• News

  • Sisi Lain

Ngeri! Ini Video Penelusuran Tempat Arwah Lusi Gentayangan di Bawah Frekuensi 100

Tangkapan Layar penelusuran rumah Lusi
Netralnews/Tommy
Tangkapan Layar penelusuran rumah Lusi

BOGOR, NETRALNEWS.COM – Tim Netralnews, pada hari Sabtu (19/10/2019) melakukan penelusuran bekas rumah mewah yang pernah menjadi tempat tinggal keluarga Lusi. Penelusuran dilakukan untuk melengkapi kisah tragis yang dialami keluarga tersebut.

Rumah yang dimaksud berlokasi di suatu daerah di Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Penelusuran dilakukan pada pukul 22.40 WIB. Dalam penelusuran tersebut, tak diduga, salah satu tim Netralnews yang merupakan seorang indigo, melihat adanya sosok-sosok makhluk yang menyambut kedatangan tim.

Ia melihat sosok-sosok itu seperti sedang mengawasi dan ingin menyerang. Namun, dengan keberanian penuh, tim tetap melanjutkan penelusuran. Saat memasuki area rumah yang memang menyeramkan karena sudah 19 tahun ditinggal dan tak dihuni, seekor ular kobra menampakkan diri.

Makhluk yang mematikan itu sedang merayap di bekas kamar mandi. Tim menganggap penampakan ular tersebut sebagai pertanda agar penelusuran tidak memasuki wilayah berikutnya, yakni lantai dua.

Berikut video penelusuran tersebut. Sementara di bawah video, kami lampirkan kisah tragis keluarga Lusi yang sebelumnya pernah dipublikasikan Netralnews dengan judul: "Mengenaskan, Arwah Keluarga Lusi Gentayangan di Bawah Frekuensi 100?"

 

Arwah Keluarga Lusi Gentayangan di Bawah Frekuensi 100?

Elora (36) menarik nafas dalam. Kotbah homili dalam misa yang dipimpin Romo Marselinus Wisnu Wardhana dari Keuskupan Bogor, Jawa Barat, membuatnya tercenung lama. Misa sudah selesai, tetapi kata-kata Romo Marsel masih terngiang-ngiang.

"Seseorang yang hidup di dunia dan tidak mempersiapkan bekal kematiannya, arwahnya tidak bisa langsung kembali bersatu dengan Sang Pencipta atau belum diterima. Mereka tidak jarang masih bergentayangan di alam fana. Hanya saja, ia berada dalam dimensi yang berbeda dengan kita," kata Romo.

"Bisa diibaratkan, kalau kita yang masih hidup di dunia dan memiliki daging yang melekat di tubuh kita ini berada di frekuensi 100, maka mereka yang bergentayangan, berada di bawah frekuensi 100," imbuh Romo Marsel.

Dada Elora terasa sesak. Bukan kali ini saja ia merasakan hati perih setiap kali mengenang kata-kata tentang dunia kematian. Kali ini, kata-kata Romo Marsel, jauh lebih tajam menerobos relung-relung hati yang sebelumnya tak terjamah.

"Manusia harus senantiasa berjaga-jaga sebab kita tidak tahu kapan Yesus akan datang (kematian, red). Kadang manusia tergiur dengan kenikmatan dunia dan kemajuan zaman yang serba instan dan cepat sehingga melupakan kesiapan saat itu (kematian, red) tiba," tutur Romo Marsel.

Elora membenarkan kotbah Romo Marsel. Ia bisa melihat kejadian nyata yang dialami keluarga Lusi, kakak kandungnya sendiri yang berakhir tragis. Kakaknya tersebut meninggal secara tiba-tiba dan disusul suami dan anaknya secara berturut-turut dalam tempo satu bulan.

Elora memiliki hubungan dekat dengan Lusi yang sebelum meninggal telah menikah dengan Michael. Lusi mengenal Michael sejak mereka sama-sama kuliah. Usai menikah, karier keduanya sukses dan dalam tempo lima tahun di usia pernikahan mereka, harta benda dapat diraih dengan mudahnya.

Namun semua berlangsung begitu cepat. Selama kesuksesan tersebut, Lusi seperti melalaikan kehidupan spiritual. Bahkan yang sangat mengejutkan, suatu malam, Lusi bercerita bahwa ia dan suaminya sebelum menikah pernah ke Gunung Kawi untuk mendapatkan berkah kesuksesan.

Elora geleng-geleng kepala. Kakak kandungnya ternyata mau berbuat senekat itu. Belum menikah melakukan ritual sesat? Di Gunung Kawi pula? Apakah kekayaan yang melimpah begitu cepat diperoleh adalah hasil dari ritual itu?

Pertanyaan-pertanyaan itu sulit dijawab oleh Elora. Yang ia tahu, menginjak tahun kedelapan usia pernikahan Lusi dengan Mihael, muncul kejadian tragis silih berganti.

Di suatu siang saat memasak di dapur, Lusi terjatuh secara tiba-tiba. Ia ditemukan suaminya dalam kondisi tak sadarkan diri. Dari mulutnya keluar darah. Di tengah kepanikan, Lusi dibawa ke klinik oleh Michael namun nyawanya tak tertolong.

Doktor memvonis Lusi meninggal karena serangan tekanan darah tinggi yang mendadak dan tiba-tiba. Pembuluh darah Lusi pecah bersamaan dengan jatuh dan kepalanya membentur di lantai dapur.

Michael sangat terpukul atas kejadian itu. Kematian Lusi membuatnya kehilangan pegangan dan jati dirinya. Padahal, mereka sudah memiliki seorang anak lelaki berusia 6 tahun. Dalam tempo satu bulan, perilaku Micahel berubah seratus delapan puluh derajat.

Micahel mengonsumsi minuman keras. Dalam kondisi mabuk itulah, ia dan anak semata wayangnya mengalami kecelakaan tunggal di tol Jagorawi. Mobilnya terhempas setelah menabrak pembatas jalan. Ia meninggal bersama anak lelakinya.

Permasalahan belum selesai. Di rumah yang ditinggalkan Lusi dan Michael berturut-turut terjadi peristiwa di luar nalar. Elora menyaksikan sendiri bagaimana muncul kejadian-kejadian aneh.

Suatu malam, Elora mengirim doa bersama anggota keluarga besarnya di rumah megah peninggalan Lusi dan Micahel. Saat doa didaraskan, ada salah satu saudara Elora mengalami kesurupan.

Saat kesurupan, ia berteriak-teriak “tumbal kurang, tumbal kurang!” Saudari Elora yang kesurupan tersebut baru sembuh setelah didatangkan seorang pendoa. Konon, ia kesurupan roh halus yang tak lain ternyata adalah arwah Lusi.

Baca juga: Mengenaskan, Arwah Keluarga Lusi Gentayangan di Bawah Frekuensi 100?

Kala itu Elora tak bisa memahami apa arti dari kata-kata teriakan itu. Lama baru ia mampu mengunyahnya setelah ia mendiskusikan apa yang ia ketahui kepada keluarga besarnya.

Elora dan keluarga besarnya menduga bahwa teriakan itu ada hubungannya dengan ritual yang dulu dilakukan Lusi dan Micahel di Gung Kawi. Konon, ritual pesugihan harus memenuhi tumbal yang setimpal bila ingin selamat.

Hanya saja, benar dan tidaknya, Elora tak bisa membuktikan atas dugaan-dugaan tersebut. Tetapi bila dikaitkan pula dengan munculnya penampakan lainnya yang menyeramkan di rumah peninggalan keluarga Lusi, dugaan itu terasa semakin kuat.

Beberapa orang dari saudara Elora berulang kali mendengar suara-suara teriakan dari rumah Lusi. Elora sendiri pun pernah menyaksikan dengan kepalanya sendiri. Sementara yang lainnya mengaku melihat Lusi, Michael, dan anaknya bergentayangan di rumah tersebut.

Singkat cerita, Elora dan saudara-saudaranya tak sanggup menempati rumah peninggalan keluarga Lusi. Rumah itu kemudian dibiarkan dan tidak dirawat hingga lama-kelamaan rapuh dan kini dalam kondisi sudah hancur di berbagai sisi.

Konon, warga sekitar juga pernah melihat penampakan misterius dan suara-suara jeritan dari rumah itu. Sejak itu, rumah itu dikabarkan sebagai rumah angker.

Kini, yang dipikirkan Elora adalah nasib kakak kandungnya. Terbersit keinginan untuk mengonsultasikan dengan rohaniwan gereja tentang rahasia keluarga Lusi yang selama ini ia simpan.

Bila memang arwah keluarga Lusi belum tenang dan ada rohaniwan yang mampu membantu memberikan solusi agar mereka menjadi tenang, Elora bersedia menemui mereka.

Dalam hati, Elora berharap masalahnya bisa dibantu oleh Romo Marsel. Ia berniat akan segera menemui rohaniwan Keuskupan Bogor tersebut.


Catatan: Kisah ini ditulis berdasar pengakuan Elora (nama samaran) kepada Netralnews, hari Minggu (11/8/2019).

Editor : Taat Ujianto