Netral English Netral Mandarin
07:45wib
Partai Ummat  menyinggung dominansi Menko Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Panjaitan dalam evaluasi tujuh tahun kepemimpinan Presiden Joko Widodo. China kembali menggertak Amerika Serikat setelah Presiden Joe Biden menyatakan bahwa ia akan membela Taiwan jika Negeri Tirai Bambu menyerang.
Memilukan! Hantu-Hantu Perempuan Rumah Bordil di Grobogan Masih Berkeliaran?

Sabtu, 21-Agustus-2021 12:05

Gedung Papak, Grobogan, Jateng
Foto : Istimewa
Gedung Papak, Grobogan, Jateng
30

GROGOGAN, NETRALNEWS.COM - “Rumah tua itu angker. Semua warga sini, udah tahu semua, Mas. Tapi juga bersejarah,” kata lelaki yang mengaku bernama Prapto (45) kepada NNC pada beberapa waktu silam. Pemilik warung kelontong tidak jauh dari gedung itu, sudah berulang kali menjumpai orang yang bertanya soal gedung tersebut.

“Banyak warga yang mengaku mendengar suara wanita berteriak, menjerit, menangis. Ya, maklum, namanya juga tempat penyiksaan. Banyak orang pernah disiksa di situ, Mas. Apalagi zaman Jepang. Tak sanggup saya menceritakan,” kata Prapto sambil menyarankan penulis mendatangi gedung itu.

Berbekal sepenggal keterangan Prapto, penulis beranikan diri memasuki area gedung yang memang terlihat angker. Arsitektur Belanda masih sangat terasa. Atap gentengnya yang datar, memang mewakili  sebutan yang banyak disematkan warga sekitar, yaitu Gedung Papak. Artinya “rata”.

Berdasarkan keterangan Soekiran (61), penjaga gedung, luas gedung tersebut adalah sekitar 338,5 meter persegi. Lokasinya terletak di Desa Geyer, Kecamatan Geyer, Kabupaten Grobogan, Provinsi Jawa Tengah.

Walaupun kurang terawat, gedung ini telah tercatat sebagai bangunan cagar budaya  Kabupaten Grobogan. Saat masuk ruangan,  udara terasa pengap, tembok kusam, dan banyak sarang laba-laba. Penulis berpikir, bila dirawat, gedung ini bisa menjadi museum atau objek wisata sejarah.

Gedung itu memiliki dua lantai dan masing-masing memiliki dua ruangan yang luas. Tak banyak isi perabotan yang ada dalam gedung itu. Yang ada hanyalah beberapa perlengkapan pribadi milik Sokiran.

Saksi bisu perbudakan seks

Berdasar keterangan Sokiran dan catatan sejarah peneliti independen Jugun Ianfu bernama Eka Hendra, yang pernah diterbitkan dalam majalah More edisi April 2012, berjudul “Nyah Kran Tawanan di Gedung Papak”, kisah di balik keangkeran gedung ini, dapat kita ketahui secara gamblang.

Gedung Papak adalah salah satu saksi bisu praktek kekejaman di era pendudukan Jepang. Dalam kajiannya, Hendra berhasil mewawancarai seorang penyintas atau korban praktek Jugun Ianfu yang masih hidup hingga kini. Ia biasa dipanggil Mbah Sri.

Saat Mbah Sri masih berumur sembilan tahu, ia biasa dipanggil “Nyah Kran”, karena postur tubuh dan wajahnya yang cantik dan kebelandaan. Namun justru karena kecantikannya itu, malapetaka merenggut masa kecilnya.

Walaupun, Nyah Kran adalah anak seorang Wedana Purwadadi bernama Soedirman, namun tak mampu menghalangi kesewenangan tentara Jepang. Menjelang kekalahan Jepang, pada 1945, Wedana Soedirman tak kuasa menghalangi opsir Jepang merenggut anaknya yang masih belia itu.

Nyah Kran kemudian dibawa ke Gedung Papak. "Saya kenal gedung itu, karena satu-satunya gedung Belanda yang ditempati sebagai rumah tinggal Kepala Stasiun Gundih, orang Belanda, yang memiliki seorang anak dengan perempuan Jawa asal Purwodadi,"  kenang Mbah Sri sambil berlinang air mata.

Opsir yang merampas Nyah Kran dari orang tuanya bernama Ogawa. Ia termasuk tentara berpangkat karena memiliki banyak bawahan yang bermarkas di gedung itu. Nyah Kran berada dalam belenggunya.

Setelah dimandikan, dikeramasi, dan didandani seperti boneka, malam hari setelah berada di Gedung Papak, Nyah Kran atau Sri kecil dipaksa melayani nafsu bejat Ogawa hingga dini hari. Perbuatan keji itu dilakukan beberapa hari hingga Nyah Kran mengalami pendarahan hebat dan pembengkakan pada alat vitalnya.

Di gedung itu, Nyah Kran juga menjadi saksi mata perempuan lain yang direnggut  dan harus melayani banyak opsir Jepang. Ia masih beruntung karena hanya melayani Ogawa yang senantiasa menguncinya dalam kamar. Hari-hari pedih dan suram itu, harus ia jalani hingga Jepang menyerah.

Saat jepang kalah, Nyah Kran dikembalikan Ogawa kepada orang tuanya. Ogawa kemudian lenyap dari kehidupannya seiring kedatangan Sekutu dan era kemerdekaan. Namun derita dan beban mental yang dialami Nyah Kran tidak bisa terusir dari hidupnya, hingga masa tuanya.

Menjadi tempat angker

Di era kemerdekaan, Gedung Papak pernah dipakai menjadi rumah dinas administratur perhutani kota Purwodadi hingga tahun 1974. Namun sejak keluarga administratur perhutani  mengalami musibah kecelakaan, gedung itu dibiarkan kosong dan hanya dirawat oleh keluarga Soekiran.

Bagi Soekiran, pendapat warga yang mengatakan rumah itu angker adalah bentuk ekspresi perih warga mengenang semua tragedi yang terjadi di gedung itu. Semuanya serba miris dan menyedihkan.

“Di era pendudukan Belanda, gedung ini juga menjadi tempat menyiksa tawanan,” kata Soekiran. Hal ini menandakan bahwa rekam jejak penderitaan sebagian kaum bumiputra juga ada di gedung ini. Sementara di era Jepang, warga menyebut gedung ini sebagai rumah bordil opsir Jepang.

Tatkala penulis beranjak keluar dari gedung itu, kesan angker terasa sirna. Rasa takut hilang dan berganti pada rasa hormat kepada semua yang telah menjadi korban keganasan zaman. Sebelum kembali ke Jakarta, penulis masih sempat mendatangi Prapto untuk mengucapkan terima kasih.

”Sudah terang benderang dan terkuak soal keangkeran gedung itu, Mas?” tanya Prapto. Anggukan dan sekedar basa-basi  lain masih sempat penulis sampaikan kepadanya. Semoga, dengan tulisan ini, gedung cagar budaya tersebut  segera direnovasi agar penggalan sejarah suram bangsa ini bisa dikenang secara bijak.

Reporter : Taat Ujianto
Editor : Taat Ujianto