Netral English Netral Mandarin
22:33wib
Enam belas tim telah memastikan lolos ke babak 16 besar Euro 2020 (Euro 2021) usai berlangsungnya matchday terakhir penyisihan grup, Kamis (24/6) dini hari WIB. Sejumlah daerah di provinsi Jawa Tengah, DKI Jakarta, Jawa Timur, dan DI Yogyakarta masuk kategori zona merah atau wilayah dengan risiko tinggi penularan virus corona (covid-19) dalam sepekan terakhir
Ngeri! 50 Persen Penduduk Indonesia Terinfeksi Tuberkulosis

Sabtu, 03-April-2021 15:00

Waspadai tuberkulosis.
Foto : Tuberculosis
Waspadai tuberkulosis.
12

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Dokter spesialis paru RSUI, Diah Handayani menekankan pentingnya tindakan pecegahan tuberkulosis (TB) salah satunya menjemput bola terutama untuk orang yang berisiko seperti pengidap HIV hingga diabetes.

"Tindakan pencegahan dimulai dengan kegiatan mencari, harus ada active case finding atau jemput bola, terutama untuk orang-orang yang mengidap HIV, diabetes mellitus, atau yang tinggal di slum area. Orang-orang yang berisiko tersebut harus diberikan terapi pencegahan," kata dia dalam siaran persnya, Sabtu, (4/1/2021).

Hal ini seperti yang direkomendasikan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Menurut WHO, diagnosis dan tatalaksana TB laten perlu dilakukan di antaranya pada pasien HIV/AIDS, pasien kontak dengan kasus TB aktif, pasien dengan pengobatan anti-TNFa, pasien hemodialysis, transplantasi organ, pasien dengan silikosis, tuna wisma, warga binaan lapas, serta petugas kesehatan.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mencatat, di Indonesia terdapat sekitar 50 persen penduduk terinfeksi TB dan hampir 1 juta atau 1 per 10 angka TB di dunia.

Sementara dari sisi upaya preventif TB, Indonesia baru mencapai angka 12 persen sehingga diperlukan inovasi-inovasi ide dan program pencegahan untuk menurunkan kasus juga dalam hal skrining, deteksi maupun pengobatan TB.

Sekretaris Jejaring Riset TB dari UI, dr. I Wayan Gede Artawan Eka Putra, menjelaskan inovasi-inovasi penelitian pencegahan tuberkulosis dapat diterapkan pada setiap perjalanan alamiah tubekulosis, tidak hanya pada tahapan pengobatan.

Beberapa contoh inovasi tersebut bisa dilakukan dalam tahap mencegah pajanan, mencegah infeksi, deteksi dini, mencegah sakit TB, meningkatkan kesembuhan, pembatasan ketidakmampuan dan rehabilitasi, serta inovasi dalam hal pencatatan dan pelaporan.

"Ada beberapa langkah dalam membuat inovasi tersebut di antaranya, identifikasi masalah, penelitian dan pengembangan, menyusun konsep inovasi, penerapan dan evaluasi," kata Artawan.

Di sisi lain, pandemi COVID-19 selama beberapa waktu terakhir dilaporkan berdampak pada tantangan dan kesulitan dalam penanggulangan TB antara lain pembatasan kegiatan di masyarakat yang berdampak negatif terhadap akses ke layanan kesehatan termasuk layanan TB, sumber daya program TB yang terbagi untuk penanggulangan COVID-19.

Tantangan lainnya, kekhawatiran sebagian orang dianggap menderita COVID-19 dengan gejala gangguan napas dan infeksi jika diperiksa ke fasilitas kesehatan.

"Tantangan-tantangan ini menyebabkan terjadinya penurunan jumlah kasus TB yang ditemukan dan diobati (pada tahun 2020). Orang yang terpajan kuman TB tidak semuanya terinfeksi, yaitu hanya sebanyak 10-30 persen yang terinfeksi. Faktor yang memengaruhi terjadinya hal tersebut diantaranya yaitu faktor usia, status imunitas, status gizi, adanya penyakit (DM, HIV), serta perilaku seperti merokok dan minum alkohol," ujar Artawan.

Lebih lanjut, dari jumlah yang terinfeksi, sebanyak 90 pesen termasuk dalam kategori TB laten dan sebanyak 10 persen sisanya merupakan kategori TB aktif.

TB aktif dapat berdampak menjadi lebih parah ataupun menuju kematian akibat beberapa faktor seperti keterlambatan diagnosis dan pengobatan, ketidakpatuhan berobat, pengobatan tidak standar, dan kondisi kesehatan. 

Reporter : Sulha
Editor : Sulha Handayani