebuah penampakan misterius.

Warga meyakini penampakan itu tak lain dan tak bukan adalah sosok arwah Arif Muhammad. Rekaman itu hingga kini masih disimpan dan menjadi koleksi pengelola museum di Candi Cangkuang. Bagi pengunjung yang penasaran tentu saja bisa menyaksikan video itu.

Kisah misteri dan tradisi terakhir adalah mengenai larangan tertentu yang bisa mendatangkan hujan badai. Dan larangan ini ternyata tidak hanya ada di wilayah Cangkuang tetapi juga ada dan berlaku bagi masyarakat di sekitar Gunung Papandayan.

Misteri Gunung Papandayan

Masyarakat Jawa Barat menyebut gunung yang memiliki ketinggian 2665 meter ini dengan nama Papandayan. Secara administrasi gunung ini termasuk dalam wilayah Kecamatan Cisurupan, Kabupaten Garut, Provinsi Jawa Barat.

Gunung Papandayan memiliki beberapa kawah yang terkenal sebagai objek wisata alam antara lain Kawah Mas, Kawah Baru, Kawah Nangklak, dan Kawah Manuk. Semua kawah tersebut hingga kini masih aktif mengeluarkan uap panas.

Warga di sekitar gunung memiliki kepercayaan, “Jika warga, pendaki gunung, wisatawan, atau dari rombongan manapun merasakan datangnya angin, maka seluruh rombongan wajib hening dan tidak boleh berisik.” Jika larangan itu dilanggar, maka akan mendatangkan bencana.

Mitos mengenai larangan itu bukan isapan jempol. Sudah terjadi berulang kali, tiba-tiba terjadi hujan badai melanda rombongan pengunjung daerah Gunung Papandayan.

Salah satunya dialami oleh tim dari National Geographic Indonesia bersama Chevron (perusahaan gas bumi) beberapa waktu lalu. Pemandu wisata sudah mengingatkan tentang larangan itu.

Namun sayang, larangan itu dilanggar. Maka, dalam hitungan detik, tiba-tiba turun hujan dengan deras, disertai badai puting beliung yang menghantam rombongan. Masih untung, peristiwa itu tidak menimbulkan korban jiwa. 

Dan misteri lainnya yang hingga kini belum bisa terjawab adalah mengapa bencana terjadi pada tahun-tahun yang berakhir pada angka dua? Dan mengapa, bila bencana terjadi, korban jiwa yang meninggal selalu berjumlah ganjil?

Misteri angka genap dan ganjil itu dapat dibandingkan dengan fakta bencana yang pernah terjadi di Gunung Papandayan pada masa-masa sebelumnya.

Misalnya bencana akibat gunung meletus. Dalam catatan sejarah, Gunung Papandayan meletus pada  tahun 1772, 1942, dan yang terakhir adalah pada 2002. Bencana itu telah menimbulkan korban jiwa dengan jumlah beragam mulai dari 301 hingga 5 orang.

Dalam menghadapi misteri dan kekuatan berbau mistis itu, masyarakat di sekitar Gunung Papandayan kemudian mengadakan sejumlah ritual doa dan tolak bala. Ritual “sesaji gunung Papandayan” biasanya digelar setiap tahun.

Editor : Taat Ujianto