• News

  • Peristiwa

Hipertensi Selalu Disertai Risiko Penyakit Lain, Begini Pengobatannya

Hipertensi selalu disertai risiko penyakit lain.
Hello Sehat
Hipertensi selalu disertai risiko penyakit lain.

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Ketua Umum Perhimpunan Dokter Hipertensi Indonesia (PERHI) Dr Tunggul D Situmorang, SpPD-KGH,FINASIM mengatakan, fakta menunjukkan bahwa hipertensi umumnya tidak hanya sendiri, tapi selalu disertai adanya faktor risiko lain atau bersama-sama dengan keadaan atau penyakit lain. Dicontohkan Dr Tunggul, faktor risiko atau penyakit lain diantaranya diabetes dan kolesterol.

Menurutnya pengobatan hipertensi tidak hanya sekedar menurunkan tekanan darah, tapi lebih dari itu, harus mengobati faktor risiko lainnya. Keputusan mengenai pemilihan golongan obat yang akan digunakan juga harus mengacu pada bukti studi klinis yang sudah ada atau Evidence Base Medicine (EBM) yang disimpulkan menjadi Pedoman Baku (Guidelines) atau Konsensus.

Pernyataan ini disampaikan Dr Tunggul pasalnya hipertensi dapat menjadi penyebab risiko kerusakan organ penting seperti otak, jantung, ginjal, mata, pembuluh darah besar (aorta) dan pembuluh darah tepi yang mengakibatkan kecacatan dan kematian.

Di Indonesia, dengan jumlah penduduk 265 juta orang, prevalensi hipertensi meningkat 34,1 persen pada 2018 dibandingkan 2013 sebesar 27,8 persen. Data Indonesian Renal Registry 2017 (IRR) juga menunjukkan bahwa hipertensi menjadi penyebab utama gagal ginjal sehingga menjalani cuci darah (dialisis).

”Pada penderita Penyakit Ginjal Kronik (PGK), dengan atau tanpa diabetes, modifikasi gaya hidup dan obat anti hipertensi dianjurkan bila tekanan darah klinik lebih besar dari 140/90 mmHg. Target TD yang harus dicapai adalah sekitar 130 139 / 70-79 mmHg," kata Dr Tunggul saat Diskusi Media "Kendalikan Hipertensi, Sayangi Ginjalmu" di Jakarta, Kamis (17/10/2019).

Penatalaksanaan secara individual sendiri dapat berbeda-beda untuk setiap individu dan penuh dipertimbangkan, toleransi dan efek terhadap fungsi ginjal, elektrolit dan adanya faktor risiko/penyakit lain yang menyertainya.

"Secara umum disarankan terapi kombinasi sejak awal pengobatan dengan pilihan-pilihan kombinasi penyekat Calcium Channel Blocker (CCB) dan RAS atau diuretik tiazid," kata dia.

Selain itu, masih banyak faktor yang turut menentukan, seperti pengalaman klinis dokter dan hal non-medik lainnya. Banyak penelitian, berbasis metode yang sahih, dilakukan untuk memastikan kemanjuran (efficacy), keamanan (safety) dan tolerabilitas obat antiahipertensi.

Misalnya penggunaan golongan Calcium Channel Blocker dalam hal ini Nifedipine dengan teknologi OROS. baik sebagai pengobatan tunggal atau kombinasi dengan obat anti-hipeitensi lainnya, memberikan pengobatan hipertensi yang efektif, aman dan ditoleransi dengan baik dalam spektrum yang luas bagi pasien hipertensi.

Reporter : Martina Rosa Dwi Lestari
Editor : Sulha Handayani