Netral English Netral Mandarin
05:14wib
Menteri Koordinator bidang Kemaritiman Luhut Binsar Panjaitan memprediksi, puncak gelombang Covid-19 varian Omicron akan terjadi pada pertengahan Februari hingga awal Maret 202. Pemerintah mengakui kasus Covid-19 di Indonesia terus mengalami lonjakan akibat transmisi lokal varian Omicron dalam sepekan terakhir.
Pembodohan Diawali dengan Memutarbalikan Logika

Jumat, 14-January-2022 20:33

Dedi Mahardi,  Author dan Inspirator
Foto : Istimewa
Dedi Mahardi, Author dan Inspirator
1

“Jangan putar balikan logika hanya karena suka tidak suka, karena bisa merusak logika selamanya, sedangkan suka tidak suka bisa jadi sementara saja"~dm

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Teknologi digital bukan lagi hanya sekedar gaya hidup tetapi sudah menjadi kebutuhan hidup semua manusia di muka bumi ini, kecuali sekelompok suku yang masih hidup di hutan. 

Tren atau gejalanya menunjukan bahwa teknologi digital tersebut terus berkembang pesat dan akan terus berkembang, bahkan hampir semua kegiatan manusia menggunakan teknologi digital. 

Tetapi, mungkin tidak banyak orang yang tahu bahwa teknik digital tersebut dimulai dengan teori dasarnya logik satu atau nol serta logik satu dan nol. 

Artinya dalam teori digital tersebut kalau tidak 0 ya 1, lalu jika 0 digabungkan dengan 1 atau dengan gerbang AND maka jadinya 0 tetapi jika disuruh pilih 0 atau 1 atau gerbang OR maka hasilnya 1 (seperti gambar di bawah). 

 

Logik 0 1 tersebut dapat juga diterjemahkan atau dibuatkan perangkat simulasi dengan rangkaian eletro lampu listrik sehingga menjadi on off atau hidup mati atau salah benar atau buka tutup dan lain sebagainya.  

Tidak benar digabungkan dengan benar hasilnya tidak benar, tetapi 0 or 1 hasilnya 1 artinya benar dan tidak benar disuruh pilih karena kata or atau itu pilih salah satu maka hasilnya 1 yaitu kebenaran yang menang.

Begitu jugalah halnya pemikiran seorang anak manusia yang ingin maju dan bisa memenangkan kompetisi hidup di atas muka bumi ini yang minimal memiliki kecerdasan membedakan 1 atau 0, baik atau buruk, salah atau benar, dan seterusnya. 

Oleh karena itu, sistem ujian pilihan salah benar adalah yang terendah level dan porsinya dibandingkan multiple choice atau pilihan ganda dan yang paling tinggi adalah menyelesaikan soal atau menjawab pertanyaan. 

Begitu juga dengan tanda-tanda seorang anak dikatakan sudah akil balig atau berakal lalu sudah diwajibkan beribadah yaitu ketika sudah bisa membedakan salah benar dan baik buruk. 

Namun, sekarang banyak terjadi pemutarbalikan logika yang salah dianggap atau dipresepsikan benar dan yang benar disalahkan karena alasan suka tidak suka atau berbeda kelompok dukungan atau pandangan. 

Orang baik banyak dihina dan dicela sementara yang berkoar-koar menghina dan mencela serta berkata-kata kasar tidak beradab malah dipuja oleh sebagian orang. 

Mereka yang berkendaraan melawan arus malah merasa benar tidak mau disalahkan bahkan berani menantang polisi yang menegur mereka atau menantang orang yang berkendaraan sesuai jalurnya. 

Khususnya media sosial di negeri ini, sepertinya dikuasi oleh kelompok yang suka memutarbalikan logika dan membangun narasi sesat dengan bungkus agama serta iming-iming surga atau bidadari atau ancaman neraka. 

Ada kelompok tertentu yang sepertinya tidak punya kemampuan untuk bersaing dan berkompetisi dengan menjual konsep dan prestasi atau karya berguna tetapi bernafsu untuk memenangkan kompetisi. 

Pemutarbalikan logika dan penyesatan nalar ini terus menerus diviralkan di media sosial dengan menggunakan akun-akun robot sehingga mampu menguasai ruang media sosial. 

Akun-akun robot tersebut dengan mudah dikenali karena tidak menggunakan identitas resmi dan baru-baru saja dibuat serta tidak punya atau tidak banyak pengikut atau followernya. 

Sehingga hal-hal yang tidak masuk akal atau tidak wajar malah cepat sekali viralnya, sementara konten-konten yang mendidik atau mengandung ilmu pengetahuan lebih sulit viralnya. 

Kondisi ini tambah diperparah oleh rendahnya minat baca buku masyarakat, sehingga acuan benar-salah mereka bukan lagi buku atau ilmu pengetahuan atau kitab suci. 

Pada sisi yang lain, ada juga media masa yang ikut-ikutan memuat berita tanpa klarifikasi dan asal viral atau trending demi untuk mengejar rating. 

Beberapa media yang sebelum reformasi sangat terpercaya dan menjadi bacaan banyak tokoh bangsa, sekarang juga sering ikut-ikutan memuat berita atau tulisan asal viral tersebut. 

Kecuali satu dua media yang tetap berintegritas dan tidak terpengaruh oleh tren kesukaan pembaca karena lebih mengutamakan faktor mencerdaskan pembaca dan aktual serta faktual. 

Sebagian media besar juga lebih sering memuat berita atau siaran yang sesuai dengan kepentingan pemiliknya, seperti berita politik atau kegiatan pemilik medianya. 

Pesan dari Ibnu Rusyd, “Jika ingin menguasai orang bodoh, bungkus yang batil atau buruk/salah dengan agama.” 

Ibnu Rusyd adalah cendikiawan Muslim dan filsuf yang memiliki berbagai keahlian yang disegani oleh kalangan praktisi hukum. 

Dan hal yang disampaikan oleh Ibnu Rusyd itu terbukti terjadi di beberapa negara belahan Arab sana yang sedang porak poranda dilanda kerusuhan dan perang saudara. 

Cara licik tersebut telah sukses menggerakan rakyat yang bodoh untuk melawan pemerintah yang sah dan mengubah kehidupan yang aman nyaman dengan membuat kerusuhan dan penjarahan. 

Kejadiannya seperti yang kita lihat atau baca diberita bagaimana rusak dan hancurnya beberapa negara Arab seperti Libya, Yaman, dan Suriah yang sebelumnya aman dan tentram. 

Kesuksesan oleh kelompok perusak dan perusuh di beberapa negara Arab tersebut sekarang sepertinya sedang dicoba praktekan pula di negeri ini, dimulai dengan memutarkanbalikan fakta dan logika serta memuja keturunan tertentu walaupun mereka tidak berakhlak dan tidak beradab. 

Menurut kami, salah-benar itu adalah mandatori atau dasar dari logika yang harus dimiliki oleh setiap orang yang normal atau waras, sedangkan tertingginya adalah mampu mengwujudkan ide dan gagasan menjadi sebuah benda atau sistim yang berguna. 

Seperti hal Albert Einstein dengan rumus-rumus dan teorinya serta Thomas Alfa Edison dengan temuan bola lampu listriknya atau Bill Gate dengan temuan perangkat lunak Komputer yaitu Microsoft.

Sehingga tingkat logika tersebut adalah sebagai berikut :

1. Mampu bedakan salah-benar.

2. Mampu bedakan baik-buruk.

3. Mampu temu kenali kelebihan dan kekurangan sebuah mesin atau sistem.

4. Mampu menjabarkan salah-benar.

5. Mampu menganalisa sebab kekurangan atau kelebihan sebuah sistem atau mesin.

6. Mampu menyimpulan apa yang terjadi sebenarnya.

7. Mampu mencari solusi atau sebuah kekurangan sistem.

8. Mampu menyusun konsep dan rencana solusi.

9. Mampu menjelaskan konsep dan rencana. 

10. Mampu mengeksekusi konsep dan ide atau wacana.

“Jangan putar balikan logika hanya karena suka tidak suka, karena bisa merusak logika selamanya sedangkan suka tidak suka bisa jadi sementara saja" (DM).

Demikian, tulisan ini dibuat untuk sekedar memberi bayangan kebenaran di tengah maraknya penyesatan pola pikir dan pola tindak masyarakat negeri ini.

Jakarta, 10 Januari 2022

Penulis: Dedi Mahardi

 Author dan Inspirator

Reporter :
Editor : Taat Ujianto

Berita Terkait

Berita Rekomendasi