• News

  • Opini

Bayangan Indah ASN Bekerja dari Rumah

Ilustrasi model bekerja dari rumah
foto: mommiesdaily.com
Ilustrasi model bekerja dari rumah

JAKARTA, NETRALNEWS.COM – Bisa jadi, sebagian Aparatur Sipil Negara (ASN) bertempik sorak jika wacana kerja dari rumah benar direalisasikan. Mungkin pula sebagian lainnya tak terpengaruh dan menganggap isu tersebut tak akan memengaruhi kualitas kinerjanya.

Kencenderungan adalah hal biasa. Di mana pun, akan selalu ada kecenderungan SDM yang selalu menjaga kualitas kinerjanya dengan baik dan ada SDM yang hanya kebetulan bisa menjadi ASN, sekadar “menumpang” bekerja dan akan sangat senang dengan wacana seperti itu.

Bagi yang memiliki kinerja baik, entah bekerja dari rumah maupun di kantor, kualitasnya tak akan jauh berbeda. Namun demikian, dampak  positif dan negatif sistem bekerja dari rumah, sedikit atau banyak akan memengaruhinya.

Sekilas, sistem “bekerja dari rumah”  sangatlah mengasyikkan. Bayangan paling mudah adalah bisa menghemat ongkos transport, jumlah kendaraan menuju kantor berkurang sehingga mengurangi kemacetan, ASN punya waktu kerja fleksibel, dan sebagainya.

Bekerja dari rumah sepertinya bisa membuat ASN bekerja efektif dan efisien. Umur tak terbuang di jalan. Tingkat stres bisa ditekan akibat mengejar jam masuk di tengah macet. Tekanan dari bos tidak secara langsung face to face.

Bekerja dari rumah juga bisa ASN menghabiskan waktu bersama keluarga lebih lama. ASN bisa sambil memantau kondisi anak dan senantiasa sedia memenuhi kebutuhannya, apalagi bila sedang memiliki bayi. Singkat kata, ada banyak bayangan indah bekerja dari rumah.

Namun, kecenderungan negatif juga sudah menanti. ASN yang tidak terbiasa memiliki disiplin tinggi, dipastikan justru akan mengalami kekacauan mengatur jam kerja.

Bekerja dari rumah bisa membuat ASN tersedot dalam masalah kehidupan internal keluarga. Faktor emosional dalam relasi keluarga akan ikut memengaruhi fokus kerja. Akibat ingin memperhatikan keluarga, bisa lalai dan menunda target dan jam kerja.

Terlepas dari untung dan rugi yang bisa disusun berderet, Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional Suharso Monoarfa sudah menyatakan bahwa kebijakan kerja dari rumah akan mulai diujicobakan pada 1000 Aparatur Sipil Negara (ASN) pada 1 Januari 2020.

Kebijakan ini sebagai salah satu rintisan memangkas rantai kerja birokrasi, mengefisiensi waktu, dan menambah produktivitas. Sistem ini pun bukan hal asing. Di beberapa perusahaan, terutama model start-up, sudah diberlakukan.

Hanya saja, model ini biasanya hanya dijalankan untuk mengisi posisi software engineer yang sulit didapat. Kualitas kinerja software engineer pun dipengaruhi oleh peran dan dukungan antar tim. Sementara dengan jarak jauh, diskusi tidak akan maksimal.

Kalaupun sistem itu tetap dijalankan, ada baiknya faktor penunjang diperhatikan. ASN yang dipilih untuk mengikuti ujicoba harus dipastikan memiliki infrastruktur pendukung mulai dari ketersediaan ruang kerja di rumahnya, jaringan internet memadahi, dan sebagainya.

Selanjutnya, sistem yang dibangun harus benar-benar mampu mendeteksi kedisiplinan kerja, terjadwal, terukur, evaluatif, didukung sistem kontrol yang transparan.

Semua tahu bahwa salah satu penyebab kinerja birokrasi di Indonesia adalah pengambilan keputusan yang berbelit dan berlapis. Sistem kerja dari rumah harus mampu mengatasi permasalahan itu, bukan malam membuat semakin memperlambat keputusan.

Memang, teknologi bisa menjadi solusi. Dengan sekali klik, jika sistem sudah jadi, keputusan bisa dilakukan tanpa harus mendapatkan tanda tangan pengambil keputusan. Akan tetapi, tetap saja, mentalitas kerja cepat, tanggap, peka, tidak abai, tak bermalas-malas, jauh lebih menentukan.

Kerja dari rumah jangan dibayangkan hanya sekadar menjawab gaya hidup di era milenial. Bekerja dari rumah adalah budaya membangun produktifitas yang sangat bergantung pada kualitas SDM dan ditunjang sistem teknologi yang tak memberikan ruang penyalahgunaan dan manipulasi waktu.

Penulis: Ahmad Suteja

Editor : Taat Ujianto