• News

  • Singkap Budaya

Kezaliman Raja Pemakan Daging Manusia, Ternyata Selalu Dikenang Orang Jawa

Salah satu prosesi dalam tradisi Mondosiyo di Karanganyar
karanganyarkab.go.id
Salah satu prosesi dalam tradisi Mondosiyo di Karanganyar

KARANGANYAR, NETRALNEWS.COM - Jangan pernah menyederhanakan dunia (pandangan, falsafah, budaya) orang Jawa. Banyak sekali kekayaan nilai yang dianut dan dipercaya oleh mereka. Bahkan, tidak akan cukup bila hanya dilihat dari kacamata agama tertentu saja.

Mengapa bisa begitu? Suku Jawa memiliki kekayaan budaya yang terbentuk oleh perjalanan sejarah yang panjang. Seperti halnya suku-suku lain di Nusantara, pernah melewati zaman animisme, Hindu-Budha, hingga kemudian mulai kenal ajaran Islam.

Dan semua periode itu ikut membentuk identitas suku Jawa. Maka, agar bisa melihat budaya Jawa secara utuh, maka wajib mempelajari latar belakang segala hal yang dianut, diyakini, dan dihidupi di balik setiap ritual atau upacara adat.

Untuk itu, mari kita tengok salah satu objek kebudayaan orang Jawa yang rutin diadakan masyarakat yang menghuni lereng Gunung Lawu, di Jawa Tengah.

Kisah Raja Pemangsa Manusia

Alkisah, dahulu kala di tanah Jawa, hiduplah seorang lelaki tua yang berhasil membabat hutan dan membuka permukiman baru di lereng Gunung Lawu. Lelaki itu bernama Kiai Jenta.

Ia dan keluarganya bekerja keras mengolah lahan pertanian di sekitar permukiman. Hasil panen membuat keluarga Kiai Jenta hidup berkecukupan.

Hari berhanti minggu lalu berganti tahun, dan beranak pinaklah keluarga Kiai Jenta sehingga menghasilkan keturunan yang semakin banyak.

Semua keturunannya berkumpul dan tetap menghuni wilayah itu.  Kiai Jenta kemudian menamai permukiman itu dengan sebutan “Dusun Pancot”.

Namun suatu ketika, datanglah prahara. Kedamaian dan ketenteraman Dusun Pancot tiba-tiba dibuat resah oleh muculnya sosok raja zalim, pemangsa manusia, yang bernama Prabu Baka.

Warga Dusun Pancot tidak tahu dari mana asalnya raja kejam yang sakti mandraguna itu. Yang pasti, setiap ia mendatangi permukiman penduduk, maka akan terjadi perampokan, penganiayaan, dan penangkapan warga desa.

Tersiar kabar bahwa setiap penduduk yang ditangkap dan dibawa pasukan Prabu Baka, maka dipastikan hanya akan tersisa tulang belulang. Ternyata, Prabu Baka memiliki kegemaran memakan daging manusia.

Tak tahan atas penindasan Prabu Baka terhadap penduduk di sekitar lereng Gunung Lawu, maka Kiai Jenta mencari cara bagaimana melawan Prabu Baka. Seusai bekerja, Kiai Jenta selalu memohon agar diberikan petunjuk dari para dewa penguasa alam semesta.

Permohonannya ternyata didengarkan. Di suatu siang, datanglah seorang pemuda tampan yang mengaku berasal dari Pertapaan Pringgondani. Namanya adalah Putut Tetuka.

Kedatangannya bertepatan dengan peristiwa yang mengancam keselamatan Dusun Pancot. Anak perempuan seorang janda, warga dusun Pancot yang bernama Nyai Rondo Dhadhapan, akan dimangsa Prabu Baka.

Janda itu tidak mau melepaskan anak satu-satunya. Ia menangis dan berusaha menyembunyikan anaknya dari sergapan pasukan Prabu Baka. Namun usahanya sia-sia. Anak gadisnya berhasil ditangkap.   

Namun, ketika anak gadisnya akan dihadapkan sebagai santapan Prabu Baka, datanglah Putut Tetuka yang menawarkan agar gadis itu ditukar dengan dirinya. Putut Tetuka mengaku ikhlas dimangsa Prabu Baka. Dan permintaannya ternyata dikabulkan.

Penyamaran Putut Tetuka berhasil. Ternyata, ia bukanlah pemuda sembarangan. Begitu ia sudah berhadapan dengan Prabu Baka, ia keluarkan seluruh kesaktiannya.

Menurut cerita yang diturun-temurunkan oleh Kiai Jenta, konon, pada pertarungan itu, kepala Prabu Baka berhasil dipenggal Putut Tetuka tanpa menggunakan senjata tajam. Putut Tetuka memiliki ilmu kanuragan yang jarang dimiliki manusia.

Begitu kepala Prabu Baka sudah terpisah dari badannya, Putut Tetuka segera menghempaskan kepala Prabu Baka di atas batu besar yang disebut “Batu Gilang”. Kepala itu hancur berkeping-keping dan tewaslah Prabu Baka.

Mendengar Prabu Baka tewas di tangan Putut Tetuka, seluruh pasukan dan pengikutnya lari tunggang-langgang. Dan warga Dusun Pancot pun hidup damai kembali.

Mengenang Terbunuhnya Raja Zalim

Kisah mengenai Prabu Baka dan Putut Tetuka merupakan tradisi lisan yang terpelihara hingga kini dan menjadi salah satu objek kebudayaan masyarakat Dusun Pancot, Desa Kalisoro, Kecamatan Tawangmangu, Karanganyar, Jawa Tengah.

Bila dirunut sejarahnya, kisah itu diperkirakan terjadi di masa ajaran Hindu-Budha mulai tersebar di tanah Jawa. Akibatnya, masyarakat lereng Gunung Lawu pun mencoba memahami berbagai bahaya, niat jahat, angkara murka, dan tantangan hidup melalui ilustrasi kisah seperti itu.

Dalam keyakinan warga Dusun Pancot, peristiwa terbebasnya Dusun Pancot dari Prabu Baka, jatuh pada hari Selasa Kliwon, Wuku Mondosiyo, menurut penanggalan Jawa.

Menurut buku Primbon Betaljemur Adammakna, karya Kanjeng Pangeran Haryo (KPH) Tjakraningrat, Wuku Mondosiyo adalah urutan Wuku ke-14 dari 30 wuku berdasarkan kalender Jawa.

Bila disebutkan, beberapa nama Wuku itu antara lain: Sinta, Landep, Wukir, Kurantil, Tolu, Gumbreg, Warigalit, Wariagung, Julungwangi, Sungsang, Galungan, Kuningan, Langkir, Mondosiyo, Julungpujut, Pahang, Kuruwelut, Marekeh, Tambir, Medhangkungan, Maktal, Wuye, Manahil, Prangbakat, Bala, Wulu, Wayang, Kulawu, Dhukut, dan Watugunung.

Setiap Wuku berlangsung selama tujuh hari. Dan menurut keyakinan orang Jawa, siapapun yang lahir ke dunia akan dipengaruhi oleh watak-watak dari setiap Wuku.

Dan untuk masyarakat Dusun Pancot, Wuku Mondosiyo adalah masa yang spesial seperti dijelaskan di atas. Hari dan bulan itu dijadikan sebagai patokan untuk melaksanakan upacara adat yang dinamakan ritual adat Mondosiyo (kadang ditulis Mondosio).

Upacara tersebut merupakan salah satu ritual “bersih desa” yaitu ritual adat warga Dusun Pancot yang ditujukan untuk memohon keselamatan warga dusun dan agar dijauhkan dari segala kekuatan jahat, bencana, dan marabahaya.     

Dalam penanggalan Jawa, upacara adat Mondosiyo akan diadakan setiap tujuh bulan sekali. Maka, pada tahun tertentu, ritual ini diadakan selama dua kali dalam satu tahun.

Bagi warga Dusun Pancot, perayaan adat Mondosiyo memiliki beberapa arti. Pertama, menjadi wujud  ungkapan pengakuan asal-usul mereka yaitu merupakan keturunan dari Kiai Jenta, leluhur yang menjadi “cikal bakal” Dusun Pancot.

Kedua,  selain sebagai upacara “bersih desa”, tradisi Mondosiyo menjadi ruang berkumpulnya sanak saudara atau keluarga besar Dusun Pancot. Dengan berkumpul, kerukunan, keguyuban, dan silaturahmi, akan terus terjaga.

Ketiga, melalui tradisi Mondosiyo, semua warga Dusun Pancot diingatkan pentingnya hidup sederhana dan menjaga harmonisme hidup antara sesama, alam sekitar, dan terhadap Sang Penguasa Alam Semesta.

Gambaran Upacara Mondosiyo

Seperti telah di singgung sebelumnya, bahwa tradisi Mondosiyo diadakan setiap tujuh bulan sekali atau enam lapan sekali (1 lapan terdiri 35 hari). Puncak perayaan  jatuh pada hari Selasa Kliwon Wuku Mondosiyo.

Namun, sebelum acara puncak, sebelumnya sudah ada rangkaian kegiatan persiapan seperti gotong-royong pembersihan desa, pengumpulan beras, penyediaan kambing korban, ayam jago, kayu bakar, bahan makanan, serta perlengkapan lain yang akan diperlukan dari awal sampai akhir acara.

Beras yang terkumpul akan diolah menjadi nasi gandhik yang akan dibagikan kepada kepada seluruh warga Dusun Pancot. Warga meyakini bahwa dengan memakan nasi gandhik saat acara Mondosiyo, maka akan mendapat berkah.

Ketika hari Selasa Kliwon tiba, tepat pukul 06.00, seluruh warga Dusun Pancot berkumpul di kompleks punden “Bale-Pathokan”  yaitu lokasi  “Batu Gilang” berada. Tempat dimana Prabu Baka tewas itu dijadikan sebagai pusat acara Mondosiyo.

Setelah meletakkan aneka rupa sesaji di sekitar punden, warga akan berdoa bersama, dipimpin oleh sesepuh Dusun. Acara kemudian berlanjut hingga malam hari.

Biasanya, akan ada pagelaran ragam kesenian daerah seperti Reog dan pementasan Wayang Kulit. Penutupan acara, biasanya akan ada prosesi penyiraman air badeg (air tape) di atas Batu Gilang.

Kemudian disusul pelepasan ayam jantan (jago) ke atap rumah. Ayam itu kemudian akan diperebutkan warga yang mengandung arti bahwa untuk mendapat berkah, manusia harus berusaha atau berjuang. Berkah tidak datang dengan sendirinya.

Editor : Taat Ujianto
Sumber : dari berbagai sumber