Netral English Netral Mandarin
12:36wib
Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menyampaikan informasi tentang peringatan dini cuaca ekstrem di sejumlah wilayah Indonesia untuk Minggu 1 Agustus 2021. Seluruh gerai Giant di Indonesia resmi tidak lagi beroperasi di Indonesia mulai hari ini, Minggu (1/8/2021).
Penyingkiran Novel dkk dari KPK, Mustofa: Isu Taliban Diprogram Serius, Netizen: Setelah Termakan Isu akhirnya Kaget

Rabu, 16-Juni-2021 10:23

Mustofa Nahrawardaya
Foto : Twitter/Mustofa Nahrawardaya
Mustofa Nahrawardaya
5

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Politikus Mustofa Nahrawadaya mengungkit persoalan Novel Baswedan dkk yang tersingkir dari KPK. 

Menurutnya, penyingkiran dilakukan memang sudah diprogram serius dengan isu Taliban.

“Kalau melihat urutan 'pembuangan' Novel dkk dari ruangannya, saya menduga isu Taliban memang sengaja diprogram serius. Kirain itu dulu hanya perbuatan iseng medsos,” kata Mustofa, Rabu 16 Juni 2021.

Seorang netizen mengomentari.

Hans @burhansyaf: “Setelah semua termakan dg isu taliban, barulah dilakukan pembuangan. Akhirnya pada kaget.”

Untuk diketahui, Penyidik senior Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Novel Baswedan menyebut Tes Wawasan Kebangsaan (TWK) adalah alat untuk menyingkirkan 51 pegawai lembaga antirasuah tersebut.

Bahkan menurut Novel, 51 orang pegawai ini sudah ditarget sebelumnya untuk bisa diberhentikan dari KPK.

"Dengan adanya perubahan dari 75 menjadi 51, jelas menggambarkan bahwa TWK benar hanya sebagai alat untuk penyingkiran pegawai KPK tertentu yang telah ditarget sebelumnya," kata Novel lewat keterangan tertulis, Rabu (26/5/2021).

Diketahui terdapat 75 pegawai KPK yang tak lolos asesmen TWK sebagai syarat alih status jadi Aparatur Sipil Negara (ASN).

Dari 75 pegawai tersebut, berdasarkan rapat yang digelar pimpinan KPK bersama Badan Kepegawaian Negara (BKN) dan Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (Kemenpan RB), diputuskan hanya 24 orang saja yang masih bisa dibina dengan pendidikan kedinasan.

Sementara 51 sisanya tidak bisa lagi bekerja di KPK, dan akan mengakhiri masa tugasnya pada awal November 2021 mendatang.

Pimpinan KPK memang tidak secara langsung menyebut akan memecat atau memberhentikan 51 pegawai tersebut.

Namun, pimpinan KPK menyebut 51 pegawai itu sudah tidak bisa bergabung di KPK dan masa kerja tersebut.

"Terkait pengumuman Pimpinan KPK yang disampaikan oleh AM (Alexander Marwata) menggambarkan sikap oknum pimpinan KPK yang akan memaksakan agar terjadi pemecatan terhadap 75 pegawai KPK, baik langsung maupun tidak langsung," kata Novel.

Pria yang pernah menjadi korban penyiraman air keras ini menilai hal ini telah memperlihatkan dengan jelas bahwa ada agenda dari oknum pimpinan KPK untuk menyingkirkan pegawai yang bekerja baik.

Kata dia, oknum pimpinan KPK itu tetap melakukan rencana awal untuk menyingkirkan pegawai KPK menggunakan alat TWK, sekalipun bertentangan dengan norma hukum dan arahan Presiden Joko Widodo (Jokowi).

Novel merasa upaya pelemahan KPK dengan segala cara seperti ini bukan hal yang baru, dan penyingkiran pegawai KPK yang ditarget bisa jadi merupakan tahap akhir untuk mematikan perjuangan pemberantasan korupsi.

"Saya yakin kawan-kawan akan tetap semangat, karena memang tidak semua perjuangan akan membuahkan hasil," ujarnya.

"Tetapi kami ingin memastikan bahwa perjuangan memberantas korupsi yang merupakan harapan masyarakat Indonesia ini harus dilakukan hingga akhir, sehingga bilapun tidak berhasil maka kami akan dengan tegak mengatakan bahwa kami telah berupaya dengan sungguh-sungguh, hingga batas akhir yang bisa diperjuangkan," tukas Novel

Reporter : Taat Ujianto
Editor : Sesmawati