• News

  • Peristiwa

Akui Sempat "Primitif" Lindungi Masyarakat dari Gempa, Ini Upaya BMKG

Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Dwikorita Karnawati
Cianews
Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Dwikorita Karnawati

ACEH BESAR, NETRALNEWS.COM - Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Dwikorita Karnawati berpesan Indonesia terus berproses dalam meningkatkan sistem peringatan dini gempa dan tsunami. 

"Dahulu kita hanya mempunyai dua sensor di wilayah Aceh dan setelah belajar dari peristiwa tsunami Aceh, kita menambah menjadi 13 sensor," ujar Dwikorita yang pernah mengemban amanat sebagai Rektor UGM.

Pernyataan disampaikan Dwikorita saat disematkan rompi juru keluarga tangguh bencana, disingkat 'Juragan.' Para penerima rompi merepresentasikan pihak-pihak yang dapat berperan untuk mengantarkan keluarga di Indonesia menjadi keluarga tangguh bencana, baru-baru ini di Aceh.

Lebih lanjut Dwikorita mengilustrasikan saat itu pihaknya hanya memiliki dua sensor untuk mendeteksi gempa di enam juta km wilayah Indonesia. Kemudian, para petugas masih menggunakan alat yang sangat sederhana seperti penggaris dan jangkar untuk membuat perhitungan titik episenter gempa. 

"Betapa 'primitifnya' kita melindungi masyarakat," kenang Dwikorita.

Empat tahun setelah peristiwa tsunami Aceh 2004, BMKG berbenah untuk meningkatkan dan membangun sistem peringatan dini gempa dan tsunami. Dwikorita menyampaikan bahwa sebanyak 170 sensor terpasang untuk memantau seluruh wilayah Indonesia. 

Dwikorita lantas berpesan untuk pentingnya membangun kesiapsiagaan bencana. Menurutnya gempa tidak hanya dipicu oleh pergerakan lempeng tetapi juga pergerakan sesar di darat.

Menghadapi hal itu, menurutnya Keluarga Tangguh Bencana (Katana) menjadi penting, bagaimana bisa bersiap sebelum kejadian gempa. Misalnya dengan cek bangunan rumah apakah cukup kuat atau tidak.

Katana sendiri merupakan bagian dari Desa Tangguh Bencana (Destana) dengan sasaran  prioritas masyarakat yang tinggal di daerah rawan bencana. Program yang akan diimplementasikan pada tahun 2020 ini diharapkan mampu untuk meningkatkan keselamatan dan ketangguhan keluarga dalam menghadapi kemungkinan atau potensi bahaya. 

 

Reporter : Martina Rosa Dwi Lestari
Editor : Sesmawati