Netral English Netral Mandarin
04:53wib
Presiden Joko Widodo mengatakan, kondisi dunia saat ini penuh dengan ketidakpastian dan persoalan yang lebih kompleks dibandingkan sebelumnya. Sistem perawatan kesehatan Singapura terancam kewalahan menghadapi lonjakan covid-19.
Penggagas Gerakan Nasional Superiman Ingin Jokowi Terbitkan Perppu

Minggu, 08-Agustus-2021 09:00

Lieus Sungkarisma
Foto : Istimewa
Lieus Sungkarisma
22

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Para penggagas Gerakan Nasional Solidaritas Umat Peduli Modal Nasional (Superiman) berencana menemui Wapres Ma’ruf Amin agar mendorong Presiden Jokowi menerbitkan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-undang (Perppu) tentang gerakan tersebut.

"Dalam waktu dekat kita sudah bikin surat kepada Wakil Presiden yang sekarang, Bapak KH Ma’ruf Amin. Saat ketemu, kita akan dorong Pak Wapres untuk meneruskan program (Superiman) ini. Bahkan kita akan minta Pak Wapres lapor ke Presiden Jokowi agar Presiden keluarkan Perppu, sehingga program ini ada payung hukum,” kata Lieus Sungkharisma, salah satu penggagas Gerakan Nasional Superiman dalam video yang diunggah ke akun YouTube Lieus Sungkharisma, Sabtu (7/8/2021).

Lieus menjelaskan, ia dan Bambang Sungkono, juga penggagas Gerakan Nasional Superiman, akan menemui Wapres, karena meski saat gerakan ini dilaunching di kantor Wapres pada 19 Agustus 2003, namun gerakan ini bukan milik Hamzah Haz yang kala itu menjabat sebagai Wapres, tapi milik bangsa Indonesia.

Gerakan ini, jelas Lieus, digagas oleh tiga orang, yakni dirinya, Bambang Sungkono, dan Yusuf Siregar dengan tujuan untuk membantu pemerintah Indonesia ketika membutuhkan dana segar, sehingga tak perlu meminjam dari negara lain.

Melalui gerakan ini, para penggagas membuka rekening bernomor 17081945 di Bank Rakyat Indonesia (BRI), yang berfungsi sebagai penampung sumbangan dari masyarakat Indonesia.

Dana yang masuk ke rekening itu, kata Lieus, menjadi dana abadi yang dapat dimanfaatkan pemerintah kapan pun membutuhkan uang.

Lieus maupun Bambang Sungkono yang juga ada dalam video itu, menjelaskan, Gerakan Nasional Superiman digagas karena merasa tersinggung oleh sikap IMF (International Moneter Fund) yang arogan ketika pemerintah meminjam uang sebesar Rp34 miliar pada tahun 1997.

"Ketika itu kita mesti bertekuk lutut sama dia," kata Bambang.

Karena ketersinggungan itu, para penggagas Gerakan Nasional Superiman lalu menemui Wapres Hamzah Haz pada 2003, dan menanyakan berapa jumlah orang kaya di Indonesia? Apakah mencapai 10.000 orang? Dan Hamzah Haz mengatakan lebih.

Para penggagas Gerakan Nasional Superiman kemudian berhitung, jika satu orang kaya menyumbang Rp100 juta, maka dari 10.000 orang kaya saja akan terkumpul Rp100 triliun.

Meski demikian Bambang juga mengatakan, tak hanya orang kaya yang dapat menyumbang, karena siapapun bangsa Indonesia yang cinta NKRI, dapat menyumbang ke rekening itu seikhlasnya.

Bambang mengatakan, ia terlibat dalam gerakan ini karena uang yang ia dapat juga bersumber dari orang yang tak mampu yang bekerja kepadanya, sehingga dengan adanya dana abadi, pemerintah dapat menyejahterakan rakyat dan memajukan negara tanpa berutang ke negara lain.

Saat Gerakan Nasional Superiman dilaunching, Bambang mengaku tidak hadir karena sedang menemani Abdurahman ‘Gus Dur” Wahid ke Korea Selatan, namun ia menyumbang Rp100 juta. Begitupula Lieus dan Yusuf Siregar.

Lieus sebelumnya mengatakan, gerakan ini kemudian mangkrak karena dihajar berbagai isu berbau politik, yang membuat masyarakat enggan berpartisipasi.

Reporter : Wahyu Praditya P
Editor : Sulha Handayani