• News

  • Wisata

Mukjizat! Digulung Tsunami, Masjid Al Alam di Marunda Tetap Kokoh Berdiri

Masjid Al Alam, Marunda, Jakarta Utara
Netralnews/YC Kurniantoro-Tommy
Masjid Al Alam, Marunda, Jakarta Utara

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Sekilas, tidak ada yang istimewa dari masjid di bilangan Marunda, Cilincing, Jakarta Utara ini. Tapi siapa sangka, masjid yang sederhana ini menjadi saksi bisu dari bencana alam tsunami yang menghantam kawasan Marunda pada 1883 silam.

Tak tanggung-tanggung, tsunami dahsyat yang terjadi 136 tahun lalu mampu meluluhlantahkan pesisir Sumatera dan Jawa, akibat letusan Gunung Krakatau. Mukjizatnya, masjid yang dibangun pada abad ke-16 ini berdiri kokoh dan masih aktif digunakan oleh masyarakat hingga saat ini.

Tsunami Krakatau

Puncak peristiwa Krakatau meletus terjadi pada Jumat pagi, 27 Agustus 1883. Gunung tersebut menghancurkan dirinya hingga ke dasar laut. Dampaknya, tsunami melanda pesisir Sumatera dan Jawa. Labih dari 120 ribu jiwa menjadi korban.

Pesisir Jakarta adalah salah satu wilayah yang tak luput terkena imbasnya. Selain tsunami, hujan abu juga melanda daerah itu. Masyarakat di sekitar Pasar Senen, yang dahulu disebut Vinckepasser, geger.

Dalam catatan Tota M Tobing berjudul “Ketika Pasar Senen Masih Disebut Vinckepasser” dalam buku Kisah Jakarta Tempo Doeloe (1988), hari itu warga sedang asyik menikmati pagi yang cerah. Tiba-tiba berubah menjadi gelap gulita.

Orang-orang tidak bisa melihat sekelilingnya dengan jelas. Disusul kemudian hujan abu turun dengan derasnya. Terjadilah kepanikan luar biasa. Di mana-mana terdengar ratap tangis, karena mengira kiamat telah tiba. Mereka belum tahu, itulah akibat letusan Krakatau yang bersejarah itu.

Sedikit berbeda dengan kesaksian Tio Tek Hong dalam bukunya Keadaan Jakarta Tempo Doeloe, Sebuah Kenangan 1882-1959 (2006). Meletusnya Krakatau, justru menjadi kenangan unik.

Tionghoa kelahiran 7 Januari 1877 tersebut bingung karena tiba-tiba ibunya seolah tak mau melepaskan dari pelukannya. Tio Tek Hong kecil ingat dengan jelas, ia menyaksikan pintu-pintu dan jendela bergetar dengan kuat.

Para bujang wara-wiri memindahkan beras dan perabotan rumah tangga ke tempat yang lebih tinggi. Saat Tio Tek Hong terlepas dari pelukan ibunya, ia melarikan diri ke luar rumah.

Ia menyaksikan banyak lelaki berdatangan ke Kali Passer Baroe. Mereka memperkuat gili-gili (bantaran sungai) dan menutup lubang gili-gili. Katanya, air akan segera meluap.

Memang, selanjutnya datanglah air dari arah laut, meluap tinggi. Disusul kemudian hujan abu. Semua atap rumah penuh dengan debu berwarna abu-abu yang cukup tebal.

Saat bertemu dengan teman-temannya yang lebih tua, Tio Tek Hong mendapat cerita bahwa di Pasar Ikan, di daerah Kota, air meluap sangat tinggi. Banyak perahu terdampar ke darat. Perahu itu hanyut akibat dihantam ombak besar.

Di laut juga banyak batu apung mengambang. Saking banyaknya batu itu, konon bila papan ditaruh di atas batu apung tersebut, orang-orang bisa berjalan dari Merak menuju Teluk Betung. Di Teluk Betung, konon semua rumah disapu bersih dan banyak orang tewas tersangkut di atas pohon kelapa.

Letusan Krakatau juga menimbulkan tsunami yang menghancurkan Pantai Banten dan Tangerang. Banyak orang binasa sepanjang daerah itu. Kejadian itu kemudian menjadi inspirasi lahirnya nyanyian Gambang Kromong berjudul “Kramat Karem”.

Syair lagu “Kramat Karem” dibuat oleh seorang seniman anonim. Salah satu penggalan syair berbunyi, “Emak, Bapak Si Nona mati; sayang disayang tiap malam saya tangisin; Kramat Karem ada lagunya.”

Salah satu saksi bisu

Salah satu saksi bisu bencana tsunami Krakatau 1883 itu adalah Masjid Al Alam. Menurut pernyataan Pengurus masjid, Kusnadi, memang sejarah dari berdirinya Masjid Al Alam tidak terdokumentasikan dalam bentuk tulisan maupun buku, melainkan hanya dari mulut ke mulut (tradisi lisan).

Menurut cerita leluhur di Marunda, Masjid dibangun hanya dalam waktu semalam. Setidaknya ada dua pendapat terkait kapan tepatnya kejadian mukjizat tersebut.

Pertama, menyebutkan bahwa masjid berdiri hanya dalam satu malam bersamaan dengan momentum Pasukan Kerajaan Mataram yang dikomandoi oleh Tumenggung Bahurekso, menyerang Tentara VOC yang menguasai Kota Jakarta atau dulu disebut Batavia, yakni sekitar 1628.

Versi kedua mengatakan bahwa berdirinya masjid tak lepas dari andil Pangeran Fatahillah yang tengah beristirahat sejenak di Wilayah Marunda, sekitar 1527. Konon, para Auliya Pangeran Fatahillah-lah yang berperan dalam membangun masjid.

"Jadi sorenya nggak ada, paginya sudah ada (masjid)," kata Kusnadi saat dijumpai Netralnews, Jumat (27/9/2019).

Menurut pantauan Netralnews, Masjid yang dikenal dengan sebutan lengkap Masjid Auliya Al Alam ini berbentuk sederhana. Bangunannya dicat berwarna putih, dengan pintu dan jendela yang dicat cokelat. Sedangkan di samping kanan masjid, terdapat makam masyarakat sekitar.

Masuk ke dalam masjid, terdapat empat pilar besar beserta sajadah merah yang membentang menutupi lantai masjid.

Terdapat pula tempat imam dan kotbah, serta di belakangnya terdapat makam dari pengurus masjid di abad ke-18, yakni KH Jamiin bin Abdullah yang berada dalam ruangan tersendiri.

Dari interior tersebut, uniknya terdapat sebuah lubang oval di tembok masjid. Menurut Kusnadi, alasan adanya lubang oval di masjid berfungsi untuk mengintip penjajah pada masa lalu dari dalam masjid.

Tidak sampai di situ, di samping kanan bangunan masjid juga terdapat sebuah sumur tua. Uniknya, sumur ini memiliki tiga rasa yakni tawar, asin, dan manis, tergantung siapa yang meminumnya.

Air sumur ini bahkan diyakini bisa menyembuhkan berbagai macam penyakit. Tak heran bila para pengunjung datang secara khusus dengan membawa botol air mineral untuk membawa air sumur tiga rasa tersebut.

"Air kan hanya perantara, kesembuhan dan kesehatan datangnya semua dari Allah SWT," tegas Kusnadi.

Masjid yang memiliki peran dalam penyebaran Agama Islam di Tanah Jawa ini lantas ditetapkan sebagai Bangunan Cagar Budaya pada 1975 oleh Pemerintah Provinsi DKI Jakarta.

Meski tidak pernah direnovasi besar-besaran, masjid diakui alami penambahan ruangan seperti ruangan Salat khusus untuk perempuan seluas tiga meter. Selain itu, berdiri pula sebuah pendopo yang baru dibangun pada 1997.

Seiring berjalannya waktu, Majid Al Alam dikenal dengan nama Masjid Al Alam Si Pitung karena lokasinya dekat dengan Rumah Si Pitung. Namun masyatakat menilai, nama masjid perlu dibubuhi kata Aulia agar tidak melupakan sejarah dan bentuk penghormatan atas para pendirinya yakni para Auliya.

"Jadi jangan disamakan sejarah Masjid Al Alam dengan Si Pitung, ini kedua yang berbeda. Jadi nama masjid ini adalah Masjid Aulia Al Alam atau saat ini dikenal dengan Masjid Aulia Al Alam Si Pitung karena lokasinya yang dekat dengan Rumah Si Pitung" pungkas Kusnadi.

Reporter : Martina Rosa Dwi Lestari
Editor : Taat Ujianto