Netral English Netral Mandarin
18:02wib
Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) Antonio Guterres memperingatkan dunia berada di jalur bencana lantaran pemanasan global yang terus berlangsung. Uji kepatutan dan kelayakan (fit and proper test) terhadap 11 calon hakim agung usulan Komisi Yudisial (KY) di Komisi III DPR akan digelar pada pekan depan.
Pengkhianat RI Jelang HUT RI, Denny: Jangan Ditangkap, Hanya Tersesat, Karantina Saja Kaya Kena Covid lalu Brainwashing

Minggu, 15-Agustus-2021 10:00

Denny Siregar
Foto : Kolase Netralnews
Denny Siregar
28

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Heboh pengibaran bedera Palestina menjelang HUT RI membuat gerah Denny Siregar. Secara khusus, ia membuat catatan dan pandangan bagaimana menyikapi mereka yang ia nilai telah berkhianat terhadap RI. 

Denny mengusulkan agar mereka tidak ditangkap tapi diperlakukan seperti penderita Covid, lalu dikarantina dan diberikan penyadaran dengan kerjasama pihak NU atau Muhammadiyah.

“Jangan polisi yang melakukan itu, tapi berikan tugas brainwashing ke ormas agama yang nasionalis seperti NU dan Muhammadiyah, karena mereka lebih mengerti bahasa agama,” kata Denny, Minggu 15 Agustus 2021.

Berikut catatan lengkap Denny Siregar:

PARA PENGKHIANAT NEGARA

Saya sih gak heran ketika ada beberapa orang yang mengibarkan bendera negara lain, justru disaat Indonesia sedang merayakan hari kemerdekaannya.

Itu sama dengan kebanggaan mereka ketika mengibarkan bendera hitam, bahkan bendera ISIS, ketika sedang pawai ataupun demo.

Ada bayangan di benak beberapa orang ini, bahwa negara agama lebih sempurna daripada negara kesatuan seperti Republik Indonesia ini. 

Palestina, ISIS, bendera hitam, baliho Riziek, adalah simbol-simbol yang lebih melekat di hati dan benak mereka daripada warna merah putih.

Apakah orang-orang seperti ini harus ditangkap? 

Buat saya jangan, karena mereka sebenarnya bukan kriminal, hanya tersesat. Beda misalnya ketika mereka bawa bendera hitam terus menggorok orang, nah itu baru kriminal. 

Lagian polisi di bawah Jenderal Listyo Sigit lebih mengedepankan model persuasi daripada main tangkap. 

Tapi membiarkan mereka juga membuat masalah baru. Karena bisa saja orang disekitar mereka terganggu dan malah melakukan perbuatan kekerasan karena tidak setuju. 

Cara paling baik buat orang yang lebih cinta negara orang lain, simbol orang lain, itu adalah mirip dengan cara memperlakukan orang yang kena Covid. Karantina. Isolasi. Bawa ke asrama dan paksa menginap selama minimal 2 minggu misalnya. 

Jangan polisi yang melakukan itu, tapi berikan tugas brainwashing ke ormas agama yang nasionalis seperti NU dan Muhammadiyah, karena mereka lebih mengerti bahasa agama.

Di asrama bisa dideteksi, seberapa akut dia. Lalu berikan cara-cara brainwashing sesuai level keakutannya. Ini adalah bagian dari deradikalisasi. Karena tanpa proses ini, wabah ideologi yang rusak seperti mereka bisa menyerang keluarga dan tetangganya juga.

Polisi, TNI, BNPT, BIN dan badan-badan negara yang memerangi terorisme sudah harus mendeteksi masalah ini sejak awal. Kalau dibiarkan, dan dilepas hanya dgn meterai, orang2 seperti ini hanya menyimpan bara dalam sekam. 

Ketika saatnya tiba, merekalah yang akan maju paling depan memerangi negara. Jangan nanti sudah akut, gak bisa disembuhkan, dan sudah mulai melukai orang, baru bergerak untuk menangkap. 

Kalau di negara seperti Singapura misalnya, orang seperti ini pasti tidak akan bertahan lama. Karena pemerintah Singapura tegas dengan melabeli mereka teroris, untuk sementara. Nanti sesudah selesai di brainwash, dikembalikan lagi ke masyarakat dengan pengawasan penuh tentunya. 

Tapi beda negara beda penangangan. Singapura bisa begitu karena dalam masalah ini, mereka tidak ada demokrasi. Indonesia ini liberal banget dalam masalah mabuk agama seperti ini.Dalam situasi seperti ini, negara harus berfikiran seperti dokter. 

Cegah sebelum gerakan mereka membesar. Lebih baik mencegah daripada mengobati, kan

Seruput kopi pagi2 segar rasanya... 

Denny Siregar

Reporter : Taat Ujianto
Editor : Nazaruli