Netral English Netral Mandarin
22:39wib
LSI Denny JA menilai, PDI Perjuangan berpotensi akan mengalami kekalahan jika mengusung Ketua DPR Puan Maharani sebagai calon presiden pada Pemilihan Presiden 2024 mendatang. Profesi Perhimpunan Ahli Epidemiologi Indonesia menegaskan fasilitas kesehatan di Indonesia bisa tumbang dalam 2-4 minggu jika pengendalian pandemi tidak diperketat.
Penjelasan BMKG Soal Dentuman dan Gemuruh Misterius di Sukabumi

Minggu, 31-January-2021 11:25

Kepala Bidang Mitigasi Gempa Bumi dan Tsunami BMKG Daryono
Foto : Istimewa
Kepala Bidang Mitigasi Gempa Bumi dan Tsunami BMKG Daryono
29

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Kepala Bidang Mitigasi Gempa Bumi dan Tsunami BMKG Daryono memberikan penjelasan soal munculnya suara gemuruh misterius di Sukabumi. Dia mengaku, sensor gempa BMKG merekam anomali seismik saat muncul suara gemuruh di Sukabumi.

Untuk diketahui, warga Kampung Ciherang, Desa Cijangkar, Kecamatan Nyalindung, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, berlarian keluar rumah setelah mendengar suara dentuman disertai gemuruh, Sabtu (30/1/2021) malam sekitar pukul 19.00 WIB. Warga merasakan dua kali getaran sebelum muncul suara gemuruh dan dentuman. 

"Hasil monitoring BMKG terhadap beberapa sensor seismik di wilayah Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat menunjukkan adanya anomali gelombang seismik saat warga melaporkan suara gemuruh yang disertai bunyi dentuman," kata Daryono, seperti dikutip dari unggahannya, Minggu (31/1/2021).

Kata Daryono, tampak sangat jelas adanya rekaman seismik yang terjadi pada pukul 19.00.36 WIB hingga 19.00.43 WIB. Lama durasi rekaman seismik berlangsung cukup singkat hanya selama 7 detik. 

Anomali seismik ini tampak sebagai gelombang frekuensi rendah (low frekuensi). Sepintas bentuk gelombangnya (waveform) seismiknya mirip rekaman longsoran atau gerakan tanah.

"Fenomena alam gerakan tanah memang lazim menimbulkan suara gemuruh bahkan dentuman yang dapat didengar warga di sekitarnya," kata Daryono.

Menurut laporan warga, getaran itu muncul setelah hujan deras mengguyur, jadi dugaan kuat yang terjadi adalah adanya proses gerakan tanah yang cukup kuat hingga terekam di sensor gempa milik BMKG. 

"Untuk verifikasi, tampaknya perlu dilakukan survei lapangan di wilayah dimana terdengar suara gemuruh untuk mencari apakah ada rekahan di permukaan akibat gerakan tanah tersebut. Jika tidak ditemukan maka besar kemungkinan proses gerakan tanah terjadi di bawah permukaan tanah," jelas dia.

Reporter : Martina Rosa Dwi Lestari
Editor : Sesmawati