• News

  • Sisi Lain

Pria Karekan Bunuh Diri di Gawang, Mayatnya Tak Diterima Bumi dan Menangis di Kali

Ilustrasi satu sungai yang sering meluap saat musim penghujan di Banjarnegara
foto: sindonews.com
Ilustrasi satu sungai yang sering meluap saat musim penghujan di Banjarnegara

KAREKAN, NETRALNEWS.COM - Pagi-pagi buta di tahun 2007, Pak Sumarto, sapaannya, dengan semangat segera bergegas ke ladang jagung. Semangat sekali di Minggu subuh itu, karena dia akan panen jagung.

Dinyalakannya korek dan dibakarnya rokok tembakau untuk menemani perjalanannya menuju ladang sejauh 2 km. Rokoknya dihisap dalam untuk hilangkan kantuk dan hangatkan badan karena telah ditusuk dinginnya udara di Desa Karekan, Banjarnegara, Jawa Tengah.

Baru jalan sekitar 100 meter, pemandangannya tertuju pada seorang pria bernama Sukasno yang tengah jongkok dan merokok di area lapangan desa. Tanpa menyapa, Sumarto cuek saja berjalan.

"Merokok kok pagi-pagi buta di lapangan. Mau bunuh diri apa?" kata Sumarto dalam hatinya sambil terus berjalan dan bergurau.

Sementara Sumarto berjalan menuju ladang jagungnya, Mbok Sumarto (istri Sumarto) membangunkan salah satu anak lelakinya. Dia meminta anaknya untuk menyusul Sumarto memanen jagung di ladang.

"Nak, bangun. Susul, bapakmu mau panen jagung," kata Mbok Sumarto dalam Bahasa Jawa, yang tengah menyiapkan dagangan makanannya.

Anak lelakinya pun bangun dan bergegas menyusul bapaknya ke ladang. Tapi baru sekitar lima menit berjalan, dia kembali lagi ke rumah dengan berlari dan terengah-engah.

"Mboke (ibu), ada yang nggantung (gantung diri) di lapangan," katanya teriak, disambut kekagetan ibunya.

Mendengar pesan ini, anak Mbok Sumarto yang lainnya, bernama Kusmiyatun turut terbangun. Penasaran, dia lantas ikut kakaknya dan ibunya menuju ke lapangan desa.

Di lapangan, terlihat ada beberapa orang yang berkumpul dan mendekat ke TKP. Dilihat pula oleh Kusmiyatun, seorang pria yang gantung diri.

Pria itu mengenakan kaos putih bergambar tokoh politik. Lehernya terikat di tiang gawang dengan tambang berwarna kuning. Sedangkan di bawahnya terdapat kresek hitam berisi uang dan beberapa batang rokok. Ya, dia adalah Sukasno yang sempat dilihat bapaknya sebelum ke ladang jagung.

Ketika matahari mulai tinggi, jenazah Sukasno masih dibiarkan menggantung. Penduduk yang mulai memadati lapangan tak berani menurunkan jasadnya karena menunggu Polisi datang.

Sekitar pukul 08.00 WIB, pihak Kepolisian pun tiba. Jasad pria yang konon tengah terlilit hutang itu akhirnya diturunkan dari tiang gawang dengan keadaan lidah menjulur, leher membiru, dan mulai dirubungi lalat.

"Jenazahnya lalu dimandikan di rumahnya. Rumahnya belakang rumahku, dekat masjid, lalu di makamkan disalah satu makam di Dusun Karekan sorenya," kata Kusmiyatun pada Netralnews mengisahkan masa kecilnya itu.

Siang harinya, Kusmiyatun diajak Mbok Sumarto membantu panen ubi di ladang kerabat ibunya. Ladangnya berada di dataran tinggi dan mampu melihat berbagai pemandangan Desa Karekan, bahkan makam tempat jenazah Pak Sukasno dikebumikan.

Ketika memanen ubi, sorotan mata Kusmiyatun selalu mengarah ke makam. Dia merasa takut dan dihantui akan kenangan melihat seorang pria yang gantung diri. Kusmiyatun bahkan tidak berani jauh-jauh dari ibunya.

Sekitar pukul 15.00 WIB, langit seketika mendung. Kabut tebal juga turun lebih awal dari biasanya.

Kusmiyatun yang saat itu duduk dibangku kelas VI SD merasa semakin takut dan meminta pada ibunya untuk segera pulang.

Sempat menolak karena masih memanen ubi, Mbok Sumarto akhirnya mengaku merasa takut juga akan langit mendung dan kabut tebal yang semakin memperpendek padangan mata. Akhirnya mereka pun pulang ke rumah.

Setelah beberapa hari berlalu, lapangan Desa Karekan yang biasanya diramaikan anak-anak bermain bola menjadi sepi. Lapangan hanya jadi lokasi yang dilewati para petani menuju ladang.

"Ada petani yang mengaku melihat jenazah Pak Sukasno digotong oleh sekumpulan makhluk halus. Jasadnya dibuang ke Kali Weden, dekat lapangan. Sepertinya itu pertanda dia tidak diterima oleh bumi," jelas dia.

Selepas kejadian tersebut, Kali Weden menjadi menyeramkan karena kerap terdengar suaraorang menangis, merintih, hingga meminta pertolongan.

"Anak-anak jadi ngga ada yang mau main lagi di lapangan karena takut. Kalaupun ada yang main bola, kadang bolanya disembunyikan lalu besoknya tiba-tiba dikembalikan di tengah lapangan. Dijahilin," jelas Kusmiyatun.

Beberapa tahun berlalu, lapangan ramai kembali dengan digunakan sebagai arena pertunjukan wayang atau acara dangdutan. Anak-anak juga sudah mulai bermain di lapangan seperti sebelum kejadian bunuh diri itu terjadi.

"Sekarang sih, sudah ngga ada lagi suara nangis atau minta tolong-tolong di sekitar lapangan dan sungai," pungkasnya.

Reporter : Martina Rosa Dwi Lestari
Editor : Taat Ujianto