MALANG – Mahasiswa UM yang tergabung ke dalam program Universitas negeri malang Belajar Bersama Masyarakat (UM-BBM) 2026 menyelenggarakan Sosialisasi EcoMaggot pada Sabtu (04/07/2026) di Balai Desa Kasembon, Kecamatan Bululawang, Kabupaten malang. Kegiatan ini diikuti oleh 18 peserta terdiri dari perangkat desa, kader putri, ketua RT, remaja masjid, serta Masyarakat Desa Kasembon yang bertujuan memberikan edukasi kepada Masyarakat mengenai pengelolaan sampah organik melalui budidaya maggot Black Soldier Fly (BSF) yang ramah lingkungan dan memiliki nilai ekonomi. Kegiatan diawali dengan pemaparan mengenai pengelolaan sampah organik dan budidaya maggot. Selanjutnya, peserta mengikuti kegiatan demonstrasi teknik budidaya “EcoMaggot”, sesi diskusi dan tanya jawab, pembagian hadiah kepada peserta paling aktif, serta pembagian bibit maggot sebagai langkah awal agar Masyarakat dapat memulai usaha budidaya secara mandiri di lingkungan masing-masing. Dalam pelaksanaannya, tim UM-BBM tidak hanya menyampaikan materi secara teoritis, tetapi juga memberikan demonstrasi langsung mengenai tahapan budidaya maggot Black Soldier Fly (BSF). Sesi praktik dipandu oleh Diva dan Nanda, yang mendemonstrasikan setiap tahapan budidaya mulai dari pengenalan media budidaya, pemilihan limbah organik yang sesuai sebagai pakan, cara pemberian pakan yang tepat, hingga proses pemeliharaan maggot agar dapat tumbuh secara optimal. Peserta juga diberikan kesempatan untuk berdiskusi mengenai berbagai tantangan yang mungkin dihadapi ketika membudidayakan maggot di rumah maupun di lingkungan sekitar. Sebagai bentuk keberlanjutan program, tim UM-BBM membagikan bibit maggot kepada peserta agar pengetahuan yang telah diperoleh tidak berhenti pada kegiatan sosialisasi, tetapi dapat langsung diterapkan dan dikembangkan secara mandiri oleh masyarakat Desa Kasembon. Antusiasme peserta terlihat jelas sepanjang kegiatan berlangsung. Masyarakat aktif mengajukan pertanyaan mengenai beragam topik, mulai dari teknik budidaya, pemeliharaan maggot, hingga pemanfaatannya dalam mengolah limbah organik rumah tangga. Bahkan, beberapa peserta menyarankan agar tim UM-BBM Menyusun panduan praktis budidaya maggot yang dapat menjadi acuan bagi Masyarakat setelah kegiatan berakhir. Hal tersebut menunjukkan besarnya minat Masyarakat terhadap metode pengelolaan sampah yang sederhana, aplikatif, dan berkelanjutan. Ketua Tim EcoMaggot, Ahmad Rivaldi, menyampaikan bahwa program EcoMaggot dirancang sebagai bentuk pemberdayaan Masyarakat melalui pemanfaatan limbah organik menjadi sesuatu yang lebih bermanfaat. Harapannya, pengelolaan sampah tidak hanya berorientasi pada pengurangan limbah, tetapi dapat membuka peluang ekonomi melalui budidaya maggot yang hasilnya dimanfaatkan sebagai pakan ternak maupun ikan, sedangkan residunya (frass) dapat digunakan sebagai pupuk organik. EcoMaggot merupakan inovasi pengelolaan sampah organik yang memanfaatkan larva Black Soldier Fly (BSF) sebagai agen pengurai alami. Larva BSF mampu menguraikan berbagai jenis limbah organik, seperti sisa sayuran, buah-buahan, maupun sisa makanan rumah tangga dalam waktu yang relatif singkat. Selain mampu mengurangi volume sampah yang berakhir di tempat pembuangan akhir (TPA), budidaya maggot juga menghasilkan produk bernilai ekonomi. Larva maggot dapat dimanfaatkan sebagai pakan alternatif berprotein tinggi untuk ikan, unggas, maupun ternak lainnya. Melalui konsep tersebut, EcoMaggot menjadi salah satu solusi yang mengintegrasikan aspek lingkungan, ekonomi, dan pemberdayaan masyarakat dalam satu sistem pengelolaan sampah yang berkelanjutan. Melalui program Sosialisasi EcoMaggot ini, mahasiswa UM-BBM mengharapkan warga Desa Kasembon dapat lebih memahami bahwa sampah organik bukanlah sesuatu yang harus dibuang secara sembarangan, melainkan sebuah sumber daya yang masih memiliki potensi untuk dimanfaatkan. Dengan pelaksanaan budidaya maggot secara berkelanjutan yang mengurangi jumlah sampah organik rumah tangga, sambil meraih keuntungan ekonomi dari hasil budidaya tersebut. Program ini diharapkan menjadi langkah awal dalam menciptakan budaya pengelolaan sampah yang lebih mandiri, kreatif, dan ramah lingkungan di level desa. Ke depannya, tim UM-BBM berharap EcoMaggot menjadi program yang terus berkembang melalui kolaborasi pemerintah desa dan masyarakat. Dengan adanya dukungan dan komitmen bersama, budidaya maggot berpotensi sebagai solusi jangka panjang untuk mengatasi masalah sampah organik, mendukung terciptanya lingkungan yang bersih, sehat, dan produktif serta memberikan inspirasi kepada desa-desa lain untuk menerapkan konsep serupa sebagai usaha untuk mewujudkan pengelolaan sampah berbasis masyarakat yang berkelanjutan.