Netral English Netral Mandarin
00:00wib
BMKG menyatakan gempa yang terus berlangsung di wilayah Ambarawa Kabupaten Semarang dan Kota Salatiga merupakan jenis gempa swarm dan perlu diwaspadai. Sejumlah calon penumpang pesawat di Bandara Soekarno-Hatta, Kota Tangerang, mengeluhkan soal aplikasi PeduliLindungi serta harga tes PCR yang dinilai mahal.
Penyerangan ke Ahmadiyah Kejam Persis ISIS di Suriah, DS: Jangan Ustadkan Pelaku-Pelaku Kriminal, Setuju?

Selasa, 07-September-2021 06:35

Ilustrasi Perusakan Masjid di Sintang
Foto : Twitter/Denny Siregar
Ilustrasi Perusakan Masjid di Sintang
38

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Denny Siregar mengulas panjang lebar tentang provokator dalam kasus pengrusakan masjid Ahmadiyah di Sintang, Kalbar. 

“Pembakaran itu mengingatkan saya dengan kejadian yang mirip, tahun 2011 di Cikeusik Banten. Hanya di Banten itu, ada 3 jiwa melayang dari warga Ahmadiyah. Mereka diseret keluar dari rumahnya, dipukuli dgn batu kepala mereka sampai pecah, divideokan dan disebarkan ke media sosial. Kejam. Persis ISIS di Suriah. Dan mirisnya lagi, pelakunya hanya kena hukuman beberapa bulan saja,” kata Denny Siregar.

“Salah satu provokator diketahui bernama Dede al Sintangi. Si jenggot panjang berdaster merah itu dikenal memang sebagai provokator di daerah itu. Dia juga sempat bermasalah dengan kaum adat dayak disana. Dede sekarang dikejar polisi dan dicari sampai dapat,” tuding Denny Siregar, Senin malam, 6 September 2021.

“Jangan ustadkan pelaku-pelaku kriminal. Setuju ? Sampaikan pesan ini kepada semua provokator radikal berbaju agama dimana saja,” pesan Denny.

Berikut catatan lengkap Denny Siregar:

KEJAR PROVOKATOR PEMBAKARAN MASJID AHMADIYAH!

Jujur, saya geram sekali melihat pembakaran rumah ibadah warga Ahmadiyah di Sintang, Kalimantan Barat itu.

Pembakaran itu mengingatkan saya dengan kejadian yang mirip, tahun 2011 di Cikeusik Banten. Hanya di Banten itu, ada 3 jiwa melayang dari warga Ahmadiyah. Mereka diseret keluar dari rumahnya, dipukuli dgn batu kepala mereka sampai pecah, divideokan dan disebarkan ke media sosial. 

Kejam. Persis ISIS di Suriah. Dan mirisnya lagi, pelakunya hanya kena hukuman beberapa bulan saja.

Pembakaran rumah ibadah di Sintang itu alarm buat kita semua, bahwa model kekerasan seperti itu ternyata masih dipelihara sampai sekarang. Masih untung polisi dan TNI cepat sampai ditempat, kalau tidak, entah apa yang terjadi pada warga Ahmadiyah disana. Mungkin nasibnya bisa sama dgn saudara mereka di Banten.

Polisi memang tidak bisa menindak para pelaku di tempat, karena massa yang besar berjumlah ratusan orang. Yang bisa dilakukan hanya mencegah dan membuat adem suasana, baru kalau udah sepi "diculik" satu persatu pelakunya.

Salah satu provokator diketahui bernama Dede al Sintangi. Si jenggot panjang berdaster merah itu dikenal memang sebagai provokator di daerah itu. Dia juga sempat bermasalah dengan kaum adat dayak disana. Dede sekarang dikejar polisi dan dicari sampai dapat.

Sudah saatnya polisi memperlakukan provokator kelompok radikal itu seperti teroris. Tangkap dan pamerkan mereka di konferensi pers. Biar orang tahu. Biar ada efek jera. Kalau dibiarkan, orang-orang jenggot panjang seperti ini bisa merasa kalau mereka dilindungi aparat. 

Radikalisme itu tidak bisa dibiarkan, ditoleransi apalagi dilindungi. Kasihan masyarakat awam yang tidak mengerti apa-apa. Provokatornya harus dikandangkan. Perbedaan dalam keyakinan itu selalu ada. Tapi kalau perbedaan itu jadi alasan untuk merusak, maka itu sudah masuk wilayah kriminal.

Jangan ustadkan pelaku-pelaku kriminal. Setuju ? Sampaikan pesan ini kepada semua provokator radikal berbaju agama dimana saja. 

Saatnya kita lawan mereka.

Seruput kopinya 

Polisi Tangkap Sejumlah Pelaku

Sementara sebelumnya, polisi telah menetapkan sembilan orang sebagai tersangka dalam kasus penyerangan masjid milik jemaat Ahmadiyah di Kabupaten Sintang, Kalimantan Barat.

Pada Minggu (5/9) lalu, sepuluh terduga pelaku ditangkap di Sintang. Sembilan di antaranya kini ditetapkan sebagai tersangka.

"Sudah ada sembilan yang ditetapkan sebagai tersangka," kata Kabid Humas Polda Kalbar, Kombes Donny Charles Go seperti dilansir CNN Indonesia, Senin (6/9).

Donny menyampaikan kesembilan tersangka itu saat ini menjalani penahanan. Dalam kasus ini, para tersangka dijerat dengan Pasal 170 KUHP.

"(Dijerat) Pasal 170 KUHP tentang perusakan barang secara bersama," ucap Donny.

Di sisi lain, Donny tak menutup kemungkinan ada pelaku lain dalam kasus ini. Penyidik, lanjutnya, masih menyelidiki kasus tersebut. "Masih berproses," ujarnya.

Sebelumnya, sejumlah massa menghancurkan masjid Miftahul Huda milik jemaat Ahmadiyah di Desa Balai Harapan, Sintang, pada Jumat (3/9) siang usai salat berjemaah.

Sekretaris Pers dan Juru Bicara Jemaat Ahmadiyah Indonesia, Yendra Budiana mengatakan sebelum kejadian ada orang yang memprovokasi warga untuk merobohkan masjid Ahmadiyah. Provokasi itu disampaikan lewat khotbah Jumat di Masjid Al-Mujahidin.

Lalu, setelah salat jumat, apel digelar di depan masjid. Massa kemudian meneriakkan takbir dan bergerak menuju masjid Ahmadiyah.

Massa sempat diadang aparat, namun akhirnya tak ada pencegahan. Massa pun lantas membakar bangunan yang berdiri di samping masjid.

Massa juga berupaya membakar masjid namun tak berhasil. Mereka akhirnya melakukan aksi perusakan.

"Saat api berkobar massa menyampaikan ancaman bahwa jika dalam 30 hari (tiga puluh hari) masjid tidak diratakan oleh pemerintah, maka mereka akan kembali lagi untuk meratakan bangunan masjid Miftahul Huda," kata Yendra dalam keterangan tertulis.

Komnas HAM menyebut perusakan masjid Ahmadiyah terjadi karena ketidaktegasan aparat dan pemerintah daerah setempat.

Komnas HAM bersama pihak lain telah berupaya mencegah eskalasi dan mencoba menengahi konflik ini. Namun, upaya mediasi itu kandas.

"Tetapi ternyata diabaikan karena ketidaktegasan Pemerintah Kabupaten Sintang dan aparat hukum terkait," ujar Komisioner Komnas HAM Beka Ulung Hapsara dalam keterangan resminya, Jumat (3/9).

PBNU dan PP Muhammadiyah mendesak aparat keamanan menindak tegas pihak yang telah merusak masjid dan membakar bangunan milik jemaat Ahmadiyah di Sintang.

Reporter : Taat Ujianto
Editor : Sulha Handayani