• News

  • Sisi Lain

Yang Melihat Arwah seperti Api sebelum Wabah Corona Mengapa Diam Saja?

Pantai Parangtritis yang konon menjadi pusat kekuasaan Ratu Pantai Selatan
foto: istimewa
Pantai Parangtritis yang konon menjadi pusat kekuasaan Ratu Pantai Selatan

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Ketika penulis masih kecil tinggal di Purworeo, Jawa Tengah, ibu tak jemu mengingatkan agar segera pulang begiti Azan Magrib terdengar. Ibu takut jika ada lampor menculik anaknya.

Ingatan itu masih sangat melekat hingga kini. Meski tak pernah melihat wujudnya, namun masyarakat Jawa sangat meyakini kebaradaan "lampor' suka menculik anak dan pertanda musibah akan datang.  

Lampor dalam pandangan masyarakat Jawa adalah salah satu jenis makhluk halus yang bisa membawa maut.

Ada yang menyebut wujudnya berbentuk seperti bola arwah, terkadang juga muncul sebagai rombongan prajurit Jawa zaman dahulu yang sejatinya adalah pasukan makhluk halus. Sementara di Jawa Timur sendiri, ada yang mengatakan seperti pocong yang bisa membunuh manusia saat tidur.

Dalam KBBI, lampor diartikan sebagai "makhluk halus yang berarak". Dalam pengertian harfiah, lampor bisa diartikan pula sebagai 'kegaduhan'. Pengertian ini lebih mendekati dengan pemahaman masyarakat Jawa Tengah.

Artinya, saat muncul lampor, munculah suara-suara gaduh yakni berupa suara iring-iringan kereta kuda dan barisan pasukan. Siapakah mereka? 

Orang Jawa Tengah meyakini pasukan tersebut merupakan pasukan keraton Pantai Selatan yang sedang bergerak menuju Gunung Merapi atau berkunjung ke Keraton Yogyakarta. Mereka adalah pasukan roh halus, anak buah dari Nyi Roro Kidul, Ratu Penguasa Laut Selatan.

Sedikit berbeda dengan kepercayaan masyarakat di Jawa Timur, lampor akan muncul bersamaan dengan terjadinya pageblug atau wabah penyakit dan seringkali terjadi di bulan Sapar (penanggalan Jawa).

Lampor bisa membunuh sipapun baik mereka yang sedang bekerja maupun mereka yang sedang tidur. Mereka yang sedang tidur dan didatangi lampor akan merasakan seperti dicekik kemudian dibawa masuk dalam keranda jenazah alias mati seketika.

Konon, makhluk halus ini memiliki kelemahan. Meskipun terkesan sakti, namun lampor dipercaya tidak bisa duduk dan jongkok.

Itulah mengapa masyarakat percaya bahwa orang yang mati didatangi lampor lebih banyak dalam posisi sedang tidur. Lucunya, agar selamat dari serangan lampor, orang dahulu menyarankan agar tidur di kolong tempat tidur.

Kemunculan lampor pernah mencuat di era tahun 1960-an, namun lambat laun semakin menghilang. Ada yang mengaitkan kemunculannya sebagai pertanda terjadinya huru-hara politik pasca G-30-S di mana terjadi pembunuhan massal terhadap mereka yang dituduh anggota Partai Komunis Indonesia (PKI).

Meski generasi milenial sudah tak pernah mendengar cerita tutur tentang lampor dari para leluhur, namun mereka tetap mengenal lampor dari dunia maya. Pertanyaannya, mungkinkan lampor sebenarnya muncul sebelum wabah corona? Siapakah yang melihatnya? Mengapa ia diam saja?

Editor : Taat Ujianto