Netral English Netral Mandarin
15:01wib
Amerika Serikat mengimbau warganya untuk tidak bepergian ke Indonesia karena angka penularan infeksi virus corona (Covid-19) yang dinilai tinggi dan kemungkinan adanya serangan teror. Tingkat keterisian tempat tidur atau bed occupancy rate (BOR) di RSD Wisma Atlet mulai mengalami peningkatan pada 3-4 pekan pasca-Lebaran. BOR RS sudah mencapai 75,19 persen.
Biang Kerok Merasa Dobel Minoritas, Ade: Kita Paham Kristen-Tionghoa Banyak Ditindas di Indonesia, Paul Zhang Tak Perlu Dibela!

Minggu, 25-April-2021 08:35

Kolase Ade Armando dan Paul Zhang
Foto : Terkini.id
Kolase Ade Armando dan Paul Zhang
16

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Jozeph Paul Zhang buka-bukaan mengapa ia membuat pernyataan kontroversial. Menurutnya, karena ia merasa dobel minoritas yakni Kristen dan Tionghoa. Sementara cara warga Eropa perlakukan minoritas justru lebih Pancasilais. 

Ade Armando mengecam alasan Paul Zhang. Menurut Ade, bangsa Indonesia paham bahwa Kristen dan Tionghoa minorotas dan memang sering ditindas tetapi cara Paul Zhang justru akan menjadi alasan kaum radikal semakin menindas.

“Joseph Zhang tidak perlu dibela. Kita paham warga Kristen Tionghoa banyak ditindas di Indonesia. Tapi dengan meracau dan menghina Nabi Muhammad, Joseph Zhang justru memberi alasan bagi kaum radikal memperpanjang penindasan,” kata Ade Armando, Minggu 25 April 2021.

Ia juga mengunggah tautan video di Cokro TV yang secara khusus mengulas pendapatnya secara lebih detai. 

Menurut Ade Armando, Jozeph Paul Zhang tidak perlu diberi simpati. Ia percaya jika penghinaan terakhirnya pada Nabi Muhammad, Jozeph lakukan untuk tujuan sangat pragmatis.

“Apa itu? Simak selengkapnya di Logika Ade Armando hanya di Cokro TV,” tulis Channel tersebut.

Untuk diketahui, sebelumnya  Jozeph Paul Zhang terus ramai dibicarakan menyusul berbagai kontroversi bernuansa SARA yang melingkupinya. Mulai dari Jozeph yang mengaku sebagai Nabi ke-26 dan tak merasa bersalah karenanya, acapkali "menyerang" umat Muslim dan Nahdlatul Ulama, hingga menantang Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas berdebat.

Namun Jozeph tampaknya tetap tenang meski sederet aksinya yang dilabeli sebagai penistaan agama itu membuatnya diburu kepolisian. Bahkan belum lama ini Jozeph berkenan membagikan sejumlah pernyataan dalam wawancara eksklusifnya dengan Jawa Pos.

Wawancara dilakukan oleh wartawan Dinarsa Kurniawan yang berlokasi di Berlin, Jerman melalui Zoom. Wawancara itu pun turut disiarkan langsung di kanal YouTube Hagios Europe, tempat Jozeph selama ini mengunggah konten-kontennya.

"Saya nggak tahu apa yang saya rasakan. Saya jalani hidup seperti biasa," tutur Jozeph ketika ditanya soal perasaannya pasca menjadi buruan polisi. Wartawan Dinarsa pun lantas menanyakan, apa sebenarnya motif di balik "keberanian" pria bernama asli Shindy Paul Soerjomoeljono ini hingga melontarkan berbagai pernyataan kontroversial soal agama.

Disebutkan oleh Jozeph, semua ia lakukan demi menjamin hak beribadah bagi kaum minoritas. "Terutama dobel minoritas, (agar) bisa hidup layak dan beribadah tampa rasa takut. Hak dan kewajiban sejajar, setara," tegas Jozeph, dikutip dari Jawa Pos, Jumat (23/4).

Ia lantas membandingkan situasi di Indonesia dan Eropa, yang menurutnya tak pernah memperlakukan kelompok manapun sebagai minoritas. "Sama dengan di Eropa. Saya Tionghoa tidak dianggap minoritas, Muslim pun tidak dianggap minoritas. Bukankah itu Pancasila yang sejati?" tuturnya.

Bahkan ia blak-blakan menilai Eropa lebih Pancasilais ketimbang Indonesia sendiri. "Apa di Eropa dengar persekusi agama di sini?" tanya Jozeph, merujuk pada sila pertama Pancasila yakni Ketuhanan yang Maha Esa.

"Justru orang-orang yang dipersekusi agama larinya ke sini," ujar Jozeph. "Apa semua dilakukan dengan anarkistis? Tidak ada. Satu-dua oknum itu dikit sekali."

"Masjid Ahmadiyah gede tuh, sementara masjidnya orang Syiah juga gede, di Indonesia weh dibakar seorang-orangnya Pak. Itu fakta," imbuhnya. "Jadi, lebih Pancasila mana? Lebih Pancasila Eropa daripada Indonesia."

Sedangkan untuk tantangan debat, diakui Jozeph, sasaran utamanya memang Menag Yaqut. Selain itu ia juga berharap bisa berdebat tentang kebenaran agama secara universal dengan Ketua PBNU Emhas Robikin dan Ketua Majelis Ulama Indonesia Anwar Abbas.

"Yang lainnya, maaf, tidak akan berdampak dan tidak berguna," jelasnya. "Karena tidak merepresentasikan agama mayoritas di Indonesia."

Terkait dengan berbagai pernyataan kontroversialnya, Jozeph pun secara tersirat merasa tak bersalah walau mungkin dianggap menyakiti pihak lain. "Mengapa harus sakit hati? Kita itu boleh menyuarakan yang kita anggap benar," pungkasnya.

Reporter : Taat Ujianto
Editor : Taat Ujianto