• News

  • Opini

Yesa Si Malaikat Tanpa Sayap

Birgaldo Sinaga bersama Yesa (paling kanan) sedang menjenguk Syifa
Facebook/Birgaldo
Birgaldo Sinaga bersama Yesa (paling kanan) sedang menjenguk Syifa

BANDUNG, NETRALNEWS.COM - Siang itu hujan gerimis. Kami baru saja selesai mengukur kaki palsu untuk Bu Suparti. Di Jalan AH Nasution. Di ruangan kantor Kang Dadan Hernawan, seorang tuna daksa yang punya usaha membuat kaki palsu.

Yesaya Fermindi Hohu, survivor cancer memberi hadiah buat Bu Suparti, sebuah kaki palsu. Bu Suparti terpaksa diamputasi kakinya dari atas lutut akibat kanker kelenjar getah bening. Oktober lalu kakinya diamputasi.

Dari Jalan AH Nasution itu, kami bertiga bergerak menuju RS Hasan Sadikin. Sekitar 10 km jaraknya. Saya menyetir. Yesa dan adiknya Vita duduk manis.

"Bang Bir kita pergi ke RS Hasan Sadikin ya. Saya mau melihat Syifa," ujar Yesa sehabis mengukur kaki palsu bu Suparti. Bu Suparti dan suaminya Pak Paino kami tinggal di kamar Kang Dadan.

Saya mengangguk. Saya tidak tahu siapa Syifa. Saya pikir Syifa temannya Yesa. Mumpung di Bandung mungkin Yesa ingin ketemu konconya. Ya uwis saya ngikut.

Jam menunjukkan pukul 11.30 WIB saat kami masuk halaman RS Hasan Sadikin. Dari petugas informasi kami diarahkan berjalan dari sisi sayap kiri lalu melewati beberapa koridor.

Yesa sedikit ngos-ngosan. Nafasnya tersengal. Maklum, kanker stadium IV yang begitu betah di tubuhnya membuat stamina Yesa cepat terkuras.

Setelah tanya sana sini akhirnya kamar Kenanga 2 itu ketemu. Di dalam kamar itu ada 8 ranjang. Setiap ranjang dibatasi gordyn kain berwarna hijau muda.

Di pojok kamar, dekat kamar mandi seorang bocah kecil tampak tertidur pulas. Di hidungnya terpasang selang oksigen. Di pergelangan tangan kanannya terpasang jarum infus. Ia tidur. Wajahnya sedikit menghitam pucat.

Saya diberitahu. Nama bocah kecil itu Siti Mariyam Assyifa. Anak Kang Ujang. Sudah 2 tahun lebih kena kanker leukemia.

Saya menarik nafas dalam. Memandangi wajah gadis kecil itu. Tiga kali ia batuk. Ayahnya harus mengangkat punggungnya. Batuknya berat sekali. Panjang. Tidak tega melihatnya.

Kang Ujang cerita, sudah sebulan lebih Syifa opname. Sudah sebulan Kang Ujang menemani Syifa. Sendirian tanpa siapa-siapa. Hanya dirinya.

"Ibu kandung Syifa tidak mau merawat Syifa. Syifa ditinggalkan sejak tahu kena leukemia," ujar Kang Ujang terbata.

Kang Ujang tahu Yesa dari facebook. Yesa menjadi inspirasi Kang Ujang. Dari pertemanan fesbuk itu Yesa tahu kondisi Kang Ujang yang berjuang sendirian merawat Syifa.

"Bagaimana Kang Ujang bisa menjaga Syifa? Terus biayanya darimana kalo tidak bekerja?" tanya saya.

"Apa yang ada bisa saya jual, saya jual apa saja Bang. Mesin jahit. Motor. Apa saja," ujar Kang Ujang sambil mengelus kening Syifa.

Saya terdiam. Sendirian mengurus seorang anak yang sakit itu tidak mudah. Sudah sebulan. Ujang tidak bisa ke mana-mana. Hanya dia andalan Syifa. Ibunya pergi entah kemana. Tidak pernah datang melihat Syifa.

Syifa terkena kanker sejak usia 20 bulan. Sekarang usianya 4 tahun. Berkali2 opname. Berkali-kali transfusi darah. Berkali-kali kemo.

Saya mendengarkan Kang Ujang cerita tentang anaknya itu. Ia sangat sayang pada Syifa. Ia sanggup bertahan 24 jam menemani Syifa. Sehari-hari pekerjaan Kang Ujang mengantar barang. Ia tinggal di Ciwidey. Jauh masuk ke pelosok desa.

Di kamar itu saya melihat besarnya cinta seorang ayah. Besarnya kasih sayang seorang laki2 pada anak gadis kecilnya.

Di kamar itu mata saya sampai memerah. Membayangkan beratnya hidup seorang anak kecil Syifa. Merasakan beratnya perasaan seorang ayah melihat anaknya yang kerap kali mengerang kesakitan tapi tidak berdaya apa2.

Yesa membesarkan hati Kang Ujang. Yesa tahu seperti apa rasanya berjuang melawan kanker. Kang Ujang tersenyum. Ia gembira sekali dikunjungi Yesa. Matanya berbinar.

Asyifa terbangun. Ia clingak clinguk melihat kami. Tidak ada suara keluar dari bibirnya. Hanya kedua bola matanya bergerak liar memandangi kami satu persatu. Ia menatap tajam adiknya Yesa Vita. Mungkin dipikir ibunya. Syifa pasti rindu sekali ibunya.

Jam menunjukkan pukul 12.00 WIB. Yesa harus makan. Yesa tidak boleh telat makan. Itu aturannya. Ia tidak boleh melanggar aturan itu. Jika dilanggar bisa kolaps.

"Kang..ini ada sedikit rezeki. Terima ya," ucap Yesa sambil menyalamkan amplop ke tangan Kang Ujang. Kang Ujang terkejut. Ia mencoba menepis. Ia tahu Yesa juga butuh. Tapi Yesa bilang dapat rezeki dari Kick Andy.

Saya terpana. Melihat adegan Yesa memberikan bantuan uang itu serasa menabok saya. Yesa yang tidak punya apa-apa memberikan rezekinya untuk Syifa.

Kang Ujang menyerah. Tangannya gemetar. Suaranya tersekat. Ia begitu terharu. Ia tidak menyangka diberikan sesuatu. Dikunjungi saja sudah senang sekali. Apalagi dapat bantuan.

Saya seperti orang bloon di sana. Benar-benar tidak ada persiapan untuk itu. Bagaimana mungkin Yesa memberi sesuatu sementara saya malah lenggang kangkung tanpa memberi sesuatu. Alamak malu sekali. Betapa kecil sekali saya di hadapan Yesa.

Saya pamit ke belakang. Meninggalkan sekejab mereka. Di toilet saya bongkar semua dompet. Saya bongkar semua kantong di dalam tas. Berapapun yang ada saya kumpulkan. Saya merasa bersalah jika meninggalkan Kang Ujang tangan hampa. Belum lagi malu melihat Yesa si Malaikat tanpa sayap yang berhati emas ini.

Kamipun pamit. Asyifa tersenyum. Kang Ujang tersenyum. Senang sekali melihat senyum mereka. Meskipun esok hari punya cerita sedih lagi.

"Kang..., jangan menyerah ya. Ini bukan akhir segalanya. Apa yang Kang Ujang berikan buat Syifa itu luar biasa," ujar Yesa sambil menjabat tangan Kang Ujang.

Hari itu, saya tertunduk malu. Di hadapan Yesa saya merasa kecil sekali. Yesa sekali lagi mengajar saya sebuah nilai baru. Nilai tentang hidup. Hidup untuk menghidupi kehidupan sekalipun nafas tersengal menghitung hari.

Yesa..., kamu adalah malaikat tanpa sayap...

Terimakasih untuk semua itu.

Salam perjuangan penuh cinta

Penulis: Birgaldo Sinaga

Editor : Taat Ujianto