• News

  • Sisi Lain

Misteri Eyang Marah, Minyak Tala, Telur, Kelapa Muda di Gunung Merapi

Suasana ritual Labuhan di Gunung Merapi
foto: suara.com
Suasana ritual Labuhan di Gunung Merapi

YOGYAKARTA, NETRALNEWS.COM – Orang Jawa tempo dulu memiliki kepercayaan bahwa di Gunung Merapi di Yogyakarta terdapat kekuatan supranatural yang dikenal dengan nama Eyang Sapu Jagad. Ada juga yang menyebutnya Ki Sapu Jagat, Kyai Sapu Jagad, dan Mbah Sapu Jagad.

Bila gunung ini meletus, pertanda Eyang Sapu Jagad marah atau ingin memberi pesan kepada masyarakat Jawa, yakni para anak cucu dan keturunan Ki Juru Mertani. Pasalnya, beberapa hari terakhir, gunung ini meletus. Benarkah letusan akhir-akhir ini pertanda Eyang Sapu Jagad sedang marah dan ingin berkirim pesan?

Memang diakui, di gunung tersebut terdapat petilasan Ki Juru Mertani. Konon di tempat ini dahulu ia bertapa sebelum mendirikan Kerajaan Mataram. Kisah ini juga tertuang dalam Babad Tanah Jawa.

Saat bertapa, Ki Juru Mertani memperoleh petunjuk Ilahi untuk mendirikan Kerajaan Mataram. Petunjuk ini sangat penting mengingat di Jawa sudah ada kerajaan yang berdiri lebih dulu yakni Kerajaan Pajang yang dipimpin oleh Joko Tingkir atau Sultan Hadiwijaya.

Maka, untuk mendirikan kerajaan baru, diperlukan kekuatan yang mampu menandingi armada pasukan Kerajaan Pajang. Di sinilah letak arti penting “wangsit” saat Juru Mertani bertapa di Gunung Merapi.

Uniknya, pernah suatu kali acara Trans7 TV meliput dan konon berhasil mewawancari Eyang Sapu Jagad. Acara tersebut bisa berlangsung taklepas dari tokoh spiritual Ki Kusumo Nur Bakti, dengan host Neshia Sylvia dan Co Host Arga.

Seperti dilansir berberita.com, isi percakapan tersebut kira-kira begini:

“Apa yang dijaga dari Gunung Merapi Mbah?”

“Kelanggenan, keluhuran dan kesucian Gunung Merapi,” jawab Kyai Sapu Jagad.

“Apa benar? Ki Juru Mertani disuruh Panembahan Senopati (Danang Sutawijaya) untuk datang ke Gunung Merapi, terkait dengan berdirinya Kerajaan Mataram?” tanya Neshia.

“Sejarah Mataram panjang sekali. Dimulai dari Sutowijoyo memperoleh wahyu Lintang Johar. Ki Juru Mertani memberikan petunjuk kepada Panembahan Senopati untuk mencari kekuatan,” kata Mbah Sapu Jagat.

“Mencari bala bantuan yang bisa mengabdi supaya mukti atau berjaya. Caranya dengan bertapa. Panembahan Senopati bertapa di batu cempuri, sedangkan Ki Juru Martani pergi bertugas ke sini untuk bersemedi.”

“O berarti bagi-bagi tugas? Panembahan Senopati bersemedi menemui penguasa Laut Selatan Nyai Roro Kidul, Ki Juru Martani pergi ke Gunung Merapi untuk bertemu Eyang?” tanya Arga.

“Iya. Meminta bantuan agar keselamatan warga Mataram di selatan sana. Jangan sampai ada lahar, batu, pasir lari ke arah selatan. Agar ditutupi jalannya.” ujar Ki Sapu Jagad.

“Ratu Kidul menguasai air, Gunung Merapi Ki Sapu Jagad  menguasai tanah. Sampai Mataram pecah dan hingga tetap diadakannya tradisi Labuhan. Atau masih menyebut Ki Sapu Jagad maka akan tetap dianggap saudara, sama-sama memberikan bantuan,” tutur Mbah Sapu Jagat.

Pertanyaan Neshia Slyvia selanjutnya, “Apa yang diberikan Eyang kepada Ki Juru Martani?”

“Minyak tala, telur, dan kelapa muda. Itu dipakai untuk perang sebagai perlindungan dan menolak bala,” ungkap Kyai Sapu Jagat.

Persaingan pengaruh

Sebenarnya, bila diungkap lebih jauh, ada banyak mitos, tafsir, pengakuan yang beredar di masyarakat tentang keberadaan Eyang Sapu Jagad. Semua itu bukanlah tanpa arti. Di baliknya ada semacam “persaingan” memperoleh simpati /pengaruh masyarakat.

Mengutip pernyataan sosiolog UGM, Prof Heru Nugroho, yang dikutip Detik.com beberapa waktu lalu, mereka yang menafsirkan mitos saling bersaing untuk memperoleh pembenaran.

"Ada pengetahuan tradisional penduduk lokal yang tinggal di sekitar Merapi. Mereka memercayai bahwa Merapi memiliki nyawa sebagai penunggu sehingga untuk menghindari kemarahan penunggunya (warga) perlu mengadakan ritual dan juga memberikan sesaji," kata Heru.

"Yang bisa berhubungan dan mengetahui kehendak penunggu hanya orang-orang tertentu, sedang rakyat hanya percaya dan mengikuti kehendak elite-elite spiritual," sambung dia.

Karena itu tidak heran jika para elite spiritual lokal kemudian memiliki privilege (hak istimewa) dalam komunitasnya. Selain itu, cerita-cerita rakyat yang masih berkembang di masyarakat semakin menguatkan mitos-mitos Merapi.

Karena awalnya, banyak masyarakat yang hidup dengan mistis, di mana animisme dan dinamisme masih sangat berkembang.

"Mitologi Merapi juga direproduksi Keraton Mataram, sengaja dipelihara demi tegaknya kekuasaan kerajaan," lanjutnya.

Mitologi ini menegaskan bahwa penunggu Merapi adalah Kiai Sapu Jagad dan penguasa Laut Selatan adalah Kanjeng Ratu Kidul.

Demi keberlangsungan kekuasaan Mataram, maka raja Mataram harus berkolaborasi dengan dengan para penguasa lainnya. Bagaimana caranya? Yakni dengan menjadikan Kiai Sapu Jagad sebagai mitra politik dan Kanjeng Ratu Kidul sebagai permaisuri.

"Ada ritual yang kemudian dilakukan masyarakat baik di Merapi maupun di Laut Selatan agar para penguasa tidak marah," kata Heru.

Raja adalah sosok yang dipercaya sebagai satu-satunya yang bisa berkomunikasi dengan kekuatan gaib. Sedangkan masyarakat sekitar diposisikan sebagai pengikut yang melaksanakan ritual untuk mempercayainya.

Dengan ini, Heru melihat basis kekuatan yang dibangun adalah legitimasi secara klenik dan mitos yang sengaja dibangun. Hal ini masih dipercaya sebagian masyarakat.

"Ini berkaitan dengan sistem kepemimpinan tradisional di Yogyakarta. Buktinya setelah Mbah Maridjan tidak ada lantas ada kabar telah ditunjuk orang baru untuk menjadi juru kunci Merapi," sambung Heru.

Editor : Taat Ujianto