Netral English Netral Mandarin
08:48wib
BMKG menyatakan gempa yang terus berlangsung di wilayah Ambarawa Kabupaten Semarang dan Kota Salatiga merupakan jenis gempa swarm dan perlu diwaspadai. Sejumlah calon penumpang pesawat di Bandara Soekarno-Hatta, Kota Tangerang, mengeluhkan soal aplikasi PeduliLindungi serta harga tes PCR yang dinilai mahal.
Mafia Tanah Bermain, Ahli Waris di Cipinang Muara Dituduh Atas Pemalsuan Sertifikat

Kamis, 23-September-2021 22:30

Ilustrasi
Foto : Istimewa
Ilustrasi
6

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Ahli waris sah tanah di Cipinang Muara, Jakarta Timur, Lamsiar Silalahi dan Min Mardi menjadi korban tindak pidana dalam kasus pemalsuan sertifikat tanah.

Keduanya menjadi korban permainan mafia tanah yang memperjual belikan tanah tanpa sepengetahuan ahli waris. Padahal tanah yang mereka tinggali merupakan pemilik tanah peninggalan milik orang tuanya.

Kuasa hukum korban, Bintomawi Siregar mengatakan, tanah milik kliennya diaku oleh oknum dan dijual belikan tanpa sepengetahuan korban.

"Jadi gini tanah itu, diakui oleh salah satu pihak yang melaporkan pak Lamsiar dan Pak Min Mardi. Diakui dengan dasar akta jual beli aja, faktanya tanah itu tidak pernah dijual. Kemudian pak Lamsiar ini dilaporkan ke polisi atas tuduhan pemalsuan surat," kata Bintomawi Siregar di Jakarta Timur, Kamis (23/9/2021).

Atas laporan tersebut, Lamsiar dan Min Mardi pun harus berurusan dengan pihak Kepolisian Polrestro Jakarta Timur. Awalnya, Lamsiar dan Min Mardi dipanggil ke Mapolrestro Jakarta Timur untuk dimintai keterangan ihwal proses jual beli tanah tersebut, namun pada akhirnya keduanya dijadikan tersangka.

"Orang tuanya inilah yang punya tanah itu dan mereka tinggali dari tahun 1970. Setelah orang tuanya meninggal, mereka diganggu sama oknum-oknum yang sudah melakukan jual beli," tuturnya.

Menurut Lamsiar, oknum yang menjual tanah milik orang tuanya lah yang telah melakukan kebohongan dan menyebabkan dirinya serta Min Mardi harus berurusan dengan polisi.

"Jadi berdasarkan penjualan ini lah sudah keluar sekitar Rp 800 juta dan pembeli merasa dirugikan, dan terus yang melaporkan saya itu mungkin salah satu orang yang menyebabkan kerugian 800 juta itu ke pihak lain," kata Lamsiar.

Lebih lanjut, Lamsiar menuturkan, kasus yang menjeratnya merupakan fitnah dan syarat dengan dugaan salah tangkap. Pasalnya, selain tak pernah menerima hasil uang dari penjualan tanah tersebut, baik Lamsiar dan Min Mardi merupakan ahli waris sah.

"Awal mulanya itu ini tanah dijual sama orang, milik ahli waris orang tua. Dijual sama orang kepada pembeli. Jadi dia dikejar yang menerima uang sudah kena dan satu lagi meninggal dunia dan sisanya itu adalah kami berdasarkan laporan," tuturnya.

Reporter : Wahyu Praditya P
Editor : Irawan HP