• News

  • Opini

Yesa, Seorang Muslim, Saudara dalam Kemanusiaan, Beristirahatlah di Surga!

Birgaldo Sinaga dan Yesa
Facebook/Birgaldo Sinaga
Birgaldo Sinaga dan Yesa

JAKARYA, NETRALNEWS.COM - Bunyi suara hape terdengar. Terlihat di layar nama Ibu Hetty Setyapurnama. Feeling saya merasa ada firasat yang tidak enak. Jarang-jarang Ibu Hetty telepon. Pikiran saya langsung tertuju pada Yesa Fermindi Hohu. Pasti berita buruk.

Beberapa hari lalu, Yesa dalam kondisi kritis. Ia dilarikan ke RS Dharmais. Masuk ICU. Kondisinya gawat sekali. Ia menjerit begitu keras. Tidak tertahankan lagi rasa sakit menyerang tubuhnya. Ia meraung menjerit kesakitan.

Hari ini, Jumat,pukul 21.30 WIB, Yesa si pejuang kanker yang hebat ini pergi meninggalkan dunia fana ini.

Enam tahun lebih Yesa bertahan dan berjuang melawan kanker ganas yang menggerogoti hampir seluruh tubuhnya. Ia sudah divonis kena stadium 4 pada 2014.

Yesa begitu kuat dan berani menjalani hari-harinya berdamai dengan sel-sel ganas kanker. Tubuhnya sudah seperti mobil rongsokan. Herannya Yesa selalu gembira menjalani aktifitas hidupnya. Ia bekerja keras berjualan kaca mata di pinggir jalan BSD.

Keuntungan penjualan dibagikannya buat orang-orang susah. Orang-orang yang tidak bisa mencari nafkah lagi. Terutama yang kena kanker yang diamputasi kakinya.

Usai sudah perjuangan panjang tak kenal lelah dan menyerah dari Yesa. Ia sudah begitu banyak memenangkan piala kebaikan dan kebajikan.

Masih saya ingat kebaikan hatinya saat bersama-sama dengannya dalam perjalanan ke Bandung membeli kaki palsu buat Bu Parti.

"Bang Bir...untuk apa saya menyimpan uang? Saya selalu berpikir jika besok masih bisa bernafas saja sudah  syukur. Harta tak dibawa mati. Mumpung saya dapat rezeki, bagus saya bagi sama yang lebih membutuhkan," ujar Yesa enteng setelah menerima hadiah 50 juta dari Kick Andy.

Semua uang hadiah  itu dibagikannya kepada orang yang membutuhkan.

Yesa adalah malaikat bagi banyak orang. Ia tertatih-tatih berjalan, nafasnya tersengal saat sedang berjualan. Terkadang ia pingsan di lapaknya.  Tapi demi menolong orang yang lebih susah, ia lakukan dengan hati yang gembira.

Inilah yang membuat Yesa bisa bertahan 6 tahun lebih. Ia menabung banyak sekali kebaikan dan welas asih. Cinta dan kasih sayangnya pada sesama seluas samudra.  Sekalipun keadaan hidupnya sedang berada di ujung maut.

Saudara dalam kemanusiaan

Yesa adalah pejuang sejati yang merawat anugerah kehidupan, sekalipun kehidupan itu tidak berpihak padanya.  

Setiap helaan nafasnya adalah cinta dan kasih sayang.  Ia sering mengerang kesakitan, tapi kekuatannya mengalahkan rasa sakit itu.  

Saat ia bisa mengetik, ia bagikan spirit, energi dan makna hidup. Saat ia tergeletak lemah, ia diam dan tidak mau mengeluh sedang sekarat.

Ia tidak mau menunjukkan pada kami rasa erangan itu. Abaikan sakit. Bersyukur selalu. Begitu slogannya.

Saya mengenalnya setahun lalu. Ia follower saya yang mengirim pesan tentang keadaannya. Dari sana persahatan kami terjalin.

Bu Hetty dan Bu Linda dua sohib seperjuangan menjadi bagian dari keluarga bagi Yesa. Yesa selalu didampingi 24 jam oleh adik sepupunya yang sangat baik Mba Vita.

Kata pejuang kemerdekaan Kuba, Che Guavara, jika hatimu bergetar melihat ketidakadilan, engkau adalah saudaraku.

Kata Ali bin Abu Thalib, “Dia yang bukan saudaramu dalam iman adalah saudaramu dalam kemanusiaan”

Begitulah Yesa. Yesa bagi Bu Hetty, Bu Linda dan saya sudah seperti saudara kami. Yesa menganggap saya abangnya sendiri. Ibu Hetty adalah ibunya sendiri. Bu Linda seperti cecenya sendiri.

Kemanusiaan menjadi nilai dasar perjuangan kami. Yesa adalah pejuang kemanusiaan. Kami tidak ada apa-apanya jika dibandingkan apa yang sudah dilakukan Yesa bagi sesama.

Yesa seorang muslim. Bu Hetty seorang Tionghoa Katolik.  Bu Linda, Tionghoa Kristen dan saya Batak Kristen.  Embel2 agama, suku  yang melekat pada masing2 kami itu tidak membuat kami berjarak.

Kita tidak bisa memilih lahir dari ibu siapa, suku apa, agama apa. Tapi kita bisa memilih untuk menghormati manusia dengan kemanusiaan. Tanpa peduli darimana asalnya.
Kami selalu merayakan hidup dengan cerita-cerita gembira. Kami begitu kuat dan dekat.  Saling topang. Saling peluk. Saling menguatkan.

Hari ini, Yesa sahabat saya dimakamkan. Ia kembali keharibaan Sang Pencipta. Ia dibungkus kain kafan. Sama seperti orang-orang besar dan orang hebat lainnya.

Saat dikebumikan, semua hanya memakai satu pakaian. Kain kafan.

Tidak pandang raja, penguasa, jenderal, panglima, presiden atau konglomerat. Semua sama. Sama-sama menghadap Ilahi tanpa bisa mengikutsertakan para pendukung, pengikut, harta dan kemegahannya.

Yesa meninggalkan begitu banyak cinta bagi kita. Ia menginspirasi banyak orang. Ia mengajarkan pada kita bahwa hidup untuk menghidupi kehidupan meskipun nafas sedang tersengal adalah wujud syukur doanya pada Tuhan. Doa terbaiknya adalah menolong orang lain.

Hari ini, saya ingin memberi penghormatan terakhir kepadanya. Tapi jarak terlalu jauh untuk bisa pergi ke sana. Sahabat saya Bu Hetty dan Bu Linda akan hadir di pemakaman.

Selamat jalanlah adinda Yesa...

Beristirahatlah dengan tenang bersama sahabat-sahabat seperjuanganmu di surga.

Cinta dan sayangmu pada kemanusiaan akan terus kami rawat..selagi nafas masih ada.

We love you, Yesa..

Penulis: Birgaldo Sinaga

Editor : Taat Ujianto