• News

  • Opini

Ku Menangis Bapak Presiden, Anda Jauh dari Harapan

Birgaldo Sinaga
Foto: Istimewa
Birgaldo Sinaga

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Seorang teman terkejut membaca postingan saya yang begitu keras dan tajam soal pembunuhan Pendeta Yeremia Zanembani.

Ia seorang pendukung garis keras Presiden Jokowi. Ia sama seperti saya. Saya tahu perjuangannya, dan dia tahu perjuangan saya. Mendukung Jokowi sepenuh hati sejak 2014 lalu.

Pendeta Yeremia tewas dibunuh pada 19 September 2020 di Hitadipa Papua. Pembunuhannya tergolong sadis.

Saya tahu di sana sedang terjadi konflik. Pembunuhan Pendeta Yeremia menjadi bagian dari isu konflik itu.

Atas peristiwa itu, saya memilih diam dan tidak bersuara. Saya memantau dan mengamati lebih dalam apa sesungguhnya yang terjadi.

Respon pemerintah  tampak slow. Presiden Jokowi tidak berucap satu patah katapun. Media mainstream juga tidak begitu mengulasnya.

Kira-kira seminggu kemudian, Pimpinan Gereja Kemah Injili Indonesia bersuara atas kasus ini. Mereka berteriak atas nasib pendeta Yeremia yang dicuekin negara.

Berikutnya organisasi terbesar gereja PGI Persekutuan Gereja-Gereja Indonesia juga buka suara. Mereka mengeluh atas reaksi pemerintah yang jauh dari keadilan dan kebenaran.

Apa sesungguhnya yang terjadi?

Melihat ini entah mengapa saya begitu emosional. Ada perasaan terluka. Ada perasaan campur aduk.

Beberapa minggu sebelumnya, seorang ulama Syech Ali Jaber mendapat serangan dari seorang pemuda bernama Alpin. Lengannya tertusuk.

Kontan Indonesia heboh. Kita terkejut. Kita mengecam keras dan mengutuk keras aksi kejahatan itu.

Dalam hitungan menit berita ini menjadi trending topik. Presiden Jokowi buka suara atas kasus ini. Ia mendesak agar BIN dan Polri mengusut tuntas penyerangan ulama ini.

Tidak kurang Menkopolhukam Mahfud MD secepat kilat mengunjungi Syech Ali Jaber. Tidak lama kemudian, gantian Syech Ali yang bertandang ke Kantor Menkopulhukam.

Dua peristiwa kejahatan ini datangnya dalam tempo berdekatan. Tapi respons pejabat negara bak bumi dengan langit.

Jelas saya tidak terima. Jeritan hati keluarga Pendeta Yeremia dan gereja tidak dianggap.

Jika Papua adalah anak kandung republik  maka suara tangis mereka yang berharap perhatian keadilan dari bapaknya adalah sah dan wajar.

Tangisan dan ratapan mereka atas pembunuhan pendeta Yeremia bukanlah dibuat-buat bak sinetron "Ku Menangis".

Mirisnya, ratapan perih anak-anak Papua ini dipandang sebelah mata sama negara. Presiden Jokowi diam. Tidak kita dengar suara lantangnya seperti perintahnya soal kasus Syech Ali Jaber.

Saya harus bersuara. Bersuara sekeras-kerasnya. Ini sangat tidak adil. Ini benar-benar tidak bisa saya terima.

Saya mendukung dan membela Jokowi sejak dulu itu karena kami punya nilai kesamaan pikiran, ide dan gagasan. Bagaimana negara berdiri kokoh dalam melindungi segenap seluruh tumpah darahnya tanpa diskriminasi.

Tentu jika Jokowi abai pada nilai perjuangan yang sama itu, saya harus ingatkan. Saya harus kritik. Bila perlu berteriak sekencang-kencangnya. Jika masih tuli dan pekak, teriak pake toa ke Istana juga akan saya lakukan.

Kemarin, Deputi V KSP Jaleswari Pramodharwadani bersuara. Pesannya mengatakan istana membentuk tim investigasi.

Wow... saya harus bilang apa? Bangga gitu? Apresiasi gitu?

Pusara kuburan sudah hampir kering, istana baru bersuara. Dan sialnya suara itu cukup disuarakan hanya oleh orang sekelas Deputi V.

Mengapa bukan Presiden Jokowi yang bersuara? Mengapa hanya sekelas deputi KSP?

Andai Presiden Jokowi bicara tegas seperti ini tentu saya tidak akan kehilangan respek.

"Saya perintahkah BIN dan Polri untuk mengusut tuntas pembunuhan Pendeta Yeremia. Tegakkan hukum seadil-adilnya".

Sayang sekali...Ku menangis Bapak Presiden... anda jauh dari harapan. Saya kira Bapak adalah bapak kandung kami. Ternyata bukan.

Salam perjuangan penuh cinta

Penulis: Birgaldo Sinaga

Editor : Taat Ujianto