Netral English Netral Mandarin
04:10wib
Relawan Sahabat Ganjar kembali melakukan deklarasi mendukung Ganjar Pranowo untuk maju sebagai calon presiden 2024. Penembakan seorang ustad bernama Armand alias Alex di depan rumahnya Jalan Nean Saba, Kelurahan Kunciran, Kecamatan Pinang, Tangerang hingga kini masih menjadi misteri.
Ngeri! Saya Kristiani Tulen, Akhirnya Kalahkan Hantu-Hantu di Purworejo (Part 2)

Jumat, 03-September-2021 10:21

Bendungan Ploro, Pogung, Kecamatan Bayan, Purworejo, Jawa Tengah
Foto : Wawantalia
Bendungan Ploro, Pogung, Kecamatan Bayan, Purworejo, Jawa Tengah
14

PURWOREJO, NETRALNEWS.COM - Huru-hara politik tahun 1998 langsung merenggut kehidupan baruku di Jakarta yang masih berumur jagung. Lulus SMA Swasta Katolik, saya langsung bisa bekerja sebagai staf Giro/Klering di Bank Umum Servitia (BUS).

BUS gulung tikar gegara tak mampu menghadang dampak krisis moneter yang menghajar seluruh negeri. Pemiliknya sempat menjadi buron negara karena membawa kabur aset yang dimiliki BUS.

Usai di-PHK, saya sempat mendapatkan pesangon dan dengan pesangon itulah saya bermimpi bisa meraih gelar sarjana S1. Saya mendaftar di universitas Swasta Gunadarma Depok, Jawa Barat.

Namun, dana habis di tahun kedua kuliah. Sempat bertahan beberapa bulan dengan jungkir balik mencari usaha sampingan melalui les private. 

Namun ujungnya saya menyerah dan kuliah terhenti. Harus kuakui saya terlalu cengeng tak mampu menyelesaikan rintangan kuliah.

Saya putus asa dan kembali ke kampung halaman tahun 2001. Dari sinilah awal perjalanan spiritual dengan mengarungi setiap malam di lokasi-lokasi angker. 

Orang melihatnya saya sedang mencari kodok untuk dijual. Dan memang benar, kodok yang saya dapatkan bisa menghasilkan sejumlah duit yang cukup untuk saya makan setiap bulan.

Namun sejatinya, ada tirakat lain yang sedang saya jalani.

Malam-malam pertama, selalu gagal. Saya merasa banyak kekuatan gaib mengganggu dan tak mampu aku hadapi. Saya kembali merasakan kegagalan untuk kesekian kalinya. Rasanya sakit. 

Namun, saya tidak menyerah. Seluruh daya dan iman aku perkuat. Doa-doa Katolik yang saya anut kembali saya dalami untuk membentengi diri dari kekuatan kegelapan tersebut. 

Minggu kedua hasilnya tak sia-sia. Di lokasi pertama yang membuatku mual mau muntah dan hampir pingsan karena gangguan roh gaib, akhirnya berhasil saya tembus. Demikian tempat angker lainnya juga berhasil saya lalui.  

Banyak rekan pencari kodok mengaku sering menjumpai beraneka makhluk gaib seperti banaspati, pocong, kuntilanak, hingga makhluk jadi-jadian tak sedikitpun membuatku takut. 

Pernah suatu kali hujan deras dengan petir menyambar-nyambar saya terpaksa berteduh di bawah atap “cungkup" atau rumah yang ada di makam untuk melindungi batu nisan. 

Sekelebat di kejauhan saya melihat pocong. Badanku kali ini tak gemetar. Saya sendiri heran dengan diriku yang tak lagi merasa takut. 

Pocong itu  malah sengaja saya  dekati ketika hujan telah reda. Dengan senter di kepala, saya ingin memastikan makhluk tersebut. Bentuknya persis seperti pocong. Putuh dengan ujung kain di bawah melambai-lambai. 

Ketika sudah mendekat, ternyata  bukan pocong. Yang ada di hadapanku adalah kain memedi sawah untuk mengusir burung yang berkibar karena tertiup angin.

Di lain waktu lagi, saya pernah menjumpai sosok kakek yang sedang duduk bersila di samping bendungan sungai Pogung, Kecamatan Bayan, Kabupaten Purworejo. 

Saya bahkan sempat mengucap permisi. Sosok kakek berbaju putih dengan rambut dan berjenggot putih itu juga menyahut mempersilakan saya lewat. 

Temanku  mengatakan, sosok orang tersebut bila terbukti orang sebenarnya sedang melakukan laku tapa brata untuk memperkuat inderanya  mampu menangkap saat di mana air di bendungan Pogung berhenti. 

Saya juga baru tahu, ada istilah air terjun tidur. Ada juga istilah air laut tidur. Itu artinya adalah saat di mana air benar-benar tenang dan tidak bergerak. 

Momen-momen sekejab itu bisa terjadi dan bisa ditangkap oleh manusia jika terbiasa sabar dan konsentrasi memantau perubahan. 

Sama juga dengan kisah kakakku yang sering bersemedi untuk fokus menangkap suara dan bisa menyaksikan momen penting di mana jantung pisang keluar dari pohonnya. Momen tersebut sama seperti orang melahirkan di mana ada air ketuban keluar dan jantung pisang pun lahir dari perut sang “ibu”.

Namun ada juga orang lain yang mengatakan bahwa sosok kakek itu adalah roh penunggu bendungan. Buktinya, rekan pencari kodok di belakang saya tak menjumpai sosok kakek serba putih bersila di samping bendungan. Padahal hanya selisih beberapa saat saja. 

Saya tak tahu mana yang benar, Yang pasti, saya berubah. Saya tak lagi takut hantu. Bukan karena saya telah sakti.  Yang saya hayati kini adalah jiwa kepasrahan total kepada Yang Maha Kuasa. 

Karena saya dilahirkan dari keluarga Katolik, doa-doa ajaran Katolik adalah sarana dan bergantung bagaimana saya menggunakan doa suci itu. 

Bila tidak diliputi kepasrahan dan mengandalkan Tuhan (membiarkan Tuhan merajai tubuhku) maka sekalipun doa Bapa Kami dan Salam Maria diucapkan tetap akan sia-sia.

Itulah kejadian malam-malam pertama yang membuatku selalu tak mampu melewati lokasi-lokasi angker. 

Beda orang beda cara. Beda orang beda memaknai arti “malam dan kegelapan”. Bagi saya, mengarungi malam dan kegelapan adalah terapi diriku untuk tak lagi takut dan mudah menyerah. 

Saya pernah berjumpa dengan orang yang jago kelahi dan seolah nyalinya sangat besar. Namun ketika diajak mengarungi kegelapan di lokasi sepi dan angker, orang itu lari tebirit-birit dan kencing di celana. 

Di tengah malam dan kegelapan  menyimpan kekuatan. Malam dan kegelapan mengobati sakit hatiku karena ketidakberdayaan dan kegagalanku. 

Mengenai hantu dan roh-roh halus yang ada di sekitar kita, apapun bahasanya dan apapun referensi yang digunakan untuk siapa dan dari mana makhluk tersebut,  pada akhirnya adalah kembali ke diri saya sendiri. 

Mereka ada di samping kita ketika “otak” dan “indera” kita menyadari dan menghadirkan dan sengaja membiarkan mereka tetap hadir. Namun, otak, indera, rasa, dan kesadaran kita juga bisa kita gunakan untuk mengusir atau menghapus hantu “yang kita ciptakan”. 

Kekuatan baru lainnya saya peroleh melalui kepasrahan hidup dan mati yang tercermin dalam Doa Completorium, "Kedalam tangan Mu, kuserahkan diriku, ya Tuhan penyelamatku. Engkaulah penebus ku ya Allah yang benar, Ya Tuhan penyelamatku. Kemuliaan kepada Bapa dan Putradan Roh kudus. Kedalam tangan Mu, kuserahkan diriku, ya Tuhan penyelamatku."

Dua tahun saya jalani “terapi kegelapan”. Hasilnya, kekuatan baru lahir dalam diri saya. Saya memutuskan kembali ke Jakarta untuk menuntaskan kuliah saya. 

Puji Tuhan, pada tahun 2008, saya berhasil wisuda Sarjana S1. Sebagai putra Kristiani tulen, saya bersyukur dan merasa tak malu lagi menjadi seorang yang pernah gagal.

Penulis: Fajar Rangga

Reporter : Taat Ujianto
Editor : Sesmawati