Netral English Netral Mandarin
22:17wib
Sekretaris Jenderal Majelis Pimpinan Nasional Pemuda Pancasila (PP) Arif Rahman mengatakan pihaknya tidak pernah didatangi oleh Kapolda atau Kapolres yang baru dilantik di daerah. Baca artikel CNN In Gubernur dan Wakil Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan-Ahmad Riza Patria memastikan tidak akan menghadiri kegiatan Reuni 212.
Penumpang Pesawat Wajib PCR pun Ditolak Keras Jokower, Ade: Siapa Diuntungkan Kebijakan Aneh Ini?

Kamis, 28-Oktober-2021 08:35

Ilustrasi PCR
Foto : Panji Nasional
Ilustrasi PCR
18

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Dosen UI Ade Armando menyatakan syarat PCR dalam penerbangan pun ditolek oleh para pendukung Presiden Joko Widodo. Pertanyaannya, siapa yang diuntungkan kebijakan aneh ini?

“Kewajiban test PCR bagi penumpang pesawat terbang memang layak ditolak. Para Jokowers pun menolaknya. Pertanyaannya: siapa yang diuntungkan oleh kebijakan aneh ini?” kata Ade Armando, Kamis 28 Oktober 2021.

Sebelumnya dilansir Suara.com, saat ini, importir dari dua alat tersebut didominasi dari perserorangan atau korporasi non-pemerintah. Dikutip dari Solopos.com --jaringan Suara.com, 77,16 persen impor kebutuhan penanganan pandemi dipegang korporasi non-pemerintah.

Sedangkan pemerintah hanya kebagian 6,67 persen dari keseluruhan aktivitas impor kebutuhan penanganan pandemi COVID-19 dan 6,18 persen pengadaan barang dari luar negeri dilakukan oleh lembaga non-profit.

Baca Juga:Naik Pesawat Wajib PCR, Sekarpura 11 Sampaikan Keberatan Mewakili Penumpang

Uniknya, pihak yang memiliki andil besar dalam impor itu ternyata tidak semuanya memiliki bisnis di bidang kesehatan.

Masih bersumber yang sama, dokumen terkait menyebut, beberapa perusahaan bahkan bergerak di bidang kecantikan, tekstil hingga ketel uap.

Berikut 7 importir tersebsar alat kesehatan, salah satunya seperti PCR dan Rapid Test hingga akhir Juli 2021 lalu:

1. Badan Nasional Penanggulangan Bencana atau BNPB sebesar US$68,6 juta atau 6,29 persen

2. PT Jenny Cosmetics dengan nilai impor sebesar US$43,6 juta atau 4 persen

3. Kelompok usaha Dexa Group PT. Beta Pharmacon sebesar US$36,4 juta atau 3,34 persen. Kelompok usaha Dexa Group khusus melakukan importasi obat terapi Covid-19, tak terkait importasi rapid test maupun PCR.

4. Perusahaan teknologi medis asal Jerman Dräger Medical Indonesia sebesar US$21,5 juta atau 1,98 persen

5. Yayasan Buddha Tzu Chi Indonesia dengan nilai US$21,07 juta atau 1,93 persen

6. Perusahaan tekstil multi nasional PT Pan Brothers US$21,07 juta atau 1,93 persen

7. Perusahaan ketel uap PT Trimitra Wisesa Abadi sebesar US$20,8 juta atau 1,91 persen

Selain tujuh perusahaan itu, ada pula sejumlah pihak yang turut impor alat kesehatan seperti PT Sinergi Utama Sejahtera, Cahaya Medical Indonesia hingga Pusat Keuangan Kementerian Pertahanan.

Reporter : Taat Ujianto
Editor : Sesmawati

Berita Terkait

Berita Rekomendasi