Netral English Netral Mandarin
05:03wib
Presiden Joko Widodo mengatakan, kondisi dunia saat ini penuh dengan ketidakpastian dan persoalan yang lebih kompleks dibandingkan sebelumnya. Sistem perawatan kesehatan Singapura terancam kewalahan menghadapi lonjakan covid-19.
Ngeri! Saya Kristiani Tulen, Kalah Bertarung dengan Hantu di Purworejo (Part 1)

Kamis, 26-Agustus-2021 15:05

Area persawahan yang dahulu angker di Purworejo kini telah dilalui jalan raya
Foto : Netralnews/Taat Ujianto
Area persawahan yang dahulu angker di Purworejo kini telah dilalui jalan raya
38

PURWOREJO, NETRALNEWS.COM – Orang yang sakit akibat kegagalan, membutuhkan obat mujarab. Pergulatan rasa sakit karena kegagalan membutuhkan solusi.

Ada banyak cara dilakukan orang, namun yang penulis alami sendiri, obatnya adalah “bertarung dengan hantu-hantu penghuni lokasi-lokasi angker” di daerah Purworejo Jawa Tengah.

Kisah ini ditulis berdasarkan kejadian nyata dalam bentuk catatan refleksi yang mungkin berguna sebagai semacam tips mengatasi kegagalan hidup.

Kalah di Malam-Malam Pertama

Hawa dingin menggerayangi sekujur tubuhku. Meski berbalut sweater namun jari-jemari dingin tetap menyusup menyentuh kulitku.

Kuayunkan kaki kemanapun, yang ada adalah gelap yang tak berujung. Daerah ini jauh dari pemukiman desa. Yang ada di sekitarku adalah hamparan sawah yang sebagian telah dipanen dan sebagian lain baru akan dibajak.

Tanpa alas kuperintahkan kaki memimpin pergerakan tubuhku. Hidup dan matiku sepertinya bergantung pada kepekaan kedua telapak kakiku.

Sewaktu-waktu ular kobra Jawa bisa menerkam. Bisanya bisa dalam hitungan jam menghakhiri hidupku. Namun, sejak awal keluar rumah, hatiku selalu berkata, “orang pasti akan mati. Hanya soal kapan dan di mana saja yang belum kita ketahui.”

Kata-kata itu sering membuatku kuat melangkah dan melawan takut. Namun malam ini, tampaknya jauh dari biasanya.

Segala jurus doa sudah aku keluarkan. Sebagai putra keluarga Kristiani tulen, hampir semua ritual keagamaan saya pahami dan ikuti.

Doa-doa dari mulai “Bapa Kami” hingga “Salam Maria”  sudah terlontar dari bibir hatiku tak terhitung jumlahnya, namun tetap saja saya gemetar, bahkan semakin gemetaran.

Bapak-Ibuku dahulu bilang doa-doa itu suci. Namun, kuakui, saat ini aku tak mampu hadirkan saktinya Tuhan menghadapi ketakutanku. Aku tak memiliki iman kuat?  

Ada kekuatan yang sedang mengikuti dan semakin mendekati. Kini gemetar menjalar ke dalam organ perutku. Aku mual. Sementara gelap di kanan kiri terasa semakin pekat.

Sekali lagi kuukur kekuatanku. Masih mampukah aku melangkah menyusuri pematang sawah sekadar hanya mencari hawan malam untuk bertahan hidup?

Sejak pulang kampung karena kegagalanku merantau di Jakarta, sehari-hari kuhidupi diriku dari menjual daging kodok sawah di kota Purworejo. Siang hari jualan, bertani, membuat batu bata, dan malam hari mencari kodok.

Perutku tak mau lagi kompromi. Kekuatan gaib yang tak bisa saya bahasakan sudah mulai merenggut sekujur jiwa dan ragaku. Sebentar lagi saya akan muntah, pingsan, dan mati di tengah sawah. 

Rasanya akan memalukan  karena penemuan mayatku akan menggemparkan seluruh warga kampung. “Ditemukan pemuda pencari kodok meninggal dimangsa hantu penghuni beji desa yang angker.”

Ya, saat ini saya sedang berada di sebelah barat beji atau sumber air keramat di salah satu desa di Kecamatan Banyuurip Purworejo. Semua warga tahu, tempat ini angker dan memiliki area sawah dengan lumpur hidup.

Banyak warga bilang, area wingit ini dihuni oleh hantu perempuan yang kadang menyerupai peri (putri cantik) yang terkadang menampakkan diri sedang mandi di mata air keramat.

Yang lain lagi bilang, lumpur hidup di area ini terhubung dengan Sungai Bogowonto di kota Purworejo. Orang yang dihisap bisa hilang dan masuk Bogowonto dan menuju pantai laut Selatan di mana ada tahta Nyai Roro Kidul.

Ada juga yang menyebut di sini dihuni danyang desa yakni roh-roh nenek moyang leluhur yang berkumpul untuk menjaga desa. Namun keberadaanya juga bisa menghukum manusia jika melakukan perbuatan tercela.

Yang pasti, bukan danyang dan bukan lumpur hidup yang saat ini menyergapku. Entah apa namanya. Mungkin lebih tepat disebut “kuasa kegelapan” di alam pikiran dan panca inderaku. Aku harus mengaku kalah.

Sebelum mati sia-sia di tempat ini, kuputuskan mundur dan menjauhi lokasi angker itu. Kuseret badanku sambil membawa gala dan jaring perangkap kodok.

Di kepalaku ada senter  namun rasanya hilang terangnya dan hanya  menyisakan remang akibat kuasa  kegelapan yang membuatku tak berdaya.

Nafasku terengah-engah. Kuhempaskan tubuhku di sebuah dangau ujung selatan desa kelahiranku. Malam ini sia-sia. Tak seekorpun kodok bisa saya dapatkan.

Saya gagal untuk kesekian kalinya. Saya gagal mengalahkan hantu-hantu yang selalu menghantui hidupku. Terasa masih sulit mengakui kekalahan. Kalah itu sakit. Sakit itu perih di hati.

Malam ini nampaknya masih tetap harus aku arungi dengan bercengkerama dengan diriku sendiri. Berteman hati sakit.

Kilas Balik Masa-Masa Hamil Reformasi

Huru-hara politik tahun 1998 langsung merenggut kehidupan baruku di Jakarta yang masih berumur jagung. Lulus SMA Swasta Katolik, saya langsung bisa bekerja sebagai staf Giro/Klering di Bank Umum Servitia (BUS).

BUS gulung tikar dan pemiliknya sempat menjadi buron negara. Saya sempat mendapatkan pesangon dan dengan pesangon itulah saya bermimpi bisa meraih gelar sarjana S1. 

(Bersambung ke part 2)

Penulis: Fajar Rangga

Reporter : Taat Ujianto
Editor : Sesmawati