• News

  • Wisata

Siapa Takut Melihat Tarsius dari Dekat

Hewan malam Tarisus.
Kemenparekraf
Hewan malam Tarisus.

BELITUNG, NETRALNEWS.COM - Siapa takut melihat hewan malam tarsius dari dekat. Wisatawan Singapura yang melakukan perjalanan ke Belitung mendapat suguhan menarik dengan melihat langsung dari dekat hewan langka ini.

Memasuki malam hari, wisatawan dapat melihat monyet hantu mini bermata belo yang lebih dikenal sebagai tarsius. Warga setempat biasanya menyebut pelilian.

Rupa Tarsius memang unik. Ukurannya sebesar anak kucing, berbentuk monyet dengan ekor panjang dan memiliki mata besar serta bisa memutar leher sebanyak 180 derajat. Hidupnya pun nocturnal.

Keberadaan tarsius sangat dijaga oleh warga sekitar karena jumlahnya yang semakin sedikit. Mereka membatasi bahwa dalam satu minggu, hanya tiga kali pengunjung diperbolehkan melihat tarsius.

Cara pengunjung dapat melihat tarsius pun unik. Warga yang membiarkan tarsius hidup bebas di hutan hanya akan mencarinya ketika ada pengunjung yang ingin melihat. Mereka tidak meletakan tarsius di dalam kandang. Hal demikian dilakukan untuk menjaga kelestarian tarsius.

Wisatawan bisa melihat tarsius pada malam hari saat mereka mencari jangkrik. Waktu ideal yakni pukul 18.30 -21.00. Biasanya wisatawan diberi waktu sekitar 10-15 menit dengan jarak minimal 1 meter dari tarsius.

Selain itu juga tidak diperbolehkan menyalakan lampu flash selama memotret. Untuk penerangan, warga setempat akan membantu menggunakan lampu kecil yang cukup terang yang diletakkan dibelakang badan tarsius sehingga tidak menganggu hewan kecil tersebut.

"Cahaya lampu flash dapat merusak mata tarsius. Matanya bisa berair cukup banyak dan butuh waktu lama untuk penyembuhannya," terang Adong, seorang wisatawan dari Singapura.

Waktu melihat tarsius berakhir saat hewan tersebut menunjukan tanda-tanda hendak melompat menuju pohon lain. Jika sudah begitu, pemotretan tarsius harus diakhiri dengan membiarkan mereka pergi.

Pemandu akan menegakkan batang pohon tempat tarsisus berdiri seperti sediakala dan membiarkannya lompat ke pohon lain.

Editor : Sulha Handayani