• News

  • Sisi Lain

Tak Sadar Hidupkan Mantra Kuno, Susan Masuk ke Dunia 300 Tahun Lalu

Makam Belanda di Pulau Onrust
foto: travelingyuk.com
Makam Belanda di Pulau Onrust

JAKARTA, NETRALNEWS.COM – Usai baca mantra kuno, Susan tersadar bahwa kalimat mantra itu berisi permintaan manusia untuk bersekutu dengan iblis. Susan berpikir bahwa kalimat mantra itu harus dimusnahkan.

Sayangnya sudah terlambat. Tanpa sadar, ia telah menghidupkan kembali mantra itu sehingga dengan sekejab munculah pusaran angin di dalam kamar kosnya. Disusul kemudian asap hitam menyelimuti Susan yang mulutnya mendadak tercekat dan tak bisa bersuara.

Pandangan Susan berubah menjadi gelap. Ia tak sadarkan diri. Saat bangun, apa yang dilihatnya bukan lagi kamar kosnya.  Ia kini berada di Pulau Onrust pada era 300 tahun lalu.

Pandangan ia tebarkan ke kanan dan ke kiri. Jelas ia tidak sedang berada di pinggir pantai dengan pemandangan laut yang indah. Ia tengah terperosok dalam ruangan bawah tanah di pulau itu.

Anehnya, ia hanya bisa berdiri dan memandangi semua penampakan yang terjadi di hadapanya, Ia tak bisa menyentuh apapun. Ia juga tak bisa mengeluarkan suara. Mulutnya terkunci.

Di ruang bawah tanah itu, Susan melihat seorang pria pimpinan sekte mengenakan topeng kambing Sabbatic Goat yang biasa dikenal dengan sebutan Baphomet. Pria itu sedang melakukan upacara ritual bersama dua rekannya.

Baca juga:

Susan Tak Sadar Baca Mantra Kuno, Roh Maria, Sang Penunggu Pulau pun Bangkit (1)

Kisah Pilu Arwah Maria van de Velde saat Saksikan Puisi Diukir di Peti Matinya

Tiga Abad Kejar Pria Idaman di Jakarta, Roh Perempuan Berambut Pirang Gentayangan

Salah satu pria berpenampilan seperti bangsawan Belanda. Seorang lagi seperti dokter yang mengenakan topeng burung dan membawa pisau bedah. Sementara di pojok ruangan, ada seorang pria pribumi berdiri mematung di dekat peti sarkofagus yang tampak kosong.

Susan mulai ketakutan dengan prosesi-prosesi yang ia kenal sangat kental dengan penyembahan iblis. Ia menggigil ketika melihat tiga perempuan tiba-tiba diseret oleh pria pribumi ke tengah-tengah upacara sesat itu.

Dengan lihainya, pria yang berperawakan Belanda mengayunkan pisau menyembelih ketiga perempuan pribumi yang malang itu. Ketiganya menjerit namun suara jeritan segera berganti dengan semburan darah dari leher.

Pisau kembali diayunkan ke arah dada sebelah kiri. Segera terkoyaklah rongga dada dan dengan cekatan, pria Belanda itu mengambil jantung ketiga perempuan itu.

Jantung-jantung perempuan muda berhasil diambil dan masih berdetak ketika di letakkan di cawan ritual. Darah segarnya dibagikan di cangkir untuk diminum oleh ketiga pemuja itu. Mereka berikrar untuk kejayaan, kekuasaan, dan kemenangan di dunia baru yang akan mereka ciptakan.

Mendadak muncul suara teriakan wanita muda seperti dari atas ruang bawah tanah. Teriakan panggilan itu menggunakan bahasa Belanda. Katanya, "Myn leuk..., Myn leuk,” yang artinya "Sayangku" .

Rupanya, pemilik suara itu tengah mencari kekasihnya yang tak lain adalah pemimpin sekte sesat yang baru saja mengirim persembahan kepada iblis sembahan mereka. Sang pemimpin sekte segera melepas topeng, membersihkan tangannya dari darah, dan segera menuju ke atas.

Anggota sekte lainnya ikut berbenah. Onggokan mayat perempuan malang dimasukkan dalam karung oleh pria pribumi dan dibawa entah ke mana. Sementara seorang pria Belanda yang terlihat tua keluar dari pintu lain.

Dia atas ruang bawah tanah, seorang gadis cantik berbinar-binar memamerkan matanya yang biru, begitu melihat pemuda pujaannya muncul di hadapannya. Gadis itu adalah Maria van de Velde.

Baca juga:

Susan Tak Sadar Baca Mantra Kuno, Roh Maria, Sang Penunggu Pulau pun Bangkit (1)

Kisah Pilu Arwah Maria van de Velde saat Saksikan Puisi Diukir di Peti Matinya

Tiga Abad Kejar Pria Idaman di Jakarta, Roh Perempuan Berambut Pirang Gentayangan

Di dinding salah satu ruangan klinik terdapat foto pria Belanda yang tampan. Di bawah foto menempel label nama Jehovah van Koenraad. Dialah kekasih Maria, sang pemimpin sekte penganut Luciferian.

Jehovah menghindar dari gelayutan Maria yang manja ingin memamerkan gambar desain gaun pengantin yang akan dikenakannya saat pesta perkawinannya dengan Jehovah.

Mereka kemudian bercakap mesra tentang impian hidup bahagia usai perkawinan dilangsungkan. Sementara itu, mata Susan beralih ke belakang klinik yakni ruang kerja seorang pria pribumi yang tengah memahat puisi pada peti sarkofagus.

Rupanya ia adalah pemahat peti mati yang digunakan untuk mengubur orang-orang Belanda yang meninggal. Susan terus berjalan seperti dituntun oleh kekuatan tak terlihat.

Kini ia melihat bangsal cukup luas berisi puluhan pasien yang terbaring dan mengerang. Bau obat menyeruak. Mereka adalah para pesakitan yang sedang menjalani perawatan sang dokter yang tak lain adalah ayah Maria Van de Velde.

Tiba-tiba angin berhembus kencang. Semua pemandangan tentang sekitar klinik di Pulau Onrust menghilang. Susan menyadari dirinya telah kembali ke kamar kosnya. Namun, di depannya muncul sosok hitam berwajah Jehovah, pria Belanda kekasih Maria Van de Velde dengan sorot mata tajam.

Jehovah datang bersama kekuatan iblis. Ia menghampiri dan mendekati Susan, kemudian bayangan itu melayang dan merasuk melalui napas Susan. Ia kini menyatu dalam tubuh Susan.

Susan merasakan dirinya tak lagi satu tapi dua. Kadang tubuhnya dikuasai Jehovah. Terkadang, dirinya yang asli sebagai gadis mahasiswi menguasai tubuh cantiknya.

Sejak raganya dijajah iblis Jehovah, Susan memilih mengurung diri di dalam kamar kos.  Ia khawatir sesuatu yang buruk akan terjadi.

 

Bersambung.

Catatan: Kisah ini diadopsi dari kisah Astryd Diana Savitri dalam Sarcophagus Onrust (2018).

Editor : Taat Ujianto