• News

  • Sisi Lain

Usai Digoda Ratu Kidul, Diponegoro Dapat Ilham Nogo Siluman di Istana Arwah

Ilustrasi keris Nogo Siluman milik Pangeran Diponegoro
foto: istimewa
Ilustrasi keris Nogo Siluman milik Pangeran Diponegoro

JAKARTA, NETRALNEWS.COM – Sosok Pangeran Diponegoro dari dulu hingga kini selalu menyisakan berbagai kontroversi. Baru-baru ini, muncul hal menarik terkait keris yang disebut-sebut berada di Belanda.

Ternyata, selain keris Kiai Bondoyudo yang dipercaya ikut dikubur bersama jasad Pangeran Diponegoro, masih ada keris lain, yakni Kiai Nogo Siluman. Keris inilah yang sempat "tak terlacak" keberadaannya selama bertahun-tahun.

Keris Kiai Nogo Siluman dikirim Pemerintah Kolonial Belanda kala itu ke Belanda sebagai tanda bahwa perlawanan Pangeran Diponegoro atau Perang Jawa (1825-1839), berhasil dipadamkan.

Selain Kiai Nogo Siluman, menurut sejarawan Peter Brian Ramsey Carey, ada juga satu keris lain yang berada di Belanda yakni keris dari Hamengkubuwono kedua.

Peter Carey menjelaskan dalam kajiannya, "Babad Diponegoro" selama 40 tahun ini menekankan pentingnya keris Kiai Nogo Siluman ini. Keris itu dirampas dan dikirim ke Belanda bersam Tombak Kiai Rondhan dan pelana kuda.

Perampas pertama ternyata adalah Kolonel Jan-Baptist Cleerens. Ia memperoleh benda-benda pusaka itu saat bernegosiasi pertama kali dengan Pangeran Diponegoro di Banyumas pada 11 November 1829.

Keris kemudian dibawa ke Belanda untuk dipersembahkan kepada Raja Wilem 1 yang bertahta di Den Haag pada awal tahun 1831. Keris tersebut disimbolkan sebagai kemenangan Belanda pada Perang Jawa.

Secara kebetulan, Raden Saleh, pelukis yang sedang magang di Belanda antara 1830-1839 secara khusus dipanggil ke Istana di Den Haag untuk mendeskripsikan benda-benda pusaka, termasuk keris Kiai Nogo Siluman.

Setelah itu, keberadaan keris Kiai Nogo Siluman menjadi simpang siur. Informasi terakhir yang diketahui Peter, keris itu berada di dalam museum di KKZ (Koninklijk Kabinet Van Zeldzaamheden) atau koleksi khusus kabinet Kerajaan Belanda.

Namun, seiring dibubarkannya KKZ pada tahun 1883, sejumlah koleksi KKZ disebar ke sejumlah 7 museum, tidak terkecuali Keris Kiai Nogo Siluman milik Pangeran Diponegoro.

Namun, dokumentasi dan catatan mengenai keris tersebut tidak ada sehingga keris tersebut dinyatakan hilang keberadaannya.

Pada tahun 1975, pemerintah Indonesia dan Belanda melakukan kesepakatan atas pengembalian benda-benda bersejarah terkait tokoh bersejarah yang membuahkan pengembalian benda-benda bersejarah kepada Indonesia pada tahun 1978.

Benda-benda yang dikembalikan ada di antaranya miliki Pangeran Diponegoro yakni payung kehormatan, tombak dan pelana kuda. Dapat diketahui bahwa keris miliki Pangeran Diponegoro tidak ada karena tidak terlacak keberedaannya diakrenakan tidak adanya dokumen yang menyatakan di mana keberadaan Keris Kiai Nogo Siluman tersebut.

Akhirnya pada tahun 2017, pencarian keris milik Pangeran Diponegoro dimulai kembali atas desakan dari pihak eksternal serta terbitnya buku-buku mengenai Pangeran Diponegoro.

Keris Kiai Nogo Siluman ditemukan berada di Museum Volkenkunde, Leiden. Bentuk fisik Keris Kiai Nogo Siluman yakni berwarna hitam dengan ukiran yang dilapisi emas.

Sebelum Keris Kiai Nogo Siluman menjadi koleksi Museum Nasional Indonesia, keris tersebut diserahkan kepada I Gusti Agung Wsaka Puja di Kedutaan Besar Republik Indonesia di Den Haag Belanda oleh Ingrid Van Engelshoven pada 3 Maret 2020 lalu dan tiba di Indonesia pada kamis 5 Maret 2020 kemarin.

Berdasarkan pernyataan-pernyataan di atas, terhitung sejaku tahun 1831 atau lepasnya keris milik Pangeran Diponegoro dari pemiliknya kepada pihak Belanda, membutuhkan waktu selama 189 tahun untuk mengembalikan Keris Kiai Nogo Siluman kembali ke kampung halamannya, Indonesia.

Mengapa disebut siluman

Seperti dilansir Historia, saat Raden Saleh diminta menjelaskan keberadaan pusaka Diponegoro, ia segera membuat penilaian singkat mengenai khususnya terhadap Kiai Nogo Siluman:

“Kiai berarti tuan. Semua yang dimiliki seorang raja memakai nama ini. Nogo adalah ular dalam dongeng dengan sebuah mahkota di kepalanya. Siluman adalah sebuah nama yang terkait dengan bakat-bakat luar biasa, semacam kemampuan untuk menghilang dan seterusnya. Oleh karena itu, nama keris Kiai Nogo Siluman berarti raja ular penyihir, sejauh hal itu dimungkinkan untuk menerjemahkan sebuah nama yang megah.”

Ketika Raden Saleh mengungkapkan kata-kata itu, menurut Kraus, dia sebenarnya juga bisa berlutut dan menangis di hadapan keris itu. Namun, kelemahan itu tidak dia perlihatkan di kantor Van Kasteele. Orang pasti menduga, di dalam dirinya tentu bergolak perasaan luar biasa.

Dalam biografi Pangeran Diponegoro, Kuasa Ramalan, sejarawan Peter Carey mencatat kemungkinan karena Diponegoro dalam perjalanan berkelananya pada 1805 menginap satu malam di Gua Siluman (Guwo Seluman) di Pantai Selatan.

Gua Siluman disebut dalam Kidung Lelembut (Nyanyian Arwah) sebagai istana arwah di bawah kekuasaan dewi pantai selatan, Ratu Kidul, yang diperintah melalui wakilnya, Putri Genowati.

Ratu Kidul mendatangi Diponegoro dalam bentuk semburat cahaya. Namun, Diponegoro demikian terserap dalam samadinya sehingga tak mempan digoda. Dia pun mundur sambil berjanji bila saatnya tiba akan datang lagi kepadanya.

“Sebilah keris pusaka Diponegoro, yang kemudian diserahkan kepada Raja Belanda, Willem I, sebagai suatu lambang kemenangan dalam perang, konon bertatahkan nama Kanjeng Kiai Naga Siluman,” tulis Carey.

Editor : Taat Ujianto
Sumber : Dirangkum dari berbagai sumber