• News

  • Sisi Lain

Penampakan Hantu Berpesta dan Berdansa di Rumah Mewah, Bogor

Rumah mewah di Citeureup abad ke-18
foto: jakarta.go.id
Rumah mewah di Citeureup abad ke-18

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - “Saat saya mandi di Sungai Cikeas, ibu saya marah besar dan segera menyeret saya pulang ke rumah,” kenang Liam Tjia.

Ia adalah seorang keturunan Tionghoa yang lahir tahun 1970 di wilayah sekitar Citeureup, Bogor, Jawa Barat.

“Dengan tamparan khas di pantat, saya diingatkan agar tidak mandi di Kali Cikeas. Kata ibu, di situ banyak hantu yang berasal dari arwah orang Belanda yang dibuang ke tempat itu,” sambungnya.

“Memang, saat saya kecil, di wilayah Cibinong hingga Citeureup, masih banyak kejadian aneh. Fenomena gaib itu kemudian menjadi alat para orang tua untuk melarang anaknya agar tidak melakukan kegiatan tertentu,” kata Liam Tjia.

Tak hanya larangan mandi di sungai, ada sejumlah hal yang juga dilarang dilakukan, terutama ketika hari mulai gelap.

“Selain dilarang mandi di sungai, dilarang bersiul di malam hari, juga dilarang keluar rumah sehabis maghrib. Masih banyak larangan lainnya yang ditujukan pada anak-anak seperti saya,” keluh Liam Tjia.

Setelah meminum air mineral, ia kembali melanjutkan kisahnya. Kini dengan nada meyakinkan, “Tapi memang ada benarnya larangan itu. Pernah suatu sore setelah maghrib, saya mendengar dengan jelas, suara musik gamelan berpadu dengan terompet dan seruling dan teriakan ‘Hoseee’."

Kadang mengeras, kadang suara itu menjauh. Kata ibu saya, itu adalah suara hantu-hantu Belanda yang sedang berpesta dan berdansa.

"Kalau kamu dibawa roh hantu itu lalu masuk dalam pesta itu, kamu akan hilang dan nggak akan kembali lagi. Sontak sejak saat itu, saya mau mengindahkan larangan ibu," katanya.

“Saat saya sudah dewasa, saya baru tahu asal-usul fenomena aneh itu. Ternyata apa yang saya alami merupakan jejak-jejak mistis peninggalan kehidupan di sekitar Citeureup pada zaman kolonial Belanda. Kini saya tidak heran,” kenang Liam Tjia.

Kepada penulis, Liam Tjia akhirnya mencoba memberikan gambaran secara lebih detail tentang kisah-kisah kehidupan Citeureup tersebut. Saat penulis kaji dalam sejumlah catatan sejarah, ternyata memang kisah Liam Tjia dapat dipertanggungjawabkan.

Citeureup kini menjadi salah satu wilayah kecamatan di Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Pada abad ke-18, wilayah ini masih dikelilingi hutan karet. Namun, tempat ini selalu menjadi daerah yang dikunjungi para tuan Belanda di Batavia. Kok, bisa?

Dulu, di Citeureup terdapat tempat megah yang setiap akhir pekan ramai dengan pesta, dansa, lengkap dengan ronggeng dan musik pengiringnya. Karena itulah, tempat ini menjadi tujuan liburan bagi tuan Belanda yang suka melancong.

Konon nama Citeureup berasal dari banyaknya pohon Teureup (Artocarpus elasticus) di wilayah ini. Pohon ini dulu banyak tumbuh di sekitar salah satu kali yang melewati daerah ini, yaitu Kali Tjikeas (kini Cikeas). Dalam bahasa Belanda, artinya kali yang melewati Cibinong, Kranggan, sampai Cibubur.

Namun, ada juga yang mengatakan bahwa Citeureup berasal dari Bahasa Belanda yang sering menyebut daerah ini “Het Huis Tjitrap”.  Artinya, rumah mewah atau vila Tjitrap. Di wilayah ini, berdiri rumah super megah yang seolah menjadi lampu bagi laron di malam hari.

Vila itu dibangun dengan seni arsitektur tinggi. Di sekitar rumah megah itu menghampar taman elok, lengkap dengan patung Apollo, Pan, Flora, dan Ceres. Dari vila ini, juga bisa menyaksikan pemandangan Gunung Gede dan Pangrango. Kesan indah tak bisa disembunyikan dari vila ini.

Vila Tjitrap dibangun oleh Agustijn Michielsz yang dikemudian hari lebih dikenal dengan sebutan Mayor Jantje. Ia adalah seorang serdadu kaum Mardijkers (orang merdeka, bukan dari budak) dalam Kompeni Dagang India Timur Belanda. Ia lahir pada 6 Januari 1769.

Di  Vila Tjitrap ini, Agustijn Michielsz mempekerjakan 320 orang budak untuk mengurus rumah tangga, kebun, memasak, tim musik, mengurus dan memanen sarang walet, mengurus kuda, serta lainnya. Nah, yang paling unik di tempat ini, setiap akhir pekan selalu diadakan pesta.

Agustijn Michielsz mempunyai sejumlah budak yang bertugas menjadi tim musik mulai dari gamelan, seruling, klarinet, kecapi, trompet, dan lain-lain (cikal-bakal musik Tanjidor). Pesta selalu diiringi tim musik ini.

Dengan diiringi musik, tuan rumah dan para tuan Belanda yang menjadi tamu berdansa dan menari dengan dikelilingi penari ronggeng. Setiap toast, mereka menenggak minuman keras yang disediakan budaknya sambil teriak “hosee”.

Sambil berdansa, mereka juga menyantap hidangan mewah yang selalu disediakan oleh para juru masak. Dan bila pesta selesai, para tamu biasanya mengajak para ronggeng ikut tidur bersama. Juga para sinyo keturunan tuan Belanda, mereka juga sesuka hati memilih budak sebagai teman tidurnya.

Nah, berawal dari pesta inilah, terjadi sejumlah kisah tragis. Konon, ada seorang sinyo yang bernama Vincent, mempunyai kelakuan sering mengganggu perempuan yang sudah dimiliki budak lelaki. Suatu ketika, ada budak lelaki yang tidak terima karena pasanganya dikencani.

Akhirnya, lelaki itu kemudian membuat rencana membunuh Sinyo Vincent. Ia sediakan minuman yang sudah dicampur arsenik. Kala itu, arsenik adalah racum mematikan yang sering digunakan.

Rencananya berhasil. Sinyo Vincent, saat diajak mengontrol para pekerja di hutan karet, meminum ramuan itu. Ia meregang nyawa dan mati hari itu juga. Konon mayatnya dibuang di Kali Tjikeas.

Sampai akhirnya, mayatnya ditemukan karena tersangkut akar pohon. Gemparlah penghuni Citeureup. Setelah dilakukan penyelidikan, diketahuilah pelaku pembunuhan bernama Karta.

Karta adalah seorang budak, anggota tim musik yang sering memainkan alat musik gamelan. Hari itu juga, Karta dihukum mati dengan cara dipancung. Kematiannya sangat memukul para pemain musik lainnya yang mengetahui betapa ia selama ini sudah bersabar menghadapi kelakuan Sinyo Vincent.

Setelah kematian Karta, konon arwahnya mengganggu para pemain musik. Demikian halnya Sinyo Vincent yang dibuang di Kali Tjikeas. Arwahnya juga konon mengganggu banyak orang di masa itu.

Pernah suatu ketika, tercatat seekor harimau memangsa dua orang budak dan seorang Belanda. Mereka mati di pinggir Kali Tjikeas. Warga mempercayai bahwa mereka mati oleh siluman Sinyo Vincent yang menjelma menjadi seekor harimau.

Editor : Taat Ujianto