Netral English Netral Mandarin
13:54wib
Publik dihebohkan dengan ucapan selamat hari raya dari Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas kepada umat Baha'i. Video itu jadi sorotan karena Baha'i bukan salah satu dari enam agama yang diakui negara. Menaker Ida Fauziyah menyatakan karyawan dengan gaji di atas Rp 3,5 juta tetap bisa mendapatkan Bantuan Subsidi Upah (BSU) sebesar Rp 1 juta.
Pakar Pidana Pertanyakan Vonis Empat Tahun Terhadap Habib Rizieq

Jumat, 25-Juni-2021 01:18

Tangkapan layar sidang putusan dengan terdakwa Habib Rizieq Shihab di PN Jakarta Timur, Kamis (24/6/2021).
Foto : Istimewa
Tangkapan layar sidang putusan dengan terdakwa Habib Rizieq Shihab di PN Jakarta Timur, Kamis (24/6/2021).
8

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Pakar Hukum Pidana, Suparji Ahmad mengatakan bahwa vonis 4 tahun terhadap Habib Rizieq Shihab (HRS) dalam kasus tes swab di RS Ummi Bogor, perlu dihormati.

Namun demikian, Suparji pribadi mempertanyakan vonis tersebut. Pasalnya, ia menilai bahwa vonis 4 tahun tidak sesuai dengan perbuatan yang dilakukan HRS.

"Putusan tingkat satu ini dipertanyakan, karena cukup tinggi bila dilihat dari perbuatan yang bersangkutan. Terlebih tidak ada hal yang signifikan pasca HRS melakukan tindakan yang disebutkan yakni menyebarkan berita bohong," kata Suparji dalam keterangan persnya, Kamis (24/6/2021).

Menurutnya, dalam Pasal 14 Ayat (1) Undang-Undang RI Nomor 1 Tahun 1946 ada kata kunci yang krusial yakni 'menerbitkan keonaran'. Sementara, tidak ada keonaran di kalangan masyarakat pasca perbuatan HRS.

"Keonaran bila diartikan secara gramatikal adalah kondisi chaos sehingga terjadi kegaduhan di tengah masyarakat. Saya pribadi belum mendengar terjadi keonaran akibat berita bohong yang disampaikan HRS," jelasnya.

Untuk itu, Suparji menyebut sudah benar jika pihak Habib Rizieq mengajukan banding karena tidak setuju dengan putusan hakim, dan upaya banding itu merupakan hak setiap orang.

"Sudah benar apa yang disampaikan HRS di sidang bahwa ia akan melakukan banding. Itu langkah yang elegan dan konstitusional," pungkasnya.

Sebelumnya, Majelis Hakim Pengadilan Negeri Jakarta Timur menjatuhkan vonis 4 tahun penjara terhadap terdakwa kasus tes swab di RS Ummi Bogor, Habib Rizieq Shihab.

Vonis tersebut lebih rendah dari tuntutan jaksa penuntut umum (JPU) yang sebelumnya menuntut Rizieq dengan hukuman 6 tahun penjara.

Dalam sidang pembacaan vonis, Kamis (24/6/2021), hakim menyatakan Habib Rizieq terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana turut serta menyebarkan berita bohong dan dengan sengaja mengakibatkan keonaran terkait kasus tes usap RS Ummi.

Habib Rizieq dinilai melanggar dakwaan primer, Pasal 14 Ayat (1) subsider Pasal 14 Ayat (2) lebih subsider Pasal 15 UU Nomor 1 Tahun 1946 tentang Peraturan Hukum Pidana jo Pasal 55 Ayat (1) ke-1 KUHP.

Atas putusan hakim itu, Habib Rizieq menyatakan banding. "Saya menolak keputusan majelis hakim dan saya menyatakan banding," kata eks pentolan Front Pembela Islam (FPI) itu. 

Reporter : Adiel Manafe
Editor : Nazaruli