• News

  • Video

Pahlawan Betawi Dimutilasi, Miliki Aji Rawa Rontek?

embed-youtube:https://www.youtube.com/embed/mvsnAz0LulU:/embed-youtube


JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Si Pitung, Pahlawan Betawi setelah tewas ditembak polisi Belanda, jasadnya kemudian dimutilasi. Pertanyaannya, mengapa jasadnya dimutilasi?

Dalam catatan Koran Olanda, Si Pitung yang bernama asli Ahmad Nitikusumah atau Salihoen, tewas ditembak pada 7 Juni 1896 di kawasan Sungai Bambu, Jakarta Utara. Jasadnya kemudian dimutilasi menjadi beberapa bagian dan tidak jelas di mana potongan tubuh itu dikuburkan.

Menurut cerita yang bereda, konon, badannya di kubur di Slipi, sementara bagian kepala, tangan, dan kaki dibawa ke Belanda.

Dalam literatur kuno, mayarakat Nusantara mengenal ilmu kesaktian yang bernama Aji Rawa Rontek dan Pancasona.

Konon, seseorang yang memiliki ilmu tersebut, walaupun sudah mati, bisa hidup kembali. Syaratnya, tubuhnya dikubur secara utuh. Pertanyaannya, Apakah Si Pitung memiliki ilmu Rawa Rontek?

Melacak Si Pitung
Tidak mudah menelusuri jejak Si Pitung. Satu-satunya tempat yang masih terawat adalah cagar budaya bernama “Rumah Si Pitung” di kawasan Marunda, Jakarta Utara. Hanya saja, rumah unik bercat merah kecoklatan bergaya Bugis tersebut, sebenarnya bukanlah rumah milik Si Pitung.

Sekitar tahun 1890-an, Si Pitung hanyalah singgah ke rumah tersebut dalam rangka berguru mengaji kepada ulama setempat. Ada juga yang berpendapat, Si Pitung sedang bersembunyi dari kejaran polisi Belanda.

Bahkan, dalam catatan Belanda disebut-sebut Si Pitung dituduh sebagai pemimpin gerombolan yang merampok pemilik rumah tersebut yakni seorang juragan tambak ikan asal Bugis bernama Haji Safiudin.

Kisah tentang Si Pitung yang berniat merampok rumah Haji Safiudin diberitakan dalam koran Hindia Olanda, 10 Agustus 1892. Dikisahkan, seorang menodong Hadji Sapiudin, sementara anggota kelompotannya menguras isi rumah.

Esoknya, warga heboh. Warga meyakini bahwa aksi perampokan itu dilakukan oleh kelompotan Si Pitung. Sebulan berikutnya, Si Pitung berhasil ditangkap.

Saat rumahnya digeledah, polisi menemukan uang sebesar 125 gulden di sebuah lubang rahasia di lantai rumahnya. Akibatnya, Si Pitung dijebloskan ke penjara di Meester Cornelis (Jatinegara). Namun, karena kesaktiannya, ia berhasil meloloskan diri.

“Sebagai kepala geng, Si Pitung merampok rumah-rumah tuan tanah yang kaya. Dia terkenal karena keberaniannya, yang dipercaya memiliki senjata-senjata magis dan kekuatan-kekuatan magis,” tulis Henk Schulte Nordholt dan Margreet van Till, “Colonial Criminals in Java” dalam Figures of Criminality in Indonesia, the Philippines, and Colonial Vietnam karya Vicente L. Rafael.

Sementara dalam bila membaca catatan sejarawan Belanda, Margreet van Till dalam “In Search of Si Pitung: The History of an Indonesian Legend”, dimuat jurnal Bijdragen tot de Taal-, Land- en Volkenkunde, Vol. 152, 1996, jelaslah bahwa sosok Si Pitung bukanlah tokoh fiktif. Ia benar-benar ada dan menjadi bahan pergunjingan masyarakat Batavia di abad ke-19.

Misteri Aji Rawa Rontek
Si Pitung atau Ahmad Nitikusumah lahir di Pengumben, Rawa Belong. Ia sering dijuluki pula sebagai "Robin Hood" Betawi. Ia dianggap sebagai biang keonaran, seorang jagoan yang suka merampok, tetapi baik hati. Ia Merampok untuk dibagikan kepada rakyat miskin.

Konon, Si Pitung memilih jalan sebagai perampok karena dipicu oleh sakit hati saat ia berusia 15 tahun. Saat itu, hewan ternak milik orangtuanya dirampas orang Belanda dan Tionghoa.

Aksi perampokan yang dilakukan Si Pitung berlangsung antara tahun 1892-1893. Aksinya terekam dalam surat kabar Hindia Olanda.

Si Pitung, “Kadang-kadang dia disebut ‘Si Bitoeng’, waktu lain ‘Pitang’. Setelah beberapa bulan, editor Hindia Olanda memutuskan secara konsisten menyebutnya dengan ‘Si Pitoeng’,” tulis Margreet.

Dalam dokumen lainnya, Margreet menyebut Si Pitung dengan nama Salihoen. Sementara menurut cerita lisan, nama “Si Pitung” sebenarnya bukan menunjuk seseorang tetapi merupakan sebutan bagi kelompotan berjumlah tujuh. Dalam bahasa Jawa artinya “pituan pitulung” (kelompok tujuh yang suka membantu).

Si Pitung menjadi jawara sakti berkat berguru pada Haji Naipin yang beralamat di Rawa Belong, Jakarta Barat. Ia seringkali disebut sebagai tokoh yang kebal peluru dan senjata tajam.

Dalam surat kabar Belanda, Si Pitung terakhir diberitakan pada 7 Juni 1896. Kali ini, Si Pitung mendapat sial dan berhasil ditembak mati di kawasan Sungai Bambu, Jakarta Utara.

Sesaat sebelum meninggal, konon Si Putung terlihat di Pasar Senen dengan rambut di potong. Mungkin karena hal itu, kemudian dikaitkan bahwa jimat Si Pitung terletak di rambutnya. Saat rambut dipotong, ia yang dikabarkan kebal peluru ternyata tewas ditembak polisi Belanda.

Beredar pula bahwa konon, bila jasad Si Pitung dikubur menjadi satu, ia bisa hidup kembali. Munculah kisah jasadnya yang kemudian dimutilasi ke dalam tiga bagian. Konon bagian tubuh dikubur di daerah Slipi sementara bagian tangan, kaki, dan kepala, dibawa ke Belanda.

Penulis : Taat Ujianto
Editor : Y.C Kurniantoro