• News

  • Tekno

Ransomware Petya Lebih Berbahaya Dibanding WannaCry

Ransomware Petya.(dok.betanews)
Ransomware Petya.(dok.betanews)

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Ransomware Petya diketahui telah menyerang setidaknya 64 negara termasuk Rusia, Brasil, hingga Amerika Serikat. Hal ini dilaporkan oleh Business Insider, Jumat (30/6/2017), seperti juga disebut oleh Microsoft.

Kemudian, serangan ini memiliki cara kerja yang mirip dengan ransomware Iainnya dengan mengenkripsi file dan meminta tebusan pada korban untuk membebaskan file. Ransomware Petya pun menargetkan PC Windows.

Kasus yang mengemuka baru-baru ini adalah pelaku meminta tebusan dengan mata uang Bitcoin dengan nilai US$ 300 atau sekitar Rp 4 juta. Namun, hingga kini terhitung 36 tebusan dengan Bitcoin senilai total USS 9.000 atau sekitar Rp 117 juta.

Melihat hal ini, peneliti Keamanan Kevin Beaumont menyebut adanya perbedaan Petya dan WannaCry. Menurutnya, hacker Petya memiliki dana untuk pengembangan sehingga dampaknya bisa lebih parah dari WannaCry.

Selanjutnya, para ahli keamanan mengatakan, penyebaran ransomware Petya begitu cepat karena sebuah program akunting Ukraina bernama MeDoc. Itulah korban pertama serangan ini berasal dari Ukraina dan Rusia.

Melalui laman Facebook, perusahaan MeDoc pun menolak pihaknya disebut sebagai penyebab pertama menyebarnya Petya. Kendati demikian, perusahaan keamanan Talos, Microsoft, dan departemen keamanan siber Ukraina tetap menuding MeDoc adalah penyebabnya.

Dalam sebuah pernyataan, Microsoft menulis, "Microsoft kini telah memiliki bukti bahwa infeksi aktif ransomware ini mulanya dari proses update MeDoc."

Reporter : Vito Adhityahadi
Editor : Tommy Satria Ismaya Cahya