• News

  • Sisi Lain

Berkunjung ke Kediri, Jakowi Kena Kutukan Mpu Gandring?

Ilustrasi Presiden Joko Widodo dan pandai besi tempo dulu
foto: istimewa
Ilustrasi Presiden Joko Widodo dan pandai besi tempo dulu

JAKARTA, NETRALNEWS.COM – Publik mendadak dikejutkan dengan pernyataan Sekretaris Kabinet Pramono Anung yang menyarankan agar Jokowi tidak berkunjung ke Kediri. Konon, siapapun presiden yang berkunjung ke Kediri, niscaya akan lengser keprabon.

Ada banyak pendapat mengapa mitos muncul. Permasalahnya bukan bisa dinalar atau tidak, namun ini persoalan percaya atau tidak. Bagi yang percaya, secara bawah sadar akan mearasa was-was jika melanggar kepercayaan (mitos) tersebut. Mungkin begitulah jalan pikir Pramono Anung.

Terlepas dari jalan pikir Pramono Anung, yang pasti, hingga kini sebagian masyarakat mengait-ngaitkan mitos tersebut dengan sejarah asal usul Kota Kediri di masa lampau. Mungkinkah ada kaitannya dengan kutukan Mpu Gandring kepada Ken Arok?

Korban baru enam

Kisah kisah Mpu Gandring begitu melegenda. Sang pembuatnya telah mengeluarkan kutukan maut yang akan mendatangkan malapetaka. 

Dalam catatan kitab Pararaton atau Katuturanira (gubahan tahun 1478 dan 1486 tanpa disebutkan penggubahnya), dikisahkanlah sosok Ken Angrok yang berhasil menjadi Raja Singasari setelah membunuh penguasa Tumapel. Sang Raja yang mendatangi Mpu Gandring untuk dibuatkan keris yang sakti mandraguna.

Keris itu akan digunakan untuk merebut sosok pujaannya yang cantik mempesona yakni Kendedes, permaisuri Tunggul Ametung. Menurut pendeta Lohgawe, jika ia bisa memperistri Ken Dedes, maka Ken Angrok akan menjadi raja besar.

Singkat cerita, atas saran Bango Samparan, ayah angkatnya, Ken Angrok memesan keris kepada Mpu Gandring di daerah Lulumbang. Kepada Mpu Gandring, Ken Angrok meminta agar kerisnya selesai dibuat selama lima bulan, sementara Mpu Gandring minta waktu setahun.

Ternyata benar. Setelah lima bulan berikutnya, Ken Angrok datang kembali dan memaksa mengambil keris tersebut.

Karena belum jadi secara sempurna, Mpu Gandring menolak menyerahkannya. Fatal, ternyata Ken Angrok memaksa dan justru menikam Mpu Gandring dengan keris yang belum sempurna itu.

Sebelum Mpu Gandring menemui ajal, ia mengutuk Ken Angrok. Katanya, Ken Angrok dan tujuh keturunannya akan mati oleh keris itu. Terdorong oleh rasa bersalah,  Ken Angrok kemudian menyampaikan janjinya jika impiannya tercapai, ia akan menyejahterakan keturunan Mpu Gandring.

Sejak saat itu, keris Mpu Gandring terus memakan korban. Semua korban terkait dengan suksesi kekuasaan dari Akuwu Tunggul Ametung dan terus berlanjut hingga kerajaan Singasari yang berhasil didirikan Ken Angrok.  Siapakah korban-korban dari kutukan keris Mpu Gandring?

Setelah sang pembuatnya, korban kedua adalah Tunggul Ametung, Akuwu Tumapel suami pertama dari Ken Dedes. Ia dibunuh oleh Ken Arok.

Korban ketiga adalah Kebo Hijo (Kebo Ijo) yang diperdaya dan juga dibunuh oleh Ken Arok.

Korban keempat adalah Ken Arok sendiri. Ia dibunuh oleh Ki Pengalasan atas perintah Anusapati, anak kandung dari hubungan Tunggul Ametung dan Ken Dedes. Anusapati merasa dendam dan ingin membalaskan kematian ayahnya.

Korban kelima adalah Ki Pengalasan yang kemudian dibunuh oleh Anusapati dengan keris Mpu Gandring dengan tujuan untuk menghilangkan jejak. Namun demikian, alibinya telanjur terbongkar dan diketahui oleh anak kandung Ken Angrok dengan Ken Umang.

Namun hingga Anusapati, dalam Pararaton tidak disebutkan lagi korban ketujuh. Berbagai kalangan menafsirkan berbeda-beda. Apakah kutukan Mpu Gandring masih menanti korban berikutnya? Apakah mitos Presiden berkunjung ke Kediri makan akan menjadi korban ketujuh dari kutukan itu?

Presiden lengser keprabon

Kepercayaan berbau mistis yang berkembang di masyarakat Indonesia, tak bisa dilepaskan dari ekspresi pengalaman masa lampau. Sebagian orang mnegaitkan kebenaran mitos itu dengan bukti bahwa Presiden ke-4 RI Abdurrahman Wahid (Gus Dur) lengser karena mengunjungi Kediri.

Kala itu, Gus Dur berkunjung ke Kediri untuk membuka Muktamar Nahdlatul Ulama (NU) di Lirboyo, Kediri, pada 21 November 1999. Ia kemudian lengser pada 2001, sebelum periode masa jabatannya habis.

Konon, Bacharuddin Jusuf (BJ) Habibie (Presiden RI 1998-1999) juga lengser keprabon tiga bulan sesudah mengunjungi Kediri. Hanya saja, ia bukan dilengserkan tetapi karena tidak ikut kontestasi pencapresan tahun 1999.

Sementara Soeharto dikabarkan tidak pernah menginjakkan kaki di Kediri oleh sebab itu Soeharto berkuasa sampai 32 tahun. Mereka kadang lupa, walaupun Soeharto tak berkunjung ke Kediri, ia toh akhirnya juga dilengserkan pada tahun 1998.

Mitos tetap tinggal sebagai mitos. Buktu lebih kuat ditunjukkan dalam perjalanan Presiden ke-6 RI Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Ia pernah dua kali berkunjung ke Kediri. SBY ternyata tidak pernah dilengserkan dan berhasil menyelesaikan dua periode jabatannya (2004-2009 dan 2009-2014).

Dua kali SBY berkunjung ke Kediri antara lain saat mengunjungi pengungsi letusan Gunung Kelud di Desa Segaran, Kecamatan Wates, pada 25 Oktober 2007. Kemudian pada 17 Februari 2014, SBY juga kembali datang ke Masjid An-Nur, Pare, Kediri dengan tujuan yang sama.

Terlepas dari pro dan kontra terhadap mitos yang mendadak viral usai dikisahkan Pramono Anung, kita tidak bisa memaksa masyarakat yang tetap mempercayai akan mitos tersebut. Selama mitos tersebut tidak menimbulkan “korban” dan pembohongan publik, biarlah tetap menjadi mitos.

Editor : Taat Ujianto