Netral English Netral Mandarin
22:31wib
Ahli patologi klinis Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta Tonang Dwi Ardyanto menduga bahwa varian Omicron sudah masuk Indonesia. Sebanyak 10.000 buruh akan menggelar aksi unjuk rasa di tiga tempat, yakni Istana Kepresidenan, Mahkamah Konstitusi, dan Balai Kota DKI Jakarta, hari ini.
PDIP Butuh Pemimpin yang Pemberani, Tokoh Papua: Kasihan Ganjar Tak Dibela Petinggi Partainya

Minggu, 24-Oktober-2021 07:20

Anies Baswedan dan Ganjar Pranowo
Foto : Law Justice
Anies Baswedan dan Ganjar Pranowo
27

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Petinggi PDIP menyebut bahwa saat ini yang dibutuhkan adalah pemimpin pemberani dan bukan hanya sekadar ditentukan oleh survei. 

Tokoh asal Papua, Christ Wamea menanggapi bahwa Ganjar nasibnya menyedihkan. 

“Ganjar Menurut Hasto : Ganjar pemimpin yg ditentukan survei. Kasihan Ganjar tdk dibelain olh petinggi partainya," cuit Christ Wamea, Minggu 24 Oktober 2021.

Sebelumnya, dinukil Kompas.com, Sekretaris Jenderal (Sekjen) Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P) Hasto Kristiyanto mengatakan, pemimpin tidak hanya ditentukan dari elektabilitas versi survei, tapi juga harus jadi sosok yang berani dalam mengambil keputusan.

Hasto menegaskan, PDIP mencari sosok tersebut, yang berani mengambil tanggung jawab, meski harus menanggung beban berat.

“Kita mencari sosok pemimpin yang berani mengambil tanggung jawab, berani mengambil keputusan meski dia pahit,” terang Hasto di Kantor DPP PDI-P, Menteng, Jakarta Pusat, Sabtu (23/10/2021).

Lebih lanjut, ia menuturkan bahwa saat ini pihaknya tidak mencari sosok yang menyenangkan semua pihak. Tapi sosok yang bisa menyelesaikan berbagai tantangan di depan.

“Tantangan-tantangan internasional, ketegangan di Laut Tiongkok Selatan, krisis di Timur Tengah yang belum selesai, dan beban dari kebijakan fiskal kita terhadap utang akibat pandemi ini,” jelas Hasto.

Kata dia, hal-hal berat tersebut menjadi tanggung jawab bagi pemimpin yang akan datang. "Jadi pemimpin itu harus dipersiapkan dengan sebaik-baiknya,” ujarnya.

Baca Juga: PDIP Persilakan Kader Minggat jika Tak Sabar Tunggu Putusan Megawati Soal Capres

Hasto juga menegaskan, keputusan siapa calon presiden yang diusung di pemilu presiden (Pilpres) 2024, ada di tangan Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri.

Siapa pun kader yang tidak disiplin soal kebijakan PDIP terkait pilpres, dipersilakan keluar dari partai.

“Bagi mereka yang tidak memahami aspek strategis tentang pentingnya menyiapkan pemimpin bagi masa depan bangsa dan negara dan hanya mau bertindak sendiri tanpa disiplin, boleh saja kalau mau keluar dari partai,” katanya.

Hasto menekankan berdasarkan Kongres PDIP, keputusan kandidat Pilpres 2024 berada di tangan Megawati. Kader partai pun saat ini diminta fokus untuk menanggulangi pandemi Covid-19.

"Kami telah menegaskan bahwa berkaitan siapa capres dan cawapres berdasarkan Kongres V di Bali, Ibu Megawatilah yang akan mengambil keputusan," ujar Hasto.

Selaku Sekjen, Hasto menyadari ada sejumlah kader PDIP yang mendorong sosok untuk diajukan di Pilpres 2024, sebelum menunggu keputusan dari Megawati.

Salah satu pihak yang meneriakkan isu itu ialah Ketua DPC Solo FX Hadi Rudyatmo. Hasto menilai eks Wali Kota Solo itu seharusnya mengetahui aturan main yang berlaku di PDIP.

Baca Juga: Lagi, PDIP Desak Menteri Sofyan Djalil Mundur, Dianggap Membangkang Terlibat Mafia Tanah

Sementara itu, dikutip dari Kompas.id, elektabilitas Ganjar menyamai Prabowo dalam survei Pemilu 2024. Keduanya sama-sama memiliki tingkat elektabilitas sebesar 13,9 persen. Sedang Gubernur DKI Jakarta berada satu tingkat di bawahnya dengan elektabilitas sebesar 9,6 persen.

Peneliti Litbang Kompas, Bestian Nainggolan menerangkan, hasil elektabilitas Ganjar mengalami peningkatan signifikan jika dibandingkan dengan hasil survei April lalu.

Saat itu Ganjar hanya meraih elektabilitas sebesar 7,3 persen dan berada di bawah Prabowo dan Anies. Namun saat ini, elektabilitas Ganjar menyamai Prabowo dan justru unggul di atas Anies.

Adapun survei dilakukan Litbang Kompas pada 26 September hingga 9 Oktober 2021 dengan melibatkan 1.200 responden dari 34 provinsi melalui metode wawancara tatap muka.

Reporter : Taat Ujianto
Editor : Sesmawati

Berita Terkait

Berita Rekomendasi