• News

  • Sisi Lain

Ngeri! Ada Penampakan Sosok Perempuan Pirang Saat Pasien DBD Ini Jemput Ajal

Ilustrasi lorong di rumah sakit yang dikabarkan angker di Cimahi, Jawa Barat
foto: istimewa
Ilustrasi lorong di rumah sakit yang dikabarkan angker di Cimahi, Jawa Barat

CIMAHI, NETRALNEWS.COM - “Perempuan berambut pirang, berwajah pucat, dan berbaju putih itu tiba-tiba melintas di koridor bangsal dan berjalan ke arah kamar mayat,” kata Liana (41) mengenang pengalamannya saat menjaga anaknya yang dirawat inap karena terkena DBD di Rumah Sakit Dustira, sekitar satu setengah tahun lalu.

Sambungnya, “Penampakan misterius itu masih berlanjut. Tengah malam berikutnya, saat saya terbangun karena terlelap, tiba-tiba sosok itu berada di samping seorang pasien tak jauh dari anak saya. Sosok itu berdiri membelakangi saya sambil bercakap-cakap dengan pasien itu.”

Karena penasaran dengan sosok itu, Liana bangun dan mendekatinya untuk sekedar memastikan apa yang ia lihat. “Namun saat saya semakin mendekat, sosok berambut pirang itu segera pergi berjalan menjauhi saya dan keluar bangsal.”

Perhatian Liana pun beralih ke pasien yang baru saja didekati sosok itu. Pasien itu adalah seorang anak perempuan seusia dengan anaknya, sekitar 13 tahun, sedang terengah-engah dengan selang oksigen di hidungnya.

Liana tahu bahwa anak itu juga sakit karena DBD. Namun, ia jauh lebih parah dibanding anaknya. Sehari sebelumnya, pasien itu mengalami pendarahan dan muntah-muntah.

Di bawah pasien itu, ibunya sedang tidur meringkuk. Baik pasien dan ibunya, tak ada tanda-tanda terbangun dan terjaga. Padahal Liana baru saja mendengar ada percakapan lirih antara sosok berambut pirang dengan anak itu.

Kawatir malah mengganggu pasien, Liana putuskan kembali menjaga anaknya. Dalam hatinya muncul perasaan takut. Siapakah perempuan itu? Apakah sosok berambut pirang itu adalah seorang perawat?

Ia mencoba mengingat selama lima hari di rumah sakit itu. Ia meyakini memang belum pernah berjumpa ataupun melihat perawat bule berambut pirang di rumah sakit itu. Ia berniat akan menanyakan hal ini pada keesokan harinya.

Karena lelah, Liana pun terlelap. Ia terjaga ketika mendengar raungan dan tangisan pilu. Ia usap matanya untuk meyakinkan tentang apa yang ia lihat. Ibu dari pasien yang tadi malam didatangi sosok perempuan berambut pirang sedang menangis histeris.

Ibu malang itu mendekap dan mengguncangkan anak kesayangannya yang terlihat lunglai. Sementara dua perawat sedang mencopoti jarum infus dan selang oksigen.

Liana baru tahu, ternyata anak perempuan yang terkena DBD kronis dan tadi malam didatangi sosok perempuan berambut pirang itu telah meninggal.

Tiba-tiba suasana hatinya dilanda kepedihan. Di sudut matanya mengalir air tanpa diminta.

Ia mendekap anaknya yang tampak terbangun dengan wajah ketakutan. Ia bisikkan ke anaknya, “Mari kita doakan anak itu agar diterima di sisi Tuhan. Mohon juga kepada Tuhan agar kamu bisa segera sembuh.”

Sebenarnya, kondisi anak Liana sudah semakin membaik. Namun ia kawatir psikis anaknya terguncang karena menyaksikan pasien tak jauh dari ia berbaring, telah meninggal.

Liana pun meminta pindah kamar kepada suster kepala bangsal. Ia bersyukur, permohonannya ternyata dikabulkan. 

Dua hari berikutnya anaknya sembuh dan diperbolehkan pulang. Sebelum pulang, ia teringat dengan sosok perempuan berambut pirang misterius itu. Selama dua malam terakhir, ia tidak melihatnya lagi.

Saat mengurus administrasi perawatan, ia beranikan bertanya kepada suster penjaga bangsal. Katanya, “Maaf Suster, apakah di sini ada seorang perawat bule berambut pirang?”

Pertanyaannya ternyata membuat dua oarang suster di depannya saling berpandangan.

“Tidak ada, Bu. Memangnya ada apa?” jawab salah satu perawat.

Liana tidak menjawab namun justru bertanya kembali. Katanya, “Apakah Suster mengetahui ada perempuan berambut pirang pernah membesuk pasien di bangsal ini?” Kembali para suster saling berpandangan sambil mengernyitkan dahi.

“Tidak ada perempuan bule berkunjung ke bangsal ini selama satu minggu ini. Sebenarnya ada apa, Bu? Apakah ibu melihat ada perempuan bule? Apa yang ia lakukan?” berondong suster.

Kali ini justru Liana yang mengernyitkan dahi. Ia memutuskan menjawab, “Tidak apa-apa, Suster. Mungkin karena saya terlalu lelah sehingga berpikir yang tidak-tidak.”

Selesai mengurus administrasi, Liana bergegas meninggalkan para suster yang dibuat penasaran oleh Liana. Sementara Liana juga berusaha menelan rasa penasarannya dalam-dalam.

Selang beberapa hari berikutnya, Liana mencoba menelusuri latar belakang rumah sakit Dustira. Ia baru tahu bahwa rumah sakit itu ternyata merupakan rumah sakit bersejarah.

Rumah sakit yang berada di Jalan Jendral Achmad Yani, Kota Cimahi, Jawa Barat itu berdiri sejak tahun 1887. Selama masa pemerintah Hindia Belanda, tempat ini telah dihuni pasien yang tak terhitung jumlahnya.

Orang-orang Belanda, indo, atau orang bule lainnya pernah bertarung melawan maut di bangsal-bangsal rumah sakit itu. Dan saat pendudukan Jepang hingga kemerdekaan, rumah sakit ini tetap menjalankan fungsinya.

Terakhir, Liana pun baru tahu tentang cerita lisan warga Cimahi. Banyak warga Cimahi juga mengaku sering melihat penampakan sosok perempuan berambut pirang.

Perempuan itu diyakini adalah salah satu pasien yang meninggal dan arwahnya menghuni rumah sakit itu.

Konon, sosok itu menampakkan diri  bila ada pasien yang akan meninggal. Roh itu seolah bertugas untuk menghibur, menjemput, dan menghantar jiwa-jiwa pasien yang mendekati ajal.

Saat mengetahui cerita lisan itu, Liana tertegun. Percaya tidak percaya, ia sendiri mengalami peristiwa itu.

Sebagai warga baru yang tinggal di Cimahi, ia sangat menghargai kearifan sejarah, budaya, mitologi, dan segala hal yang menyangkut latar belakang kota yang akan ia tinggali selama waktu yang tak tahu sampai kapan.

Yang jelas, suaminya memutuskan membeli rumah di daerah Cimahi. Dan ia ingin akrab dengan semua hal tentang kota itu. Ia meyakini bahwa di manapun manusia berada, sebenarnya terdapat energi lain atau roh halus yang kadang menampakkan dirinya.

Penampakan itu selalu mempunyai arti dan pesan. Tinggal bagaimana manusia menyikapinya.

Editor : Taat Ujianto