Netral English Netral Mandarin
06:45wib
Menko Marves Luhut Binsar Panjaitan melaporkan Haris Azhar dan Koordinator KontraS Fatia Maulidiyanti ke Polda Metro Jaya dengan tuduhan pencemaran nama baik. Bupati Kolaka Timur (Koltim) Andi Merya terjaring operasi tangkap tangan (OTT) KPK.
Peringatan HAN 2021, Ketua DPD Ingatkan Potensi Stunting di Tengah Pandemi

Sabtu, 24-Juli-2021 02:15

Ketua Dewan Perwakilan Daerah (DPD) La Nyalla Mahmud Mattalitt
Foto : Istimewa
Ketua Dewan Perwakilan Daerah (DPD) La Nyalla Mahmud Mattalitt
6

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Ketua Dewan Perwakilan Daerah (DPD) La Nyalla Mahmud Mattalitti mengingatkan semua pihak soal potensi stunting pada anak di tengah pandemi Covid-19.

Hal tersebut disampaikan La Nyalla berkenaan dengan Peringatan Hari Anak Nasional (HAN) pada Jumat (23/7/2021).

“Pandemi membuat banyak aspek menjadi lebih sulit. Bukan hanya  berdampak kesehatan secara umum dan ekonomi, namun berpengaruh juga pada risiko stunting. Sebelum pandemi, angka anak stunting di Indonesia sudah cukup tinggi, apalagi selama merebaknya wabah ini,” ujar La Nyalla.

Menurutnya, dari hasil studi di 118 negara berpendapatan rendah dan menengah menunjukkan, pandemi membuat penurunan pendapatan nasional bruto. Hal itu signifikan dengan bertambahnya angka stunting.

“Pandemi membuat ekonomi terpuruk. Semua sektor ekonomi dari berbagai jenis usaha nyaris tidak jalan. Pendapatan masyarakat turun drastis berimbas pada penurunan daya beli. Selanjutnya pengaruhnya pada asupan gizi yang minim bagi keluarga. Jadi masyarakat terutama yang berekonomi rendah, tidak memikirkan asupan nutrisi lagi, bagi mereka yang penting ketemu makan,” ucap dia. 

La Nyalla berharap, semua pihak memahami jika efek pandemi bagi stunting anak tidak bisa abaikan. Mantan Ketua Umum PSSI itu meminta penanganan stunting tetap menjadi prioritas di tengah penanganan pandemi.

“Kita khawatir kesibukan pemerintah mengatasi pandemi membuat program-program pencegahan stunting menjadi kendor. Kalau hal itu terjadi tentunya sangat disayangkan sebab stunting ini berkaitan erat dengan masa depan generasi bangsa," ungkapnya.

Lebih lanjut, La Nyalla menyebut bahwa tantangan pencegahan stunting semakin berat mengingat posyandu tidak beroperasi untuk mencegah penularan virus corona.

"Padahal posyandu merupakan garda terdepan dalam memonitor tumbuh kembang anak,” imbuh Senator asal Jawa Timur itu.

La Nyalla menambahkan, stunting harus ditangani dengan kolaborasi multipihak dikarenakan faktor penyebabnya juga multidimensi.

“Stunting memang bukan hanya karena minimnya akses ke makanan yang bergizi, tetapi juga dipengaruhi praktek pengasuhan yang kurang baik, terbatasnya layanan kesehatan, akses air bersih tak tercukupi, sanitasi tak layak, termasuk pembelajaran dini yang kurang berkualitas bagi keluarga,” tuturnya.

Yang paling  penting, kata La Nyalla, perlunya edukasi bagi masyarakat. Edukasi itu perlahan akan mengubah mindset, pola pikir dan juga gaya hidup masyarakat Indonesia.

Pemerintah sendiri menargetkan penurunan stunting hingga 14 persen pada 2024. Stunting merupakan salah satu indikator prioritas dalam SDGs di mana target tahun 2030 adalah terbebas dari malnutrisi.

Reporter : Adiel Manafe
Editor : Nazaruli