• News

  • Opini

Dulu Ustaz Ba‘asyir Batal Dibebaskan, Kini Betapa KPK Hilang Tajinya

Birgaldo Sinaga
Facebook/Birgaldo
Birgaldo Sinaga

JAKARTA, NETRALNEEWS.COM - Setahun lalu, saya ngotot melawan rencana Ustaz Abu Bakar Ba'asyir (ABB) dibebaskan dengan alasan kemanusiaan. Hasilnya, saya dibully sama diehard Jokowi.

Pada kasus UU Revisi KPK dengan framing ada Taliban di KPK saya juga berseberangan dengan mereka yang berupaya melemahkan dan mendelegitimasi KPK.

Publik terbelah. Terjadi penolakan masif. Hasilnya keluar UU KPK baru yang diputuskan pemerintah dan DPR dalam hitungan hari. Pemerintah tidak bergeming. UU KPK Revisi jalan terus.

Sekarang kita menyaksikan betapa rasa was-was kita tentang hilangnya taji KPK menyikat koruptor tampak telanjang. Kita tidak akan pernah lagi melihat KPK yang kuat dan bertaji. KPK yang dulu pernah dibanggakan tinggal fosil sejarah.

Dulu KPK dengan mudah menciduk Ketua Umum Partai Demokrat sekelas Anas Urbaningrum, Luthfi Hasan Ishaq Presiden PKS, Surya Darma Ali Ketum PPP, Patrice Rio Capela (Sekjen NasDem, Rommy Rumarhozi Ketum PPP, Setya Novanto Ketum Golkar.

Sekarang? Menangkap caleg Harun Masiku saja tidak berdaya. Malah terkesan melindungi. Menyedihkan...

Mengapa Saya Ngotot Menolak Ustaz ABB Dibebaskan? Ini adalah catatan setahun lalu.

Suatu sore, seorang teman senior yang saya hormati bertemu dengan saya. Ia menyampaikan agar saya mengerem suara protes saya soal pembebasan Ustad ABB. Banyak dari teman-teman relawan Jokowi yang berharap agar saya menghentikan protes itu.

Saya menyimak pesan yang disampaikan. Saya tahu kegundahan itu. Kegundahan dan rasa takut suara yang saya kirimkan menggerus kepercayaan follower saya pada Jokowi. Masuk akal.

Ada banyak suara yang berseliweran di media sosial. Ada yang bersinggungan dan ada yang bersisian. Satu kubu yang dulu bahu membahu memenangkan

Jokowi tetiba menarik garis demarkasi. Kecebong vs Golput. Golput menjadi momok baru dalam satu gelanggang pertarungan sesama saudara lama.

Saya mengerti dan memahami tulisan kritikan dan ketidaksetujuan saya pada pembebasan Jokowi itu bisa mempengaruhi banyak orang meninggalkan Jokowi.

Tentu tulisan saya bukan sebagai faktor utama mengapa kecebong berubah menjadi golput. Tapi dianggap menjadi katalisator. Mempercepat reaksi kimia bermigrasinya kecebong menjadi golput.

Lama saya renungkan soal ini. Haruskah saya menuliskan pikiran saya? Ditambah lagi embel-embel yang melekat dalam nama saya sebagai caleg NasDem yang notabenenya pendukung Jokowi.

Ini bagai menelan ikan yang ada durinya. Tapi harus ditelan. Padahal saya tahu akan banyak suara miring dan caci maki hujatan ala kampret bakal saya terima. Dan memang benar terjadi.

Saya jelaskan kepada teman senior yang saya hormati itu. Apa alasan saya menulis ketidaksetujuan saya pada rencana pembebasan Ustad ABB?

Dalam politik kekuasaan siapa yang mendekat kepada kekuasaan akan dominan menguasai keputusan politik. Baik keputusan yang menyangkut politik, ekonomi, budaya, hukum dan pertahanan keamanan.

Sekarang kekuasaan berpusat pada Presiden Jokowi. Presiden Jokowi dilingkari oleh banyak politikus partai politik dan pengusaha yang semuanya punya kepentingan masing-masing.

Menggolkan kepentingan ini perlu kanal dalam menembus istana. Artinya kelompok yang kuat akses ke istana akan semakin dominan menguasai kebijakan politik. Terkadang sesama anggota kabinet Jokowi bertubrukan kebijakannya.

Beberapa waktu lalu YIM masuk dalam gerbong TKN sebagai lawyer Jokowi-Amin. YIM tampak satu mobil golf bersama Presiden Jokowi di Istana Bogor. YIM secara resmi masuk mendukung Jokowi-Amin.

Proses masuknya YIM yang terkenal licin dan lihai ini tentu tidak ujug-ujug. Ada jalan panjang berliku yang harus dijalani antara Tim YIM dan Tim Jokowi-Amin. Semua berhitung berapa keuntungan yang didapat jika saling mendukung.

Tentu YIM sebagai politisi lihai tidak serta merta bergabung ke Jokowi Amin seperti mahasiswa baru masuk kampus. Diberikan mikrophone sudah merasa senang dan bangga.

Sejak YIM bergabung ke Jokowi-Amin sebenarnya saya sangat tidak setuju. Entah mengapa melihat YIM seperti melihat ada dua wajah dalam dirinya.

Seperti ada rencana terselubung yang suatu waktu akan dibuatnya. Respon saya ketika YIM masuk ke Jokowi-Amin saya ungkapkan dengan satu cuitan "Bagai kerikil dalam sepatu".

Dan apa yang saya takutkan akhirnya jadi kenyataan.

Tiga hari lalu, mendadak jagad medsos gempa bumi 8.5 skala richter. Kolam kecebong mendadak bergemuruh.

Terdengar berita bahwa Ustad ABB akan dibebaskan Jokowi. Jokowi setuju ABB dibebaskan meskipun ABB tidak menandatangani surat kesetiaan pada Pancasila dan NKRI. Alasannya kemanusiaan.

Sontak berita ini memancing pro kontra. Mulailah suara-suara netizen memprotes keputusan Jokowi ini dengan ancaman golput. Menarik dukungan elektoral.

Di kelompok die hard Jokowi lebih seram lagi delusi narasi yang dibangun. Bumbu-bumbu dramatis jika maka dipoles sedramatis mungkin. Pokoknya jika tidak begini maka akan begini jadinya. Jika begini akan begitu jadinya.

Dua arus utama suara pro kontra di kalangan kecebong ini bahkan sudah mengerikan. Ranah personal sudah diubek-ubek oleh mereka yang tidak bisa berargumentasi dengan substansi.

Pokoknya kalo kamu berbeda pikiran dengan kami die hard Jokowi maka pikiranmu itu kampret. Dungu. Tolol. Bodoh. Begitu sabda firman maha benarnya. Terus saya mau apalagi?

Ya, sudahlah terserah Elolah. Saya sampaikan kepada teman senior kemarin waktu datang ke rumah aspirasi.

Begini, Pak. Ada lobby YIM ke Presiden Jokowi untuk membebaskan Ustad ABB. Saya juga sedang melobby Presiden Jokowi dalam kamar yang berbeda. YIM bisa langsung bicara dengan Presiden. Kalau saya tidak bisa. Tapi saya tahu

Presiden Jokowi suka monitor informasi melalui media sosial. Jokowi pernah mengatakannya waktu kami bertemu dengannya di Istana Bogor. Kapan Jokowi melihat medsos? Saat di mobil, di pesawat, sebelum tidur. Itu kata beliau.

Satu-satunya kanal melobby Jokowi agar membatalkan niat membebaskan ABB adalah bersuara sekencang mungkin di media sosial.

Semakin keras banyak dan kencang suara itu pasti akan mempengaruhi Jokowi. Setidaknya Jokowi akan mempertimbangkan kembali.

Saya bukan menyerang Jokowi. Saya sedang berada dalam lintasan yang berbeda dengan YIM dalam memenangkan lobby politik. YIM di lintasan istana. Saya di lintasan dunia maya. Sekecil apapun peluang itu akan saya perjuangkan.

Saya tidak peduli apa kata orang tentang pikiran saya. Saya anggap saya sedang berjuang agar jangan pernah dalam sejarah republik ada pelaku kejahatan kemanusiaan dibebaskan dengan melanggar hukum.

Jika taruhannya saya dikucilkan dan dihina caci maki saya terima itu sebagai risiko perjuangan. Saya tidak mau tercatat dalam hidup saya membiarkan penjahat kemanusiaan dibebaskan atas alasan kemanusiaan.

Teman senior itu akhirnya memahami jalan pikiran saya. Ia akan menyampaikan alasan saya itu kepada teman-teman lainnya.

"Pak.., Kita lihat esok, ya. YIM atau kita yang menang melobby Presiden Jokowi," ujar saya sambil mengantar teman senior ke mobilnya.

Teman senior itu mengangguk. Ia tersenyum. Saya senang teman senior itu mengerti jalan pikiran saya.

Hari itu saya dapat kabar. Rencana pembebasan Ustad ABB dibatalkan Presiden Jokowi.

Suara-suara teman-teman seperjuangan yang begitu gigih menyakinkan Jokowi agar membatalkan rencana membebaskan Ustad ABB akhirnya berhasil.

Selamat untuk Indonesia Kita.. Selamat untuk perjuangan melawan kejahatan kemanusiaan.

Tetap semangat mendukung Presiden Jokowi Satu Periode Lagi.

Salam perjuangan penuh cinta

 

Penulis: Birgaldo Sinaga

Editor : Taat Ujianto