• News

  • Sisi Lain

Nyata Terjadi! Kuntilanak Takluk dengan Ikan Betok

Ikan betok
foto: IDNtimes.com
Ikan betok

PURWOREJO, NETRALNEWS.COM - Jarum jam di tangan Prastowo (44) tepat menunjukkan 00.00 WIB tengah malam. Suara lirih detik jam tangannya disahut dengan bunyi serangga dan binatang air di sungai yang beradu muka dengan pantai Selatan. Suara gemuruh ombak memukul pantai terdengar dari kejauhan.

Ini adalah malam kedua bagi Prastowo menyusuri muara Kali Jali yang berada di Desa Keburuhan, Kecamatan Ngombol, Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah. Ia sedang berburu binatang yang menjadi sumber penghidupannya beberapa tahun terakhir.

Binatang itu biasa disebut elver atau benih sidat (Anguilla sp). Di pasaran, jenis ikan yang berlimpah di daerah sepanjang muara pantai Selatan ini, sedang naik daun. Harganya cukup memanjakan para pemburunya. Namun, untuk menangkapnya bukan perkara gampang.

Hari pertama, Prastowo harus mencari dan menentukan lokasi yang tepat untuk memasang jaring-jaring perangkap elver. Dengan dibantu dua rekannya, pemasangan jaring tuntas pada sore harinya.

Namun, hingga dini hari pada malam pertama, elver belum berhasil ia tangkap. Ia hanya memperoleh udang kali jenis Macrobrachium lanchesteri dan ikan keting atau Mystus singaringan.

“Malam pertama di muara, saya masih bersama dua rekan saya. Malam itu udara dingin sekali. Air laut pasang. Udara gelap pekat. Saya merasakan ada yang ganjil, seperti ada sosok-sosok yang sedang memperhatikan kami. Bulu kuduk saya terus saja berdiri,” tutur Prastowo kepada Netralnews beberapa waktu lalu di Purworejo, Jawa Tengah.

Untuk menangkap elver, waktu yang sangat baik adalah saat air laut pasang dan tidak saat terang bulan. Sidat adalah binatang pemalu dan tidak menyukai cahaya. Binatang itu tidak agresif saat air laut pasang dan biasanya akan bermunculan dan berkumpul ke tepi muara sungai.

“Malam kedua, dua rekan saya mengalami demam. Mereka tak sanggup melanjutkan perburuan. Saya pun sendirian berburu karena sayang bila elver muncul dan tidak ditangkap. Namun di malam kedua, hal aneh yang saya rasakan di malam sebelumnya, terbukti,” lanjutnya.

Prastowo sebenarnya sudah terbiasa menjelajahi tempat-tempat angker. Bukannya karena ia menyukai tempat angker, namun profesinya sebagai pemburu sidat terpaksa harus membiasakan diri dengan lokasi seperti itu. Persembunyian sidat sering identik dengan tempat angker.

Sebelum sungai bertemu dengan laut di bibir pantai, pinggiran sungai selalu ditumbuhi banyak pohon besar atau rimbunan pohon bambu. Sidat berukuran kecil hingga besar biasanya menghuni di bawahnya. Namun, di lokasi itu juga menjadi hunian beragam makhluk halus.

Prastowo mengisahkan, “Sebelum muncul penampakan, aroma singkong bakar menyengat hidung saya. Sebenarnya, saya sudah hafal dengan aroma itu. Ada dua arti di balik pertanda itu. Pertama ada mahkluk halus mendekati saya atau binatang melata seperti kobra atau ular belang yang berada di dekat saya.”

Menurut Prastowo, siapapun yang terbiasa menjelajahi kehidupan malam di pelosok desa di wilayah Jawa, pasti pernah mengalami peristiwa serupa. Dapat dipastikan, aroma singkong bakar di malam hari bukan berasal dari asap pembakaran singkong sungguhan. Itu isyarat makhluk halus.

“Orang yang mencium aroma itu harus waspada. Seluruh jiwa dan raganya sedang diuji. Bila tidak kuat, lebih baik menghindar dan menjauhi tempat itu, dari pada mengalami kejadian yang mengancam jiwanya,” demikian pesan Prastowo.

Orang yang tak kuat bisa pingsan. Bahkan menurutnya, “Bisa pula kehilangan orientasi atau kehilangan kesadaran arah mata angin. Ia bingung dan tak tahu di mana posisinya. Ini yang menyebabkan orang tersesat di malam hari."

"Padahal saat normal, ia terbiasa di lokasi itu. Namun, karena tak kuat diganggu roh halus, seolah-olah ia bingung di mana berada, walau di rumah sendiri,” sambungnya.

Dapat dibayangkan, orang yang pingsan di pinggir sungai dan jauh dari keramaian, bisa saja akan jatuh ke aliran sungai dan tentu saja bisa mati. Maka, aroma singkong bakar memang jangan diremehkan dan patut diwaspadai.

“Harus saya akui, walaupun sudah terbiasa, malam itu saya benar-benar merinding. Sempat ada keraguan apakah aku tinggal saja atau tetap bertahan. Sementara itu, aroma singkong bakar semakin menyengat. Pasti akan muncul sesuatu. Dan benar saja, dari arah rimbunan pohon bambu melayang sosok perempuan bergaun putih,” kenang Prastowo.

Ia sendiri mengaku heran, mengapa makhluk halus yang menghuni pinggiran kali sering berwujud sosok perempuan. Orang banyak sering menyebutnya kuntilanak, sundel bolong, wewe gombel, lampor, dan lain-lain. Ataukah karena Prastowo seorang lelaki, sehingga roh pengganggu menjelma menjadi sosok perempuan?

“Sosok putih itu melayang dan mendekati saya sambil melambaikan tangannya minta diperhatikan. Lampu senter saya nyalakan ke arah mukanya. Begitu jelas. Wajahnya putih tapi pucat. Di sekeliling matanya bulat hitam besar dan tengahnya bersinar. Mulutnya bolong berwarna hitam seperti membusuk. Rambutnya hitam kemerahan berkibar tertiup angin,” katanya.

Prastowo berusaha memberanikan diri dan membaca semua doa yang pernah ia pelajari. Ia tatap sekali lagi sosok itu dengan tetap menyalakan lampu senternya. Prastowo yakin bahwa sosok itu hanya ingin menakuti, karena merasa terganggu dengan keberadaannya. Makhluk itu akan senang bila manusia ketakutan dan lari meninggalkannya.

“Saya ambil ikan lele yang sudah saya siapkan. Saya robek perutnya dan saya lempar ke arah rerimbunan pohon bambu. Kuntilanak suka menghisap darah ikan lele, dan itu kepercayaan serta cara saya menghadapi gangguan kuntilanak,” ujar Prastowo.

Yang dilakukan Prastowo rupanya cukup manjur. Melihat kelebatan ikan lele sebesar lengan melayang, sosok itu mengikuti arah lemparan dan jatuhnya ikan lele. Ia melesat dan menghilang. Sejenak Prastowo lega. Ia menarik nafas panjang.

Selang beberapa lama, Prastowo berniat mendekati jaring perangkap elver. Udara masih dingin. Rasa takut dalam diri Prastowo berangsur pergi. Namun, belum ia beranjak, lagi-lagi sosok perempuan itu kembali datang mendekatinya. Bulu kuduk prastowo kembali berdiri.

Dengan mengumpulkan kepercayaan diri dan sambil mengucapkan doa, Prastowo mengambil ikan lele dan merobek perutnya sekali lagi. Namun, kali ini ia pungut juga seekor ikan betok (Anabas testudineus) sebesar tiga jari kemudian melemparkan keduanya ke rimbunan pohon bambu.

“Ikan betok adalah jenis ikan yang memiliki duri yang banyak dan ditakuti kuntilanak. Ikan itu juga selalu saya bawa sebagai salah satu cara melawan gangguan roh halus penghuni kali,” kata Prastowo.

Sambil melempar, Prastowo juga mengumpat, “Awas kalau datang lagi ke sini. Saya mau cari makan dan bukan mau mengganggu kalian!”

Ia menunggu bila sosok itu kembali datang. Ia sudah siapkan alat terakhir bila kuntilanak itu masih saja mengganggunya. Namun, yang ditunggu tak lagi menunjukkan mukannya.

Jam yang melingkar di tangan Prastowo menujukkan pukul 3.20 WIB. Prastowo beringsut melawan dingin menuju jaring perangkap elver. Ia angkat jaring itu. Di dalamnya, ada elver masuk ke jaring, tetapi tidak banyak dibandingkan udang yang masuk perangkap.

Begitu melihat kilatan cahaya yang memantul dari tubuh elver, hati Prastowo girang. Ia yakin, elver sudang mulai berdatangan. Rejeki tak akan ke mana-mana selama ada usaha dan pantang menyerah dari segala gangguan.

Benar saja, pada malam ketiga, bersama kedua rekannya yang sudah pulih, ia berhasil memanen elver lebih banyak lagi. Di malam ketiga, kuntilanak tidak datang mengganggu. Sepertinya ia kapok dan takut dengan ikan betok. Mungkin sosok itu juga sudah tahu bahwa Prastowo bukan ingin mengusiknya.

Editor : Taat Ujianto