• News

  • Wisata

Mercusuar Willem‘s Toren III dan Pulau Breueh, Ada di Mana?

Mercusuar Willem's Toren III, Pulau Breueh, Pulo Aceh, Aceh Besar (dok.Martina)
Martina
Mercusuar Willem's Toren III, Pulau Breueh, Pulo Aceh, Aceh Besar (dok.Martina)

Berita Terkait

JAKARTA, NETRALNEWS.COM- Pulau Breueh, ada di mana? Pulau Breueh merupakan salah pulau di Aceh yang terletak di sebelah barat laut Pulau Sumatera dan di sebelah barat laut Pulau Weh. 

Direktorat Pendayagunaan Pulau-Pulau Kecil Kementerian Kelautan dan Perikanan mencatat, Pulau Breueh merupakan salah satu gugusan pulau dalam Kecamatan Pulo Aceh, Aceh Besar. Menurut citra satelit, Pulau Breueh memiliki luas 5.835 Ha. Pulau dengan panjang garis pantai mencapai 87,26 km ini memiliki potensi destinasi wisata salah satunya sejumlah pantai dengan pasir putihnya. 

Untuk bisa datang ke Pulau Breueh, hanya ada satu akses yaitu dengan moda transportasi laut berupa boat nelayan. Layanan penyebrangan baik orang maupun barang (barang konsumsi maupun lainnya) tersedia di Pelabuhan Lampulo Banda Aceh menuju Pulau Breueh yang memiliki sejumlah dermaga antara lain Gugop, Deudap, Lampuyang, dan Meulingge. 

Lamanya waktu perjalanan, selain ditentukan oleh kondisi laut juga ditentukan dermaga mana yang ingin dituju. Rata-rata dibutuhkan waktu penyebrangan minimal 2 jam. Sebagai gambaran, setidaknya dibutuhkan waktu hingga 3 jam bahkan bisa lebih, dari Pelabuhan Lampulo menuju Pelabuhan Deudap. 

Pulau Breueh disebut juga Pulau Beras oleh masyarakat Aceh. Nah, berdasarkan cerita yang berkembang di masyarakat, nama pulau diambil dari jenis makanan yang mesti dibawa pendatang ketika mengunjungi pulau tersebut di masa lalu. 

Ceritanya, apabila ingin datang ke Pulau Nasi yang juga termasuk dalam kawasan Pulo Aceh, dari daratan Pulau Sumatara sudah cukup membawa nasi untuk bekal. Tapi, karena letak Pulau Breueh lebih jauh, nasi yang juga dibawa dari daratann Pulau Sumatera ternyata menjadi basi ketika sampai di Pulau Breueh. Belajar dari pengalaman, akhirnya mereka membawa beras dan mengolahnya menjadi makanan begitu sampai jika ingin ke Pulau Breueh.

Terdapat sejumlah desa di Pulau Breueh. Salah satunya adalah Desa Meulingge dan di desa inilah, masih berdiri dengan tegak, sebuah mercusuar. Mengutip laman atjehliterature dan wikipedia, mercusuar dibuat atas hasil kerja sama antara pemerintah Kerajaan Portugis dengan Kerajaan Aceh Darussalam pada 1875. 

Akan tetapi, meski menyebut tahun pembangunan yang sama (1875), laman acehbesartouris, mengatakan mercusuar dibangun oleh Belanda berdasarkan instruksi Willem Alexander Paul Frederik Lodewijk yang kala itu menjadi Raja William III yang berkuasa di Hindia Belanda (1817-1890). Maka disebutlah merscusuar Willem's Torren III. Terlepas dari perbedaan tersebut, oleh masyarakat setempat maupun sejumlah wisman, ada yang menyebutnya sebagai mercusuar Meulingge meski lebih sering terdengar dengan sebutan mersucuar Willem Toren III. 

Mercusuar ini setinggi 85 meter dan pada bagian atas, terdapat sebuah lampu sorot berukuran besar yang digunakan untuk menembakkan cahaya untuk mengatur lalu lintas kapal-kapal. Mercusuar dan bangunan disekitarnya yang kala itu menjadi pemukiman perwira-perwira Belanda, saat ini masih difungsikan oleh Direktorat Jenderal Perhubungan Laut Kementerian Perhubungan serta aparat keamanan. 

Disebut-disebut, mercusuar selesai dibangun tepat saat William III berulang tahun. Tidak hanya mercusuar di Desa Meulingge Pulau Breueh, tapi mercusuar serupa yang ada di Belanda dan Karibia, didedikasikan untuknya. Maka disebutlah Willem's Toren atau Menara William.

Willem's Toren di Karibia, juga masih berfungsi hingga kini. Sedangkan yang ada di Belanda, disebut telah diubah fungsi menjadi museum.

Berada disalah satu ujung Pulau Breueh, wisatawan yang ingin melihat mersucuar Willem's Toren III mesti siap menempuh jalan kaki sekitar 45 bahkan lebih bagi yang tak terbiasa jalan kaki melewati jalan setapak masih alami dengan kiri dan kanan pepohonan. Namun jika beruntung kala cuaca cerah pun jika ada masyarakat setempat yang mau mengantar, bisa menggunakan sepeda motor dengan kontur jalan seperti membelah hutan dan naik turun.

Perjalanan yang sangat mungkin disebut melelahkan tersebut dan bahkan mesti berlanjut dengan menapaki ratusan anak tangga mercusuar, dijamin akan hilang seketika. Hamparan laut biru di Samudera Hinda dan hijaunya berbukitan pulau, menjadi bagian pengantar begitu tiba di bawah mercusuar.

Bisa terlihat pula Pulau Weh, Sabang, maupun Pulau Rondo yang disebut sebagai pulau terluar Indonesia bagian barat dan hanya dihuni oleh aparat keamanan, dari atas mercusuar. Tidak heran rasanya, ada cerita dari masyarakat setempat, kalau dahulu yang disebut sebagai pulau paling barat Indonesia adalah Pulau Breueh karena dari atas mercusuar Willem'e Toren III kita dapat melihat segala arah menuju dan dari Pulau Sumatera. 

Mercusuar Willem's Toren III juga menjadi bagian saksi bisu mengenai kedasyatan hantaman gelombang tsunami pada 26 Desember 2004 atau 12 tahun lalu, yang menyampu Aceh. Bencana alam yang disebut-sebut sebagai tragedi paling hebat abad ke-21. Padahal kala itu, sejumlah wilayah di Pulau Breueh pun luluh lantak karena tsunami dan tak terbilang duka yang lahir karenanya.    

Kini di tengah geliat pari wisata di Indonesia, bukan tidak mungkin Willem's Toren III akan semakin banyak dikunjungi. Ya, bencana bisa saja kembali datang tapi segala duka juga berlalu dan Pulau Breueh dengan Willem's Toren III menawarkan pengalaman yang ternilai. 

 

 

 

 

 

 

 

   

Editor : Martina Prianti