• News

  • Peristiwa

PA 212 Nyatakan Siaga Satu Sweeping PKI, Netizen: Sweeping Apem aja

Habib Novel Bamukmin
foto: istimewa
Habib Novel Bamukmin

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Ketua Media Center Persaudaraan Alumni (PA) 212 Novel Bamukmin mengimbau kepada umat Islam agar ikut serta dalam memantau pergerakan maupun perkembangan Partai Komunis Indonesia (PKI) di Indonesia.

Menurutnya, kelompok ini masih terus menyebarkan propaganda di media sosial. Selain itu, mereka disebut telah mengaku mendapat dukungan untuk membangkitkan PKI.

Pernyataan Novel langsung banjir komentar di sosial media. Akun Facebook @Priyanka Rara, Kamis (28/5/2020) membagikan tautan dan berkomentar:

Waduh,, udah SIAGA Satu ni kadrun PA 212.. Siap" mau Sweeping PKI..  Ngomong " PKI nya dimana sih..??  Heran dekh Hobi bangett  bikin rusuh..!!

@Laksa Mgl Sdy: Lagi BAPERAN,, CAPER,,

@Andry Naniek Wibisono: Memangnya ada PKI zaman skr.......???? Koplak....

@Wildhanrafael: Sweping apem aj

Sebelumnya dilansir Jitunews.com, Novel mengatakan bahwa kelompok pendukung PKI masih terus menyebarkan propaganda di media sosial. Selain itu, mereka disebut telah mengaku mendapat dukungan untuk membangkitkan PKI.

"Saran saya umat Islam sudah siaga 1 karena rezim ini sudah memberikan isyarat kuat bersahabat dengan paham komunis sehingga harus men-sweeping atribut, pantau medsos serta kegiatan-kegiatan yang mengarah kepada penyebaran dan pengembangan paham komunisme," kata Novel, seperti dikutip dari Tagar pada Kamis (27/5).

Novel menegaskan, ideologi Pancasila merupakan harga mati alias tidak bisa diganggu gugat. Dia juga menyoroti pemerintah yang seakan anti-kritik.

Alasannya, lanjut dia, ulama yang mengkritik pemerintah kerap dijegal. Sementara itu, para penista agama justru dibiarkan berkeliaran.

"Indonesia jelas punya ideologi Pancasila dan rumusan Pancasila adalah produk ulama, karena bernapaskan Islam. Setiap semua sila-silanya dan ini menjadi musuh PKI dan saat ini pemandulan nilai-nilai Pancasila sudah sangat terasa, yaitu maraknya penista agama, pembelaan terhadap penista agama, dan kriminalisasi ulama," ujarnya.

Editor : Taat Ujianto