• News

  • Sisi Lain

Meninggal saat Melahirkan, Mbok Dul Gentayangan Bawa Obor Cari Bayinya

Wilayah Kecamatan Pagentan, Banjarnegara, Jawa Tengah.
Wikimapia
Wilayah Kecamatan Pagentan, Banjarnegara, Jawa Tengah.

KAREKAN, NETRALNEWS.COM - Masyarakat Desa Karekan, Banjarnegara, Jawa Tengah pada suatu malam di sekitar tahun 1992 merasakan dingin yang menusuk tulang. Tapi dingin yang dirasakan kala itu, berbeda. Rasa dingin semakin terasa saat bulan semakin meninggi.

Semua pintu rumah warga sudah tutup saat itu, tak ada terang sinar lampu, kecuali cahaya tipis-tipis dari lentera. Di sela riuh suara jangkrik, terdengar juga suara kambing mengembik dan celoteh induk ayam.

Di samping suara-suara itu, sayup-sayup terdengar erangan suara seorang perempuan dari sebuah rumah. Ternyata, suara milik penghuni rumah yang biasa disapa Mbok Dul, yang saat itu tengah menjalani proses kelahiran bayinya.

Didampingi suaminya, Mbok Dul berjuang keras untuk melahirkan bayi pertama yang telah dikandungnya selama sembilan bulan. Tentu saja, kehadiran bayi ini sangat dinanti-nantikan keluarga sederhana ini.

Tak ada bidan, tak ada dukun beranak, karena hari telah begitu malam, gelap, dan lokasi desanya terpencil, sehingga mustahil apabila ada yang membantu. Mbok Dul tetap berjuang antara hidup dan mati untuk membuka pintu kehidupan bagi anaknya.

Lama mengejan, Mbok Dul kehabisan banyak darah dan tenaga. Suara erangan Mbok Dul lama-lama melemah, diganti dengan suara tangisan bayi. Bayi itu akhirnya lahir dan berjumpa akan kehidupan di Dieng, tapi tidak bagi ibunya. Malam itu juga, Mbok Dul tutup usia.

Malam berlalu, pada pagi harinya, penduduk desa yang akan pergi ke ladang, mencari kayu, dan pergi ke pasar pun terkaget mendengar kabar Mbok Dul meninggal dunia.

Setelah dimandikan dan di solatkan, Mbok Dul akhirnya dikebumikan di salah satu makam di Dusun Karekan. Kematian Mbok Dul saat melahirkan bayinya kemudian menjadi perbincangan oleh penduduk desa.

Waktu maghrib menjelang, seperti biasa, suasana desa berubah menjadi begitu sunyi. Namun, salah satu penduduk desa mengaku melihat sosok wanita yang tidak asing dilihat.

Dikatakannya, wanita itu nampak mengenakan jarik dan membawa obor, berjalan menyusuri desa. Informasi ini lantas beredar ke telinga penduduk di Desa Karekan dan banyak yang mempertanyakan siapakah wanita itu sebenarnya.

Malam berikutnya, sosok wanita itu muncul lagi. Wanita itu masih mengenakan jarik dan membawa obor membara. Rautnya terlihat tengah marah dan terlihat menapaki jalan menuju rumah mendiang Mbok Dul.

"Setiap malam wanita itu muncul dan dilihat penduduk lainnya. Terjawab, itu adalah wajah Mbok Dul. Mbok Dul mungkin saat itu tengah gentayangan," kata Kusmiyatun menceritakan kisah masa kecilnya saat itu kepada Netralnews.

Ia melanjutkan, ketika penampakan Mbok Dul itu kembali muncul, beberapa tetangga mencoba menyapanya meski diiringi dengan rasa takut. Sayangnya, Mbok Dul hanya diam seperti memendam amarah dan tetap berjalan ke arah rumahnya.

Penduduk desa setempat bahkan menduga, Mbok Dul menjadi hantu gentayangan karena meninggal saat melahirkan. Sosok Mbok Dul itu datang ke rumahnya untuk mencari bayinya untuk memberinya air susu.

Beberapa warga lainnya yang merasa penasaran, pernah pada suatu hari mencoba menguntit sosok Mbok Dul dan mengamati setiap gerak-geriknya. Dikisahkan Kusmiyatun, ternyata sosok Mbok Dul itu keluar dari area pemakaman setiap menjelang maghrib, dan langsung berjalan menuju arah rumahnya.

Menjelang subuh, sekitar pukul 03.00 WIB, sosok Mbok Dul diketahui kembali ke makam. Memasuki area makam, terlihat Mbok Dul membuang obornya dan masuk ke area makam dengan menembus gerbang.

"Itu terjadi sekitar 40 hari, sampai akhirnya anak dari Mbok Dul diangkat oleh tetangga. Suaminya juga menikah lagi namun diketahui pernikahan keduanya ini tidak dikaruniai anak," kata Kusmiyatun.

Selanjutnya, setelah 40 hari dan sang bayi telah diangkat anak oleh sebuah keluarga, sosok Mbok Dul tidak pernah muncul lagi, seperti dituturkan Kusmiyatun untuk mengakhiri kisah masa kecilnya itu.

Reporter : Martina Rosa Dwi Lestari
Editor : Irawan.H.P