• News

  • Sisi Lain

Genderuwo Disebut-Sebut Menghuni Jawa Sebelum Ada Manusia

Ilustrasi Meganthropus paleojavanicus (kiri) dan gandarva (paling kanan)
foto: istimewa
Ilustrasi Meganthropus paleojavanicus (kiri) dan gandarva (paling kanan)

YOGYAKARTA, NETRALNEWS.COM – Makhluk halus bernama genderuwo sangat terkenal dalam mitologi orang Jawa. Keberadaanya kini telah menjadi salah satu budaya tutur yang diwariskan turun temurun.

Konon, genderuwo senang tinggal di batu yang berair, bangunan tua, pohon besar, dan tempat-tempat yang lembab, gelap, dan sepi.

Ada pula yang berpendapat bahwa kerajaan genderuwo berada di hutan jati di Cagar Alam Danalaya, Kecamatan Slogohimo, sekitar 60 km di sebelah timur Wonogiri.

Yang lainnya lagi menyebut kerajaan genderuwo berada di wilayah Lemah Putih, Purwosari, Girimulyo, Kulon Progo, sebelah barat Yogyakarta.

Sosoknya digambarkan berwujud lelaki tinggi besar, berambut lebat, berkulit hitam kemerahan, dan bertaring.

Uniknya, makhluk ini bisa melakukan kontak langsung dengan manusia. Ia bisa berubah wujud menjadi mirip dengan manusia dan suka menggoda manusia, terutama kaum Hawa. Ia memiliki kebiasaan berbuat cabul dan pandai merayu.

Saat berhubungan intim dengan perempuan yang berhasil digoda, konon bisa sangat agresif dan mampu memuaskan kaum perempuan. Gendamnya sangat mengerikan.

Ada sebelum manusia Jawa

Menelusuri asal-usul genderuwo di Indonesia cukup menarik. Dengan menelusurinya bisa membuat kita mengetahui latar belakang, mentalitas, dan budaya masyarakat yang mempercayainya.

Dalam catatan-catatan Kitab Hindu Kuno seperti dikutip Capt RP Suyono dalam Dunia Mistik Orang Jawa (2009: 15-16) dikisahkan bahwa pada 450 SM hingga 78 M, nenek moyang suku Jawa dari Koromandel mulai berdatangan.

Pada masa itu, Jawa masih diliputi hutan belantara dan dikenal dengan nama Nusa Kendang. Daerah itu berhasil dikunjungi oleh orang-orang dari Kerajaan Astina atau Kling, Koromandel atas perintah raja mereka yang bernama Arjuna.

Diperkirakan mereka mendarat pertama kali di daerah Banten. Namun, mereka tidak mampu bertahan lama mendiami daratan Jawa karena ganasnya gangguan makhluk-makhluk berbentuk aneh.

Ada beberapa jenis makhluk aneh, antara lain  diberi nama gandarwa (Sanskerta: gandharva) atau biasa disebut genderuwo.  Mahkluk aneh lainnya adalah tetekan, cicet, bahung, dan banaspati.

Selain serbuan makhluk aneh itu, mereka juga dimangsa oleh binatang-binatang buas. Akibatnya, banyak di antara mereka tewas. Dan yang selamat memutuskan kembali ke negeri asalnya.

Sekitar 500 tahun berikutnya, penguasa Kerajaan Kling yang bernama Brahmani Wati, kembali mencoba menaklukkan pulau Jawa. Kapal-kapal penuh dengan penduduk desa dibawa ikut serta.

Kedatangan mereka kali ini, berhasil membabat hutan. Para gandarwa dan kawan-kawanya sudah tidak mengganggu. Sehingga mereka pun mampu membangun desa hingga wilayah pedalaman.

Mereka dan keturunannya inilah, yang menjadi cikal bakal Kerajaan Pajajaran di Jawa Barat. Dari keturunan mereka ini pula, diduga menjadi cikal bakal suku Sunda, yang hingga kini mendominasi masyarakat Provinsi Jawa Barat.

Selain dari Kitab Hindu Kuno, kisah tentang para pendatang atau nenek moyang orang Jawa juga dapat diketahui dari literatur kuno lainnya seperti Babad Tanah Jawa dan Serat Kuno Keraton Malang.

Namun, pada prinsipnya, semua mengatakan hal yang sama bahwa pada masa awal didatangi, Pulau Jawa masih berupa hutan belantara dan dihuni oleh makhluk-makhluk aneh serta binatang buas.

Mitos tersebut hingga kini sebenarnya belum ada yang bisa membuktikan secara ilmiah. Artinya, mitos tersebut berhenti hanya pada memori kolektif masyarakat Jawa dan tetap melekat, serta mempengaruhi sistem budaya orang Jawa hingga kini.

Catatan arkeolog

Menurut pemaparan Sri Wintala Achmad dalam Asal-Usul dan Sejarah Orang Jawa (2017: 18-24), untuk mengetahui asal-usul orang Jawa harus mempertimbangkan banyak sumber.

Sumber-sumber itu antara lain hasil kajian para arkeolog, penelitian para sejarawan, literatur kuno tentang Jawa seperti Babad Tanah Jawa, Serat Kuno Keraton Malang, surat-surat kuno dari India, Cina, bahkan boleh juga menengok catatan kuno suku Maya tentang bangsa Atlantis dan Lemuria.

Dari semua sumber-sumber itu, akan memperkaya kita sehingga dalam mengungkap asal-usul orang Jawa menjadi lebih akurat. Dan dari sekian banyak sumber, paling tidak ada beberapa catatan yang bisa diungkap seperti dipaparkan di bawah  ini.

Menurut arkeolog, satu juta tahun sebelum Masehi, Pulau Jawa diperkirakan sudah dihuni. Hanya saja, peradaban manusia kala itu masih sangat primitif dan biasa disebut sebagai manusia purba.

Penemuan-penemuan fosil manusia purba di lembah Bengawan Solo oleh von Koenigswald, Eugène Dubois, dan arkeolog lain membuktikan bahwa DNA manusia purba seperti Pithecanthropus erectus dan Homo sapiens  memiliki struktur DNA yang mirip dengan DNA orang Jawa di zaman sekarang.

Manusia purba berjenis Homo erectus di Dusun Trinil, Kawu, Kedunggalar, Ngawi, Jawa Timur oleh  Eugène Dubois  memperkuat teori itu. Padahal mereka diperkirakan hidup pada 700.000 tahun sebelum Masehi.

Hanya saja, jenis manusia purba ini bisa dikatakan masih “menyerupai” kera berjalan tegak. Artinya, peradabannya masih sangat jauh dengan manusia modern.

Pertanyaannya, apakah mereka kemudian berevolusi dan menjadi manusia modern? Apakah mereka kemudian punah? Atau mereka inilah yang  disebut makhluk aneh tatkala nenek moyang dari Koromandel datang ke Jawa Barat?

Sebagian Arkeolog berpendapat bahwa mayoritas manusia purba ini mengalami  kepunahan ketika Gunung Lawu purba, Gunung  Kelud purba, Gunung Krakatau purba, dan gunung berapi purba lainnya di Pulau Jawa, meletus.

Kalaupun ada yang selamat dari letusan-letusan itu, diperkirakan mereka kemudian berhadapan dengan para pendatang dari negeri lain. Benturan budaya pun terjadi atau bisa pula mengalami proses asimilasi  melalui perkawinan.

Editor : Taat Ujianto